Di jantung Kota Palembang, suasana pagi di hari kemenangan ini terasa begitu akrab namun sekaligus asing. Dari balik jendela-jendela rumah kayu yang berjejer, aroma tajam cuka pempek beradu dengan gurihnya santan malbi yang baru saja matang. Udara seolah menebal oleh wangi rempah, menusuk hidung dan membangkitkan memori yang telah lama tertidur.
Sambil menggenggam ponsel di tangan, sebuah tanya tiba-tiba muncul di benak: ke mana perginya keriuhan Lebaran masa kecil kita dulu? Mengapa suasana hari raya kini terasa jauh berbeda, meski kita berada di tanah kelahiran yang sama?
Langkah Kaki di Masa Lalu
Dahulu, Lebaran di Palembang sama sekali bukan soal memperbarui status di media sosial. Lebaran adalah sebuah adu cepat mengetuk pintu tetangga. Kita mungkin masih ingat betul bagaimana pagi hari setelah Shalat Id adalah sebuah perlombaan tanpa medali. Kaki-kaki kecil kita melangkah mantap, berlarian dari satu rumah ke rumah lain di lorong-lorong sempit kawasan Plaju hingga Sei-Batang.
Di masa itu, tidak ada janji temu yang diatur lewat grup WhatsApp. Kita cukup datang, mengetuk pintu, bersalaman seerat mungkin, lalu duduk melingkar di atas karpet bersama sanak saudara dan tetangga. Di atas meja, “surga” kuliner Palembang telah menanti untuk memanjakan lidah. Ada Malbi daging sapi dengan cita rasa manis gurih yang khas, Rendang yang pedas nendang, hingga Opor Ayam dengan kuah kuning yang kental dan menggoda selera.
Jangan lupakan pula para “Ratu” meja tamu: deretan kue basah kebanggaan wong Palembang. Mulai dari Lapis Legit yang aromanya harum mentega, Matsuba yang lembut berlapis-lapis, hingga Bolu 8 Jam yang kenyal kecokelatan hasil kesabaran panjang sang pembuat. Tentu saja, piring kecil berisi Pempek dengan siraman cuko hitam yang kental tak pernah absen dari panggung hidangan. Semuanya kita cicipi, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, hingga perut tak lagi sanggup menampung beban kenikmatan itu.
Aroma Kemenangan dalam Amplop
Namun, bagi seorang anak kecil di masa itu, momen yang paling mendebarkan tetaplah saat prosesi bersalaman. Sambil mencium tangan para tetua untuk memohon doa, mata kita sulit untuk tidak melirik ke arah saku baju mereka. Ada harapan besar yang membuncah di sana.
Kita menanti munculnya amplop putih atau hijau yang berisi lembaran uang baru yang masih kaku. Bau uang baru itu—bau khas kertas bank yang segar—adalah aroma kemenangan yang paling nyata. Itulah penghargaan tertinggi bagi kita setelah sebulan penuh belajar menahan lapar dan dahaga.
Keheningan di Balik Layar
Kini, empat puluh tahun berlalu, pemandangan itu telah berganti. Di tahun 2026 ini, silaturahmi seolah terhenti tepat di ujung ibu jari. Jika kita melihat ke sekeliling, pemandangan paradoks sering kali terlihat: orang-orang duduk di sofa yang sama, di dalam ruangan yang sama, menghadap meja dengan hidangan yang sama, namun mata mereka terpaku pada layar smartphone masing-masing.
Fenomena “Individualisme Digital” ini nyata dan menghimpit. Kita seringkali lebih sibuk memotret potongan Kue Matsuba untuk dijadikan konten story daripada mengobrol dengan bibi atau nenek yang sudah berpayah-payah membuatnya. Kita lebih sigap membalas ucapan “Minal Aidin” di grup sekolah daripada mendengarkan petuah kakek yang duduk tepat di sebelah kita.
Dahulu, arti sosial adalah tentang bertemu dan bertukar rasa secara fisik. Sekarang, sosial sering kali hanya berarti “Media Sosial”. Seorang sesepuh sempat berkeluh kesah dengan raut melankolis, “Dulu mah ramai, suara ketawa sampai ke jalan. Sekarang sepi, tangannya gerak-gerak main HP semua. Amplop tetap dicari, tapi ngobrolnya sudah tidak ada.”
Menemukan Kembali Makna “Pulang”
Lebaran memang selalu tentang pulang. Namun, pulang sejatinya bukan sekadar soal raga yang sampai di kampung halaman atau langkah kaki yang menginjak rumah panggung orang tua. Pulang adalah tentang kesediaan untuk meletakkan sejenak dunia digital kita.
Pulang adalah tentang menyesap kuah cuko bersama dalam satu meja, mendengarkan tawa renyah saudara, dan kembali merasakan hangatnya sentuhan tangan saat bersalaman. Mari kita simpan ponsel sejenak. Sebab, legitnya sepotong Lapis Legit jauh lebih nikmat dirasakan langsung di lidah daripada hanya dilihat melalui dinginnya layar ponsel.



