Saat Tenis Meja Menyatukan Pupuk Indonesia Group
BOLA putih melayang, bet beradu, suaranya “tak-tok”. Jangan remehkan bunyi ini. Kadang bunyi itu lebih ampuh untuk menyatukan holding besar ketimbang rapat berjam-jam yang ujung-ujungnya minta coffee break. Beginilah suasana Hall Badminton Pusri, Palembang, pada 18 – 21 Desember 2025 lalu.
Dimana tempat yang biasanya sunyi itu mendadak ramai, bukan karena inspeksi mendadak, bukan pula karena kunjungan pejabat. Penyebabnya cuma satu kok, tak lain pertandingan tenis meja Pupuk Indonesia Cup 2025.
Di sinilah insan Pupuk Indonesia Group berkumpul, mereka tanpa jas, tanpa juga membawa map. Tanpa slide PowerPoint, namun yang dibawa hanya bet, sepatu olahraga, dan satu tekad mulia yaitu “menang kalau bisa, ketawa kalau kalah.”
Di meja tenis itulah jabatan mendadak tidak laku, mau dia manajer, supervisor, atau staf, kalau bolanya nyangkut net ya… tetap kalah. Tidak bisa minta dispensasi, tidak juga bisa lempar jargon, apalagi minta rapat evaluasi. Eh..mikir dulu, dan benar juga ya….!
Bahkan semua perwakilan dari PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Iskandar Muda, dan tuan rumah PT Pusri Palembang sama-sama merasakan itu, semuanya setara dan semuanya punya rasa deg-degan.
Pepatah lama bilang, “Tinggi jabatan, tinggi tanggung jawab.” Di Palembang kemarin, pepatahnya itu menjadi berubah, gini katanya “Tinggi gaya, tinggi kemungkinan blunder.”
Nah, dengan tenis meja ganda ternyata mengajarkan filosofi paling kejam, namun tetap adil, sebab kalau terlalu egois, pasangan bisa celaka. Terlalu nafsu melakukan smes terus, lupa kawan dibelakang, tahu-tahu poin melayang bersama si bola putih.
Begitulah holding memang nggak bisa jalan sendiri, anak perusahaan boleh jago masing-masing, tapi kalau tidak saling baca gerak,bisa bikin capek semua.
Di lapangan itu, filosofi itu terasa menjadi nyata senyata-nyatanya, lantaran ada refleksnya, cepat tapi kurang sabar. Ada yang kalem, tapi presisi. Ada yang salah pukul, lalu nyengir sendiri.
Namun kelebihannya tetap semuanya saling melengkapi, sembaril sekali-kali saling ejek tipis-tipis, versi olahraga dari bonding korporasi.
Sebagai tuan rumah, PT Pusri Palembang tidak pasang tampang bos, justru sebaliknya. Penyelenggaraan rapi, aman, nyaman, tapi suasananya cair. Tamu datang bukan merasa diundang resmi, tapi seperti mampir ke rumah saudara.
Soal hasil? Pusri memang keluar sebagai Juara I, disusul PT Pupuk Kalimantan Timur diposisi kedua dan PT Pupuk Kujang Cikampek di peringkat ketiga. Tapi tidak ada selebrasi berlebihan, dan tidak ada dada dibusungkan berlebihan.
Karena semua paham, juara boleh bergilir, tapi kekompakan jangan sampai gugur.
Malah yang paling jujur di turnamen ini, justru penonton, kok bisa? karena mereka yang jelas tidak main, namun tegangnya setengah mati.
Bahkan melihat bola nanggung gagal dikembalikan, langsung terdengar erangan kecewa, reli panjang, tepuk tangan bisa lebih heboh dari final lomba tujuhbelasan.
Dukungannya yang jelas, juga tanpa proposal, tanpa surat tugas, murni karena rasa memiliki. Inilah engagement yang tidak pernah masuk notulen rapat, tapi efeknya terasa sampai ke ruang kerja.
Kadang yang main sudah pasrah, penonton masih yakin bisa dibalikkan, rasa optimisme versi tribun yang jarang muncul di laporan bulanan.
Olahraga murah, dampak mahal
Tenis meja itu memang termasuk olahraga murah, namun efeknya mahal, bahkan Sekretaris Perusahaan PT Pusri Palembang, Indah Irmayani, menyebut turnamen ini sebagai momentum memperkuat sinergi dan soliditas insan Pupuk Indonesia Group. Lewat olahraga, sportivitas, kebersamaan, dan gaya hidup sehat tumbuh bersamaan.
Memang benar tenis meja itu olahraga murah dan tidak ribet, tapi dampaknya mahal, kata pepatah bilang, “Kecil-kecil cabe rawit.” Meja kecil, bola kecil, tapi efeknya bisa melunakkan ego sebesar holding sebab, kadang yang dibutuhkan itu yaitu organisasi besar bukan program rumit, tapi ruang bermain yang jujur.
Oleh sebab itu dibalik bunyi “Tak-Tok” itu, turnamen ini mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu kekompakan tidak bisa dipaksa lewat jadwal, karena kekompakan itu tumbuh lewat interaksi, lewat tawa, lewat kesalahan kecil yang ditertawakan bersama.
Sementara Holding yang kuat bukan yang paling sering rapat, namun yang paling cepat saling memahami, seperti tenis meja, semua soal timing, apalagi terlalu cepat, salah, terlalu lambat bisa kalah.
Pepatah lama juga bilang, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” namun di versi Palembang kemarin lebih relevan, yaitu main bareng dulu, kompaknya nyusul.
Tanpa terasa empat hari kemudian, pertandingan pun berakhir, hall kembali sepi, bet disimpan alias parkir lagi di rak dan bola itu dikumpulkan, namun bunyi “tak-tok” itu masih bergema di obrolan lintas unit, bahkan saat cara mereka saling menyapa, bahkan terasa juga di kerja sama yang terasa lebih cair.
Tenis Meja Pupuk Indonesia Cup 2025 membuktikan satu hal sederhana, kadang yang dibutuhkan holding besar bukan rapat panjang, tapi meja kecil, pasalnya di atas meja itulah.
Semua belajar menurunkan ego, membaca ritme, dan menghargai pasangan, seperti saat bermain tenis meja, sebab kerja bersama, bukan soal siapa paling keras memukul, namun yang terpenting siapa paling paham kapan harus mengoper. Selamat HUT Pusri Palembang ke-66. (***)