100 Ribu Sultan Muda dan 165 Ribu Penganggur Sumsel
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Melihat TPT, angkatan kerja, dan klaim penciptaan lapangan kerja di Sumatera Selatan
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada dua cerita tentang pasar kerja Sumatera Selatan (Sumsel) yang menarik dibaca secara bersamaan.
Pertama, Pemerintah Provinsi Sumsel terus mendorong program Sultan Muda Sumsel, dengan gagasan mengubah anak muda dari pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator).
Gubernur Sumsel Herman Deru menjelaskan arah program tersebut saat menjadi narasumber Talkshow Interaktif “Sultan Muda Sumatera Selatan” di Panggung Utama Kriya Nusa, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Dalam forum itu, ia menjelaskan sekitar 100 ribu Sultan Muda telah menggerakkan berbagai sektor usaha berbasis teknologi dan inovasi.
Sementara, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel menunjukkan gambaran pasar kerja yang perlu dibaca lebih hati-hati.
Pasalnya pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja Sumsel tercatat 4,66494 juta orang. Penduduk yang bekerja sebanyak 4,49257 juta orang, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 3,69 persen.
Kemudian pada Mei 2026, TPT tercatat 3,60 persen, sekilas, angka tersebut terlihat positif karena TPT turun 0,09 poin dibanding Agustus 2025, namun cerita tidak berhenti pada angka TPT.
TPT Turun, Tetapi Angkatan Kerja Juga Menyusut
Data BPS itu menunjukkan jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 berada di sekitar 4,58757 juta orang. Artinya, dibanding Agustus 2025, jumlah angkatan kerja justru berkurang sekitar 77 ribu orang.
Penduduk yang bekerja juga turun, dari sekitar 4,49257 juta orang pada Agustus 2025 menjadi sekitar 4,42247 juta orang pada Mei 2026. Pada periode yang sama, jumlah pengangguran juga turun. Inilah mengapa angka TPT perlu dibaca bersama indikator ketenagakerjaan lainnya.
TPT merupakan persentase pengangguran terhadap angkatan kerja. Ketika jumlah angkatan kerja berubah, angka TPT juga harus dibaca dalam konteks perubahan tersebut.
Oleh karena itu, penurunan TPT dari 3,69 persen menjadi 3,60 persen tidak dengan sendirinya berarti seluruh penurunan tersebut berasal dari penciptaan lapangan kerja baru. BPS justru mencatat dinamika yang cukup besar pada pasar kerja Sumsel.
Februari ke Mei 2026 Juga Menarik
Gambaran yang lebih dekat terlihat ketika membandingkan Februari dengan Mei 2026. Pada Februari 2026, angkatan kerja Sumsel mencapai sekitar 4,76234 juta orang, sedangkan pada Mei turun menjadi sekitar 4,58757 juta orang.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 175 ribu orang, penduduk bekerja juga turun sekitar 169 ribu orang. Sementara TPT hanya bergerak tipis dari 3,59 persen menjadi 3,60 persen. TPAK atau Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja juga turun 2,82 poin menjadi 68,07 persen.
Angka-angka itu tidak berarti kondisi pasar kerja Sumsel otomatis memburuk, tapi angka itu mengambarkan persoalan ketenagakerjaan tidak cukup dibaca hanya melalui satu indikator bernama TPT.
Lalu, Di Mana Posisi 100 Ribu Sultan Muda?
Melihat angka itu, sehingga di sinilah program Sultan Muda menjadi menarik untuk dilihat lebih jauh.
Pemerintah Provinsi Sumsel menyebutkan sekitar 100 ribu Sultan Muda telah aktif di berbagai sektor usaha berbasis teknologi dan inovasi.
Pemerintah juga menyatakan program tersebut diarahkan untuk mendorong anak muda menjadi pencipta lapangan kerja.
Gagasan tersebut tentu berbeda dengan hanya menciptakan lapangan pekerjaan bagi pencari kerja.
Seorang job seeker mencari pekerjaan.
Seorang job creator diharapkan mampu membangun usaha dan, pada tahap berikutnya, membuka pekerjaan bagi orang lain.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilannya juga semestinya tidak hanya pada berapa banyak orang yang masuk dalam program.
Pertanyaan berikutnya adalah, berapa banyak usaha yang benar-benar berjalan, berapa banyak yang bertahan, dan berapa banyak tenaga kerja yang berhasil diserap?
Pertanyaan tersebut bukan berarti mempertanyakan keberadaan program.
Justru sebaliknya, pertanyaan itu penting agar dampak sebuah program dapat terlihat secara lebih konkret.
Klaim Penurunan TPT Perlu Dilihat dari Periodenya
Dalam keterangan Pemprov Sumsel, program Sultan Muda disebut memberikan dampak nyata terhadap penurunan TPT.
Data BPS memang menunjukkan TPT Sumsel turun dari 3,69 persen pada Agustus 2025 menjadi 3,60 persen pada Mei 2026.
Namun, data yang sama juga menunjukkan perubahan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja. Oleh karena itu, hubungan antara program tertentu dan perubahan TPT membutuhkan data penghubung.
Misalnya, berapa peserta Sultan Muda yang sebelumnya berstatus penganggur?
Berapa yang kemudian membuka usaha?
Berapa usaha yang masih aktif?
