256 Kades Sumsel Masuk Kampus, Bima Arya Ungkap Rahasia Desa Mendunia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 256 kepala desa dari berbagai daerah mengikuti program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan III. Di hadapan para peserta, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya mengungkapkan kunci desa bisa menembus perhatian dunia, yakni inovasi dan kepemimpinan yang memiliki visi besar.
Program yang diinisiasi Kementerian Dalam Negeri RI tersebut berlangsung di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Rabu (4/11/2026).
Bima mengingatkan, inovasi tidak harus lahir dari kota besar atau pemimpin dengan jabatan tinggi. Bahkan, seorang Ketua RT di Indonesia mampu membangun wilayah melalui berbagai inovasi lingkungan hingga menarik perhatian luar negeri.
Ia juga mengangkat Desa Batuan di Bali sebagai contoh keberhasilan pengembangan potensi lokal. Desa tersebut meraih Juara 1 International Learning Village, mengungguli nominasi dari berbagai negara berkat konsep ekosistem pembelajaran berbasis kebudayaan.
“Saya sangat salut, ada Ketua RT dengan berbagai inovasinya membangun wilayah hingga dilirik oleh luar negeri. Kepemimpinan di tingkat desa harus memiliki visi, ideologi, dan prioritas yang jelas,” tegas Bima Arya.
Dua contoh tersebut menjadi gambaran bahwa desa memiliki peluang untuk berkembang melampaui batas wilayahnya.
Potensi lokal, kebudayaan, hingga inovasi lingkungan dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan arah kepemimpinan yang jelas.
Namun, membangun desa tidak cukup hanya dengan gagasan besar. Kepala desa juga harus mampu membaca persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
SementaraGubernur Sumsel Herman Deru mengingatkan para kepala desa agar tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi, tetapi tetap memahami secara mendalam kondisi dan kebutuhan wilayah masing-masing.
Menurutnya persoalan pertanian, ekonomi masyarakat, hingga peluang pengembangan potensi ekonomi desa harus menjadi perhatian utama seorang kepala desa.
“Kepala desa saat ini harus memahami teknologi di tengah derasnya arus informasi. Selain itu, harus paham betul masalah di desanya, apakah itu sektor pertanian, masalah ekonomi, maupun potensi ekonomi yang bisa dikembangkan,” ujar Herman Deru.
Ia mencontohkan Desa Jeremun di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Desa tersebut menjadi salah satu percontohan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Melalui komitmen bersama yang dituangkan dalam Peraturan Desa (Perdes), Desa Jeremun berhasil menjaga wilayahnya tetap bebas dari titik api atau hotspot.
Contoh tersebut menjelaskan bahwa inovasi desa tidak selalu harus berbentuk teknologi modern. Kesepakatan masyarakat, aturan lokal, dan komitmen bersama juga dapat menjadi instrumen penting untuk menyelesaikan persoalan lingkungan.
Program Kepala Desa Masuk Kampus Angkatan III sendiri dirancang untuk memperkuat kapasitas para pemimpin desa dalam menghadapi tantangan pemerintahan modern.
Materi dan pembekalan mencakup penguatan tata kelola pemerintahan desa, percepatan transformasi digital, inovasi pelayanan publik, pengembangan potensi lokal, hingga pembenahan pelayanan berbasis data.
Dengan melibatkan 256 kepala desa dari berbagai daerah, kegiatan ini diharapkan membuka perspektif baru dalam pengelolaan pemerintahan desa.
Terkait soal itu setiap kepala desa mampu membawa pulang pengetahuan dari kampus bahkan, para kepala desa dituntut menerjemahkan gagasan itu menjadi langkah nyata di wilayah masing-masing, mulai dari memperbaiki pelayanan masyarakat, mengembangkan ekonomi lokal, hingga melahirkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi warga. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
