Kamis, 8 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » JEDA » Apa Arti Cuci Tangan? Mengapa Ungkapan Ini Berarti Lepas Tanggung Jawab

Apa Arti Cuci Tangan? Mengapa Ungkapan Ini Berarti Lepas Tanggung Jawab

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
  • visibility 52
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

WARUNG Bu lek Gon saat siang itu lebih ramai dari hari biasanya. Beberapa warga baru saja pulang dari aktivitas, ada yang menjumput anak sekolah, ada istirahat kerja.

Terlihat juga kopi hitam masih mengepul, meski  gorengan tinggal separuh di piring, sementara obrolan belum juga selesai.

“Ya sudahlah,” kata Pak Bandol sambil menghabiskan kopinya. “Kalau nanti ada yang ribut, saya cuci tangan saja.”

Ucapan itu membuat beberapa orang mengangguk. Seolah kalimat tersebut sudah sangat biasa didengar.

Namun, tidak bagi Emon

Bocah SD bernama Emon, yang baru datang membeli gula itu langsung menoleh.

“Pak… di warung ini ada tempat cuci tangan?”

Pak Bandol mengernyit.

“Ada di belakang. Memangnya kenapa?”

“Soalnya Bapak bilang mau cuci tangan. Saya kira habis kerja memegang yang kotor-kotor harusnya cuci tangan dulu.”

Warung mendadak hening.

Bu lek Gon menutup mulutnya agar tidak tertawa.

Pak Bandol menggeleng pelan dan berkata dengan logat Jawa yang masih kental

“Mon… yang saya maksud bukan itu.”

“Lho? Bukannya cuci tangan ya.. pakai air sama sabun?”

“Kalau yang itu memang benar.”

“Nah, terus?”

Pak Bandol tersenyum.

“Kalau dalam bahasa Indonesia, “cuci tangan” juga punya arti lain.”

Emon makin penasaran.

“Memangnya tangan bisa punya dua arti?”

Tawa kecil mulai terdengar di sudut warung.

Lalu, Pak Bandol mengambil gelas kosong di meja.

“Coba begini. Misalnya kita ramai-ramai memecahkan gelas ini.”

Emon buru-buru menggeleng.

“Jangan, Pak. Itu gelas Bu Lek Gon.”

“Iya… ini cuma contoh.”

“Kalau setelah gelas pecah semua orang bilang, ‘Bukan saya, saya tidak ikut,’ padahal tadi ikut memegang gelas, nah… itu namanya cuci tangan.”

Emon menggaruk kepala.

“Oo… jadi bukan tangannya yang dicuci?”

“Bukan.”

“Yang dicuci… kesalahannya?”

Pak Bandol tertawa.

“Kurang lebih begitu.”

Emon akhirnya ikut tertawa.

“Pantas saja saya bingung. Dari tadi saya mencari sabunnya.”

Tawa di warung pun pecah.

Bu Lek Gon sampai ikut berkomentar.

“Kalau semua masalah selesai cuma dengan sabun, hidup pasti lebih mudah.”

Semua mengangguk sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, Emon yang lugu baru sadar tidak semua kalimat harus dimaknai apa adanya. Ada ungkapan yang sengaja diciptakan agar bahasa terasa lebih hidup dan mudah dipahami.

Apa Arti Ungkapan “Cuci Tangan”?

Dalam bahasa Indonesia, cuci tangan merupakan ungkapan yang berarti melepaskan diri dari tanggung jawab atau berusaha menghindari kesalahan ketika suatu persoalan terjadi.

Ungkapan ini termasuk bahasa kiasan, sehingga maknanya tidak sama dengan arti kata per katanya.

Contoh penggunaan:

  • Setelah proyek itu bermasalah, beberapa orang memilih cuci tangan dan menyalahkan pihak lain.
  • Seorang pemimpin seharusnya tidak cuci tangan ketika menghadapi persoalan.

Mengapa Disebut Cuci Tangan?

Makna kiasan ini telah dikenal sejak lama. Salah satu kisah yang paling sering dikaitkan dengan ungkapan tersebut adalah tindakan seorang pejabat Romawi, Pontius Pilatus, yang secara simbolis mencuci tangannya sebagai tanda bahwa dirinya tidak ingin memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Seiring waktu, tindakan simbolis itu berkembang menjadi ungkapan yang digunakan untuk menyebut orang yang berusaha membebaskan diri dari tanggung jawab. Dalam bahasa Indonesia, makna tersebut tetap bertahan hingga sekarang.

Oleh karena itu, mencuci tangan dengan sabun adalah kebiasaan yang baik karena dapat menjaga kebersihan dan kesehatan.

Namun, “cuci tangan” dalam arti kiasan justru menjadi pengingat agar seseorang tidak lari dari tanggung jawab.

Sebab, tangan yang kotor memang bisa dibersihkan dengan air.