Berapa tenaga kerja baru yang diserap?
Dan berapa kontribusinya terhadap perubahan angka pengangguran secara keseluruhan?
Tanpa data tersebut, hubungan antara program dan angka TPT masih lebih tepat disebut sebagai klaim dampak yang perlu dibaca bersama data ketenagakerjaan, bukan sebagai kesimpulan sebab-akibat yang sudah selesai.
Yang Perlu Diukur Bukan Hanya Jumlah Peserta
Program dengan jumlah peserta besar tentu menarik.
Tetapi dalam kebijakan publik, jumlah peserta bukan satu-satunya ukuran dampak.
Sepuluh ribu orang yang benar-benar menjalankan usaha dan menciptakan pekerjaan bisa saja memiliki dampak berbeda dengan seratus ribu orang yang baru terdaftar dalam sebuah ekosistem program.
Oleh karena itu, data yang lebih menarik ke depan justru bukan hanya angka 100 ribu Sultan Muda.
Yang lebih penting adalah data turunannya.
Berapa jumlah usaha baru?
Berapa yang naik kelas?
Berapa yang memperoleh pembiayaan?
Berapa yang masuk pasar digital?
Berapa yang berhasil menembus pasar ekspor?
Dan yang paling relevan dengan pembahasan ketenagakerjaan, yaitu berapa lapangan kerja baru yang tercipta?
Jika data tersebut tersedia secara berkala, publik akan lebih mudah melihat hubungan antara program kewirausahaan dengan perubahan kondisi pasar kerja.
Tantangan Pasar Kerja Tidak Berhenti pada Pengangguran Hari Ini
Ada persoalan lain yang juga tidak kalah penting.
Pasar kerja tidak hanya berbicara mengenai orang yang menganggur.
BPS juga mencatat indikator seperti pekerja formal, pekerja paruh waktu, setengah penganggur, hingga struktur lapangan pekerjaan.
Pada Mei 2026, misalnya, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih menyerap sekitar 2,070 juta orang atau 46,81 persen penduduk bekerja di Sumsel.
Sementara pekerja formal mencapai sekitar 1,695 juta orang atau 38,32 persen.
Artinya, tantangan Sumsel bukan semata-mata bagaimana menurunkan angka pengangguran.
Tantangannya juga bagaimana menciptakan pekerjaan yang lebih produktif, memperluas kesempatan usaha, meningkatkan kualitas pekerja, dan mendorong usaha kecil agar dapat berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap tenaga kerja.
Dari Job Seeker Menjadi Job Creator
Pada persoalan ini, gagasan Sultan Muda sebenarnya bertemu dengan persoalan pasar kerja yang lebih luas.
Jika anak muda tidak hanya diarahkan untuk mencari pekerjaan tetapi juga membangun usaha, maka program kewirausahaan dapat menjadi salah satu bagian dari strategi menghadapi pasar kerja.
Namun, proses dari job seeker menjadi job creator tentu tidak selesai hanya dengan pelatihan atau pendaftaran program.
Ada persoalan modal, akses pasar, kemampuan manajemen, digitalisasi, pendampingan, keberlanjutan usaha hingga kemampuan menyerap tenaga kerja.
Pemprov Sumsel sendiri menyebut fasilitasi program mencakup akses permodalan, teknologi informasi, pemasaran ekspor, sekolah awal ekspor, sertifikasi hingga uji pasar.
Di sinilah ukuran dampak menjadi penting, sebab semakin besar sebuah program, semakin besar pula kebutuhan terhadap data yang dapat menunjukkan hasil akhirnya.
Angka 3,60 Persen Bukan Akhir Cerita
Angka TPT 3,60 persen adalah fakta statistik yang penting.
Tetapi angka itu bukan satu-satunya cerita mengenai pasar kerja Sumsel.
Di belakang angka tersebut ada 4,422 juta orang yang bekerja, sekitar 165 ribu orang yang masih menganggur, jutaan pekerja di berbagai sektor, serta perubahan jumlah angkatan kerja yang cukup besar.
Program Sultan Muda juga merupakan bagian dari cerita tersebut, sebab, tidak tepat jika data TPT digunakan sendirian untuk menyimpulkan program berhasil atau tidak berhasil.
Begitu pula tidak tepat jika angka jumlah peserta program langsung diterjemahkan sebagai jumlah lapangan kerja yang tercipta.
Keduanya membutuhkan data penghubung, pada akhirnya, masyarakat tentunya tidak hanya membutuhkan informasi tentang berapa banyak Sultan Muda yang sudah terdata.
Masyarakat juga akan lebih terbantu, jika mengetahui berapa banyak usaha yang tumbuh dan berapa banyak pekerjaan yang benar-benar tercipta dari ekosistem tersebut.
Sebab ukuran paling penting dari sebuah program penciptaan lapangan kerja bukan hanya seberapa banyak orang yang masuk ke dalam program.
Tetapi seberapa jauh program itu mampu mengubah aktivitas ekonomi menjadi pekerjaan yang nyata, usaha yang bertahan, dan pendapatan yang berkelanjutan.
Dan di situlah angka-angka Sakernas BPS menjadi penting, bukan untuk membantah sebuah program, melainkan untuk membantu masyarakat melihat gambaran pasar kerja Sumsel secara lebih utuh. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
