Pendidikan

Palembang Kenalkan Model Edukasi Publik Kolaboratif untuk SD

ist

PEMERINTAH Kota Palembang meluncurkan model inovatif kolaborasi antara pemerintah dan universitas untuk pendidikan dasar. Rumah Belajar Wong Kito kini berfungsi sebagai pusat inovasi pendidikan bagi pelajar kelas VI Sekolah Dasar sekaligus tempat mahasiswa Universitas PGRI Palembang mengembangkan kompetensi mengajar secara langsung.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Palembang, Adi Zahri, mengatakan program ini menekankan kolaborasi aktif antara pemerintah dan kampus. “Kami ingin menciptakan model pendidikan publik berkelanjutan, menggabungkan fasilitas belajar, guru profesional, dan program literasi anak,” ujarnya, Selasa (10/2).

Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi pelajar SD menjelang ujian akhir sekaligus memberi mahasiswa pengalaman praktik mengajar. Rumah Belajar Wong Kito menyediakan ruang belajar ramah anak, koleksi buku bacaan, dan fasilitas interaktif yang mendukung proses pembelajaran.

Universitas PGRI Palembang berperan menyiapkan modul pembelajaran, menetapkan standar kurikulum, dan menurunkan calon guru terbaik untuk mendampingi pelajar. Rektor Universitas PGRI, Assoc. Prof. Dr. H. Bukman Lian, M.M., M.Si., mengatakan, “Kolaborasi ini memungkinkan mahasiswa mengasah kemampuan mengajar sekaligus memastikan anak-anak menerima pelajaran berkualitas.”

Bimbel berlangsung setiap Selasa dan Kamis. Anak-anak mengikuti sesi belajar interaktif dengan guru profesional, sementara mahasiswa memantau dan menyesuaikan materi sesuai kebutuhan. Sistem ini memadukan teori dan praktik sehingga mendukung literasi, numerasi, dan keterampilan dasar pelajar SD.

Pemerintah Kota Palembang menargetkan ratusan pelajar mengikuti program tahap awal. Evaluasi diterapkan secara berkala untuk memastikan efektivitas metode pembelajaran, kualitas guru, dan kepuasan peserta serta orang tua. Pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi Pemkot Palembang atau langsung di Rumah Aspirasi tanpa biaya tambahan.

Adi Zahri menekankan bahwa program ini menjadi contoh inovasi layanan publik berbasis pendidikan. Rumah Belajar Wong Kito tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengaduan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan pendidikan yang dapat direplikasi di kota lain.

Bukman Lian menambahkan bahwa Palembang menunjukkan bagaimana kota menengah bisa menjadi pionir inovasi pendidikan. Dengan menggabungkan sumber daya pemerintah dan universitas, Palembang menciptakan ekosistem pendidikan inklusif dan merata untuk semua pelajar SD.

Program ini juga bertujuan mengurangi kesenjangan pendidikan, memberikan akses belajar setara bagi anak-anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi. Orang tua dapat menyampaikan masukan melalui mekanisme pengaduan dan evaluasi yang transparan.

Selain itu, anak-anak mendapatkan manfaat tambahan melalui taman bacaan yang tersedia di rumah belajar. Mereka dapat mengakses buku, meningkatkan minat baca, dan belajar di lingkungan yang aman dan nyaman.

Peluncuran program ini menegaskan strategi pemerintah kota dalam mengintegrasikan pendidikan publik dengan pengembangan kapasitas mahasiswa. Model kolaboratif ini bisa menjadi contoh bagi kota lain dalam menciptakan ruang inovasi pendidikan publik.

Satu kalimat storytelling tipis di akhir Rumah Belajar Wong Kito kini menjadi simbol kolaborasi inovatif pemerintah dan kampus dalam menyediakan pendidikan berkualitas dan merata bagi anak-anak Palembang. (***)

To Top