SABTU pagi kemarin, Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo bukan sekadar tempat ibadah suasananya berubah menjadi lautan manusia, datang dan membawa satu tujuan yaitu itu pulang dengan fitrah.
Sejak matahari belum sepenuhnya naik, jamaah sudah berdatangan dari berbagai penjuru Palembang, ada yang berjalan kaki, ada yang berboncengan, ada pula yang datang bersama keluarga besar.
Langkah mereka mungkin berbeda-beda, tapi niatnya sama menuntaskan rindu pada suasana Idul Fitri yang hangat dan penuh makna.
Di pelataran masjid, pemandangan terasa begitu hidup, anak-anak dengan baju baru berlarian kecil, sesekali ditegur orang tua agar tetap rapi.
Para orang tua tersenyum, sebagian sibuk bersalaman, sebagian lagi menatap sekeliling seolah memastikan momen ini benar-benar terjadi, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Saf demi saf pun terisi, dan tak ada juga sekat yang benar-benar terasa, semuanya berdiri sejajar, bahu membahu, larut dalam gema takbir yang menggulung seperti ombak pelan di awal, lalu menguat, menyentuh sisi hati yang paling dalam.
Di tengah keramaian itu, ada banyak cerita yang tak terdengar, tapi bisa dirasakan, mungkin ada yang datang dengan beban hidup yang belum selesai.
Mungkin ada yang masih menyimpan lelah dari perjalanan panjang kehidupan. Namun pagi itu, semua seolah diberi ruang untuk jeda untuk menenangkan diri, untuk memaafkan, dan untuk kembali memulai.
Sholat Idul Fitri pun berlangsung khidmat, setiap gerakan terasa lebih dalam, setiap doa terasa lebih dekat.
Saat khutbah disampaikan, jamaah mendengarkan dengan tenang, sebuah momen refleksi setelah sebulan penuh menahan diri di bulan Ramadan.
Di antara ribuan jamaah itu, tampak pula Herman Deru bersama Wakil Gubernur H. Cik Ujang yang turut melaksanakan sholat bersama masyarakat. Namun pagi itu, kehadiran mereka melebur begitu saja. Tak ada jarak yang terasa, karena semua berada dalam satu barisan yang sama.
Dalam pesannya, Herman Deru mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mempererat persaudaraan dan memperkuat silaturahmi.
Sebuah ajakan yang sederhana, tapi terasa pas di tengah kehidupan yang kadang membuat orang lupa untuk saling menyapa, apalagi saling memaafkan.
Usai sholat, suasana berubah menjadi lautan senyum. Jamaah saling bersalaman, berpelukan, dan bertukar ucapan maaf. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, sejenis rasa lega yang hanya datang setelah kata maaf, benar-benar diucapkan dengan tulus.
Di sudut-sudut masjid, aktivitas kecil terus berlangsung. Pedagang menjajakan dagangan, anak-anak kembali riang, dan keluarga-keluarga mulai bersiap melanjutkan hari dengan agenda silaturahmi.
Idul Fitri di Masjid Agung pagi itu bukan hanya tentang keramaian. Ia adalah tentang pertemuan antara harapan dan kenyataan, antara kesalahan dan keikhlasan, antara manusia dengan dirinya sendiri.
Seperti lautan, manusia yang datang membawa berbagai cerita akhirnya menyatu dalam satu gelombang, gelombang maaf.
Dan dari sanalah, semuanya dimulai kembali. (***)