Ekonomi

Bazar Murah vs Harga Pasar: Siapa Lebih Menang di Ramadan Ini?

ist

PERTENGAHAN Ramadan, satu pertanyaan sederhana mulai sering terdengar di obrolan warga Palembang: lebih hemat belanja di pasar seperti biasa, atau berburu kebutuhan di bazar murah?

Jawabannya pelan-pelan mulai terlihat dari keramaian di halaman Kantor Setda Kota Palembang, Rabu (4/3/2026). Sejak pagi, warga sudah berdatangan. Bukan sekadar jalan-jalan, tapi membawa misi yang cukup serius—menekan pengeluaran di tengah harga bahan pokok yang cenderung merangkak naik saat Ramadan.

Pemerintah Kota Palembang melalui Dharma Wanita Persatuan (DWP) kembali menggelar Bazar Ramadan 2026. Kegiatan ini memang rutin digelar tiap tahun, tapi suasana kali ini terasa berbeda. Antusiasme warga terlihat lebih tinggi, seolah bazar bukan lagi pilihan alternatif, melainkan “strategi belanja”.

Di beberapa stan, komoditas seperti minyak goreng, gula, hingga beras jadi incaran utama. Warga tampak membandingkan harga, menghitung cepat, lalu memutuskan membeli dalam jumlah lebih dari biasanya.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ramadan identik dengan meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Dari dapur yang lebih sering “ngebul”, sampai tradisi berbagi yang ikut menambah daftar belanja. Dalam situasi seperti ini, selisih harga seribu-dua ribu rupiah pun terasa berarti.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang membuka langsung kegiatan tersebut menegaskan bahwa bazar ini memang dirancang bukan sekadar seremoni tahunan. Ia melihat bazar sebagai langkah konkret menjaga daya beli masyarakat.

“Ramadan mengajarkan kepedulian. Bazar ini jadi bentuk nyata agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan tanpa terbebani harga yang meningkat,” ujarnya.

Jika ditarik ke realita di lapangan, pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Bazar memang menawarkan harga yang relatif lebih terjangkau dibanding harga pasar pada umumnya. Selisihnya mungkin tidak selalu besar, tapi cukup terasa jika dikumpulkan dalam satu keranjang belanja.

Bagi sebagian warga, bazar seperti ini bahkan sudah masuk daftar “agenda wajib Ramadan”. Selain harga yang lebih bersahabat, suasana belanja juga terasa lebih santai. Tidak ada hiruk-pikuk tawar-menawar panjang seperti di pasar tradisional, tapi tetap ada interaksi hangat antar pembeli dan penjual.

Menariknya, bazar ini tidak hanya menguntungkan pembeli. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga ikut merasakan dampaknya. Produk lokal yang dijajakan mendapat perhatian lebih, bahkan beberapa di antaranya laris dalam waktu singkat.

Di sinilah letak “kemenangan” lain dari bazar Ramadan. Bukan hanya soal harga murah, tapi juga membuka ruang perputaran ekonomi yang lebih luas. Warga bisa berhemat, sementara pelaku usaha tetap mendapat peluang.

Ketua DWP Kota Palembang, Ida Royani, menyebut kegiatan ini sudah memasuki tahun ketiga. Ia menekankan bahwa bazar bukan hanya soal transaksi jual beli, tapi juga upaya menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk membantu warga mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus memperkuat peran perempuan dalam mendorong ekonomi keluarga.

Jika dibandingkan secara sederhana, pasar dan bazar sebenarnya punya peran masing-masing. Pasar tetap jadi tempat utama untuk kebutuhan harian. Namun saat harga mulai bergerak naik, bazar hadir sebagai “penyeimbang”.

Dan dari keramaian yang terlihat, jawabannya mulai jelas. Bagi warga yang ingin lebih hemat di tengah Ramadan, bazar murah tampaknya sedang unggul—setidaknya untuk saat ini.

Pada akhirnya, pilihan kembali ke masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, ketika kebutuhan meningkat dan harga ikut naik, siapa pun akan mencari celah untuk berhemat. Dan di Palembang, celah itu sementara waktu bernama bazar Ramadan. (***)

To Top