Sumsel

MBG, Piring Anak Sekolah & Harga Pangan Sumsel

ist

SABTU di salah satu Hotel di Kota Palembang, ballroom penuh dengan ribuan peserta, suasana terlihat hangat, namun  bukan karena hanya AC-nya sejuk. Semua pun mata tertuju pada Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Sekilas, terlihat seperti agenda rutin anak-anak sekolah mendapat makanan bergizi. Namun jika dicermati lebih jauh, diskusinya menyentuh hal yang lebih luas, yaitu bagaimana program ini bisa membantu menjaga harga pangan tetap stabil.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dalam rapat konsolidasi bersama Badan Gizi Nasional dan para mitra MBG se-Sumsel, menekankan pentingnya kemandirian pangan daerah. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak dalam menyukseskan program peningkatan gizi masyarakat, seraya menegaskan keberhasilan menekan angka stunting tidak lepas dari kemampuan daerah menyediakan bahan pangan sendiri.

Sumsel disebut sebagai provinsi dengan angka stunting terendah kedua di Indonesia.

Prestasi ini tentu membanggakan, namun dibalik angka tersebut tersimpan potensi ekonomi yang jarang disorot. Program gizi yang terlihat sederhana ternyata bisa menjadi instrumen penguat ekonomi jika bahan bakunya berasal dari produksi lokal.

Jika sebagian besar bahan baku utama MBG, seperti beras dari Ogan Ilir, sayur dari Lahat, telur dari Banyuasin diserap dari petani lokal, uang program tidak keluar daerah, melainkan berputar di dalam ekosistem ekonomi Sumsel. Petani mendapat kepastian pasar, produksi dapat direncanakan lebih baik, dan harga pangan cenderung lebih stabil. Dengan begitu, MBG tidak hanya memberi gizi, tetapi juga ikut menahan gejolak harga.

Inflasi pangan selama ini menjadi masalah nyata bagi masyarakat. Kenaikan harga cabai, bawang, atau telur langsung terasa di dapur rumah tangga. Di sinilah relevansi Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).

Jika GSMP memperkuat sisi produksi dari rumah tangga, MBG memperkuat sisi penyerapan dari program pemerintah. Satu menanam, satu menyerap. Dengan kombinasi ini, fluktuasi harga bisa lebih terkendali.

Wakil Ketua Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, menyebutkan para mitra MBG sebagai ‘pahlawan gizi’

Sebab, kehadiran ribuan peserta menunjukkan program ini melibatkan jaringan luas, dari yayasan, pengelola dapur, hingga distribusi ke sekolah-sekolah. Semua pihak bersatu bukan hanya untuk memastikan anak-anak kenyang, tapi juga untuk menjaga kestabilan pasar pangan lokal.

Meski begitu, potensi MBG sebagai penahan harga tidak otomatis tercapai. Efektivitasnya tergantung pada tata kelola, transparansi pengadaan, komitmen menyerap bahan baku lokal, dan pengawasan distribusi.

Langkah praktis

Tanpa itu, MBG bisa jadi hanya sekadar belanja rutin tanpa dampak signifikan terhadap harga. Disamping itu, faktor eksternal seperti cuaca, distribusi logistik, dan dinamika pasar nasional tetap memengaruhi harga pangan.

Agar manfaat sosial dan ekonominya maksimal, maka pemerintah provinsi bisa mengambil beberapa langkah praktis. Pertama, menetapkan target serapan bahan baku lokal yang jelas. Kedua, memperkuat kemitraan dengan kelompok tani, peternak, dan koperasi agar rantai pasok lebih pendek dan efisien.

Ketiga, melakukan pemetaan komoditas unggulan per kabupaten agar kebutuhan MBG sesuai dengan kekuatan produksi masing-masing wilayah.

Evaluasi berkala dari sisi gizi, harga pasar, dan pendapatan produsen lokal juga penting agar program tetap adaptif.

Oleh sebab itu menjaga gizi anak-anak dan menjaga stabilitas harga pangan bukan dua agenda yang terpisah. Keduanya saling terkait melalui rantai produksi, distribusi, dan kebijakan yang sama. Jika dirancang dengan baik, MBG bisa menjadi program sosial sekaligus instrumen penguatan ekonomi daerah. MBG bukan hanya soal isi piring di ruang kelas. Disamping itu berpotensi menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi Sumatera Selatan.

Anak-anak kenyang, petani mendapat kepastian, dan pasar pangan tetap stabil, sehingga manfaat yang terasa hingga ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh Sumatera Selatan. (***)

To Top