Apa Arti Cuci Tangan? Mengapa Ungkapan Ini Berarti Lepas Tanggung Jawab
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi /AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WARUNG Bu lek Gon saat siang itu lebih ramai dari hari biasanya. Beberapa warga baru saja pulang dari aktivitas, ada yang menjumput anak sekolah, ada istirahat kerja.
Terlihat juga kopi hitam masih mengepul, meski gorengan tinggal separuh di piring, sementara obrolan belum juga selesai.
“Ya sudahlah,” kata Pak Bandol sambil menghabiskan kopinya. “Kalau nanti ada yang ribut, saya cuci tangan saja.”
Ucapan itu membuat beberapa orang mengangguk. Seolah kalimat tersebut sudah sangat biasa didengar.
Namun, tidak bagi Emon
Bocah SD bernama Emon, yang baru datang membeli gula itu langsung menoleh.
“Pak… di warung ini ada tempat cuci tangan?”
Pak Bandol mengernyit.
“Ada di belakang. Memangnya kenapa?”
“Soalnya Bapak bilang mau cuci tangan. Saya kira habis kerja memegang yang kotor-kotor harusnya cuci tangan dulu.”
Warung mendadak hening.
Bu lek Gon menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Pak Bandol menggeleng pelan dan berkata dengan logat Jawa yang masih kental
“Mon… yang saya maksud bukan itu.”
“Lho? Bukannya cuci tangan ya.. pakai air sama sabun?”
“Kalau yang itu memang benar.”
“Nah, terus?”
Pak Bandol tersenyum.
“Kalau dalam bahasa Indonesia, “cuci tangan” juga punya arti lain.”
Emon makin penasaran.
“Memangnya tangan bisa punya dua arti?”
Tawa kecil mulai terdengar di sudut warung.
Lalu, Pak Bandol mengambil gelas kosong di meja.
“Coba begini. Misalnya kita ramai-ramai memecahkan gelas ini.”
Emon buru-buru menggeleng.
“Jangan, Pak. Itu gelas Bu Lek Gon.”
“Iya… ini cuma contoh.”
“Kalau setelah gelas pecah semua orang bilang, ‘Bukan saya, saya tidak ikut,’ padahal tadi ikut memegang gelas, nah… itu namanya cuci tangan.”
Emon menggaruk kepala.
“Oo… jadi bukan tangannya yang dicuci?”
“Bukan.”
“Yang dicuci… kesalahannya?”
Pak Bandol tertawa.
“Kurang lebih begitu.”
Emon akhirnya ikut tertawa.
“Pantas saja saya bingung. Dari tadi saya mencari sabunnya.”
Tawa di warung pun pecah.
Bu Lek Gon sampai ikut berkomentar.
“Kalau semua masalah selesai cuma dengan sabun, hidup pasti lebih mudah.”
Semua mengangguk sambil tersenyum.
Dalam perjalanan pulang, Emon yang lugu baru sadar tidak semua kalimat harus dimaknai apa adanya. Ada ungkapan yang sengaja diciptakan agar bahasa terasa lebih hidup dan mudah dipahami.
Apa Arti Ungkapan “Cuci Tangan”?
Dalam bahasa Indonesia, cuci tangan merupakan ungkapan yang berarti melepaskan diri dari tanggung jawab atau berusaha menghindari kesalahan ketika suatu persoalan terjadi.
Ungkapan ini termasuk bahasa kiasan, sehingga maknanya tidak sama dengan arti kata per katanya.
Contoh penggunaan:
- Setelah proyek itu bermasalah, beberapa orang memilih cuci tangan dan menyalahkan pihak lain.
- Seorang pemimpin seharusnya tidak cuci tangan ketika menghadapi persoalan.
Mengapa Disebut Cuci Tangan?
Makna kiasan ini telah dikenal sejak lama. Salah satu kisah yang paling sering dikaitkan dengan ungkapan tersebut adalah tindakan seorang pejabat Romawi, Pontius Pilatus, yang secara simbolis mencuci tangannya sebagai tanda bahwa dirinya tidak ingin memikul tanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Seiring waktu, tindakan simbolis itu berkembang menjadi ungkapan yang digunakan untuk menyebut orang yang berusaha membebaskan diri dari tanggung jawab. Dalam bahasa Indonesia, makna tersebut tetap bertahan hingga sekarang.
Oleh karena itu, mencuci tangan dengan sabun adalah kebiasaan yang baik karena dapat menjaga kebersihan dan kesehatan.
Namun, “cuci tangan” dalam arti kiasan justru menjadi pengingat agar seseorang tidak lari dari tanggung jawab.
Sebab, tangan yang kotor memang bisa dibersihkan dengan air.
Tetapi tanggung jawab tidak akan pernah hilang hanya karena seseorang berkata, “Saya tidak tahu apa-apa.” Begitulah kira-kira belajar Bahasa Indonesia hari ini.(***)
Disclaimer: Cerita pada bagian awal artikel merupakan karya fiksi yang dibuat untuk tujuan hiburan dan edukasi. Tokoh, nama, dialog, serta peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis. Adapun penjelasan mengenai makna ungkapan disusun berdasarkan penggunaan dalam bahasa Indonesia dan referensi sejarah yang umum dikenal. gimana ini?
- Penulis: Irwan Wahyudi