Tetapi tanggung jawab tidak akan pernah hilang hanya karena seseorang berkata, “Saya tidak tahu apa-apa.” Begitulah kira-kira belajar Bahasa Indonesia hari ini.(***)

 

Disclaimer: Cerita pada bagian awal artikel merupakan karya fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan dan edukasi. Tokoh, nama, dialog, serta peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis. Adapun penjelasan mengenai makna ungkapan disusun berdasarkan penggunaan dalam bahasa Indonesia dan referensi sejarah yang umum dikenal. gimana ini?

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • OKI Perkuat Integritas Internal

    OKI Perkuat Integritas Internal

    • calendar_month Kamis, 2 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 844
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, OKI – Pemkab OKI membekali para pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (JPT) dengan budaya integritas anti korupsi guna mewujudkan pemerintahan yang bersih, profesional, dan berintegritas. Untuk merealisasikannya Pemkab OKI menggandeng unsur Kejaksaan dan Kepolisian serta Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) Pemkab OKI. “Pemkab OKI terus meningkatkan kapasitas  dalam mempraktikkan cara kerja birokrasi yang bersih, profesional, […]

  • Rumuskan Isu Strategis Pembangunan

    Rumuskan Isu Strategis Pembangunan

    • calendar_month Sabtu, 10 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.057
    • 0Komentar

    PERCEPATAN pencapaian target pembangunan dirumuskan isu strategis pembangunan Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2022, dengan melakukan peningkatan ketahanan ekonomi rakyat, penurunan angka kemiskinan, peningkatan kualitas SDM, penguatan dukungan infrastruktur untuk perekonomian, pemantapan kinerja aparatur dan birokrasi. Hal itu disampaikan Bupati Musi Banyuasin Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA saat membuka acara Musrenbang Jum’at (9/04/2021). […]

  • Tertipu Sembako Murah Ratusan Juta, Lapor Polisi

    Tertipu Sembako Murah Ratusan Juta, Lapor Polisi

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 800
    • 0Komentar

    BENAR– benar  tidak punya kemanusiaan, selagi orang kesulitan ekonomi ditengah Pademi COVID-19,  sebaliknya ada oknum yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan dengan cara menipu dengan menawarkan sembako murah. Pelaku menawarkan sembako murah ke masyarakat dengan harga Rp100 per paket. Tiap paket berisikan beras 10 kg, minyak goreng 2 liter, tepung terigu satu kilogram, dan mie instan […]

  • Akibat Sebarkan Berita Bohong Seorang Aktivitas Ditangkap, Mari Gunakan Medsos Secara Benar

    Akibat Sebarkan Berita Bohong Seorang Aktivitas Ditangkap, Mari Gunakan Medsos Secara Benar

    • calendar_month Kamis, 10 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 977
    • 0Komentar

    SATUAN Tugas Siber Ops Nemangkawi berhasil meringkus aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berinisial EKM, (38) terkait menyebarkan informasi bohong dan provokatif melalui akun Facebook Manuel Metemko. Kepala Satgas Humas Ops Nemangkawi, Kombes Pol. Iqbal Alqudussy, mengatakan EKM (38) ditangkap di kawasan Jalan Perikanan Darat, Kelurahan Kelapa V, Merauke pada Rabu malam, (09/06/21) “Penangkapan saudara […]

  • Pemilik Rumah Produksi Watchdoc Ditangkap Polisi, Apa Alasannya ?

    Pemilik Rumah Produksi Watchdoc Ditangkap Polisi, Apa Alasannya ?

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 723
    • 0Komentar

    PEMILIK Rumah Produksi rumah produksi Watchdoc, Dandhy Dwi Laksono ditangkap polisi dari Polda Metro Jaya pada Kamis (26/9) malam. Kabar ini dibenarkan oleh ini Direktur YLBHI, Asfinawati. “Ya benar,” ujar Asfinawati saat dilaporkan CNNIndonesia.com. Manta Jurnalis itu disebut dijemput empat orang petugas kepolisian sekitar pukul 23.00 WIB. Berdasar surat penangkapan yang diterima CNNIndonesia.com, Dandhy ditangkap karena diduga melanggar Pasal […]

  • Layar Tak Lagi Aman, Anak Terpapar Konten Seksual

    Layar Tak Lagi Aman, Anak Terpapar Konten Seksual

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 29
    • 0Komentar

    SENIN pagi kemarin, di sebuah forum literasi digital di Jakarta, para narasumber kembali menyoroti satu hal yang makin sulit diabaikan, anak-anak kini tumbuh di tengah layar yang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Anak-anak sudah terbiasa memegang ponsel bahkan sebelum benar-benar memulai aktivitas hari mereka. Mereka membuka layar lebih dulu sebelum membuka percakapan dengan orang di […]

expand_less
WordPress Archive Give Boost – Digital Marketing Agency Elementor Template Kit Give – Braintree Gateway Give – CCAvenue Gateway Give – Constant Contact Give – ConvertKit Give – Currency Switcher Give – Email Reports Give – Fee Recovery Give – Form Field Manager Give – Gift Aid