BUMN

Pusri Raih Proper Hijau, Dampak Nyata ke Warga Sekitar

ist

PT Pusri Palembang kembali menarik perhatian setelah berhasil meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada periode 2024–2025.

Penghargaan ini bukan hanya simbol kepatuhan terhadap aturan lingkungan, tetapi juga menunjukkan bagaimana perusahaan mulai bergerak lebih jauh dari sekadar kewajiban menuju praktik bisnis berkelanjutan yang memberi dampak nyata.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Anugerah Lingkungan Proper 2026 yang digelar di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Dalam ajang itu, ribuan perusahaan bersaing menunjukkan kinerja lingkungan mereka.

Tahun ini tercatat 5.476 perusahaan ikut serta, meningkat 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi bisnis.

Pusri berhasil masuk kategori Proper Hijau yang berarti perusahaan tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga melampaui standar yang ditetapkan. Perusahaan dinilai mampu melakukan efisiensi energi, menekan emisi, mengelola limbah secara lebih bertanggung jawab, serta menjalankan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Namun yang menarik bukan hanya soal penghargaan itu sendiri, melainkan bagaimana dampaknya mulai terasa di sekitar lingkungan perusahaan.

Di beberapa daerah industri, keberadaan pabrik sering kali hanya dipandang dari sisi produksi dan aktivitas ekonomi. Tetapi Pusri mencoba memperluas peran itu dengan membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat sekitar.

Melalui berbagai program tanggung jawab sosial, perusahaan mendorong peningkatan kapasitas warga, memperkuat usaha kecil, serta membantu aktivitas sosial yang mendukung kemandirian ekonomi lokal.

Pendekatan ini membuat keberadaan industri tidak lagi terasa seperti entitas yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.

Warga di sekitar kawasan operasional tidak hanya melihat Pusri sebagai pabrik pupuk besar, tetapi juga sebagai pihak yang ikut hadir dalam dinamika sosial mereka.

Kehadiran program pemberdayaan membuat sebagian masyarakat merasakan dampak langsung, terutama dalam peningkatan keterampilan dan peluang usaha yang lebih terbuka.

VP Humas Pusri, Rustam Effendi, menjelaskan pencapaian Proper Hijau ini merupakan hasil dari komitmen perusahaan yang dijalankan secara konsisten.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya fokus pada kinerja produksi, tetapi juga memastikan bahwa setiap aktivitas operasional memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Pusri juga terus mendorong inovasi dalam pengelolaan lingkungan.

Ramah lingkungan

Efisiensi energi menjadi salah satu fokus utama untuk menekan dampak industri terhadap lingkungan.

Di sisi lain, pengelolaan limbah dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern agar tidak menimbulkan beban bagi ekosistem sekitar.

Pendekatan ini menunjukkan  industri pupuk yang identik dengan sektor berat tetap bisa bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan.

Transformasi ini menjadi penting karena tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan semakin meningkat, termasuk dari aspek ESG atau Environmental, Social, and Governance.

Meski demikian, tantangan ke depan tetap tidak ringan sebab industri harus terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan produksi dan tanggung jawab lingkungan.

Ekspektasi masyarakat juga semakin tinggi terhadap transparansi dan dampak nyata dari setiap program yang dijalankan perusahaan.

Dalam konteks itu, Proper Hijau menjadi salah satu indikator  sebuah perusahaan sudah berada di jalur yang benar.

Namun penghargaan ini juga menjadi pengingatkan perjalanan menuju keberlanjutan belum selesai.

Perusahaan perlu terus beradaptasi dengan perubahan regulasi, teknologi, dan kebutuhan sosial masyarakat.

Ke depan, Pusri berkomitmen untuk memperkuat praktik bisnis berkelanjutan dan memperluas dampak sosial yang dihasilkan.

Perusahaan ingin memastikan bahwa pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati secara internal, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Jadi, keberhasilan sebuah industri tidak hanya diukur dari besar kecilnya produksi, tetapi juga dari seberapa jauh kehadirannya mampu memberi nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat. Dalam hal ini, Pusri mencoba menunjukan  industri dan masyarakat bisa tumbuh bersama tanpa harus saling mengorbankan satu sama lain. (***)

To Top