JAWA Timur dan Lampung mendorong produksi gula nasional sepanjang 2025. Kementerian Pertanian mencatat total produksi gula mencapai 2,67 juta ton, atau 97,5% dari target nasional, mendekati sasaran swasembada gula.
Kementerian menunjukkan bahwa petani memanen 39,07 juta ton tebu sepanjang tahun, dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare, melebihi target Rencana Strategis Perkebunan. Petani meningkatkan hasil panen dengan menggunakan varietas unggul, mengikuti program bongkar ratoon, dan menerima pendampingan teknis intensif dari pemerintah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah akan terus memperkuat produksi tebu untuk mencapai target swasembada gula 3,27 juta ton pada 2027. “Modernisasi pabrik dan peningkatan produktivitas petani memastikan target nasional tercapai,” ujarnya, kemarin.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan capaian 2025 meningkat karena pemerintah memperkuat sistem perbenihan nasional, merevitalisasi pabrik gula, dan menyediakan dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Khusus Tebu. Program ini membantu petani meningkatkan efisiensi produksi dan memaksimalkan hasil panen.
Secara regional, Jawa Timur menghasilkan lebih dari 40% tebu nasional. Lampung menyusul sebagai kontributor besar, diikuti Jawa Tengah. Pemerintah juga memperluas lahan tebu di Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ekspansi ini meningkatkan kapasitas produksi, mendukung ketahanan pangan nasional, dan memperkuat distribusi gula ke seluruh Indonesia.
Efektif
Pemerintah menyediakan KUR Khusus Tebu, alat pertanian, dan pendampingan teknis untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya. Data menunjukkan petani di berbagai wilayah melaporkan hasil panen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan program berjalan efektif.
Kementerian memastikan sistem perbenihan nasional menyediakan varietas unggul secara merata. Pemerintah juga mempercepat modernisasi pabrik gula untuk meningkatkan efisiensi pengolahan tebu dan kapasitas produksi gula.
Meski menghadapi perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan tantangan efisiensi industri, pemerintah meningkatkan hasil produksi secara signifikan. Produksi tebu 2025 tumbuh sekitar 5% dibandingkan 2024, sementara produksi gula hampir mencapai target nasional.
Distribusi produksi menunjukkan efektivitas strategi regional. Jawa Timur dan Lampung tetap menjadi kontributor utama, sementara ekspansi di wilayah lain memperkuat jaringan produksi tebu nasional. Data ini membantu pemerintah merencanakan pengembangan industri gula dan ekspansi lahan tebu untuk tahun berikutnya.
Pemerintah memastikan seluruh intervensi berjalan terintegrasi: menyediakan benih unggul, mendampingi petani, dan memodernisasi pabrik. Upaya ini memastikan Indonesia bergerak menuju swasembada gula, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Selama 2025, pemerintah memantau perkembangan secara berkala. Petani di Jawa Timur, Lampung, dan NTT melaporkan hasil panen melimpah, menunjukkan keberhasilan strategi hulu-hilir. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas produksi melalui perluasan lahan, modernisasi pabrik, dan penguatan perbenihan agar Indonesia memenuhi kebutuhan gula domestik tanpa impor.
Data ini menegaskan peran regional dan dukungan pemerintah dalam mendorong target nasional. Jawa Timur dan Lampung tetap memimpin produksi, sementara pengembangan wilayah lain memperkuat jaringan tebu di seluruh Indonesia, memastikan pasokan gula yang lebih merata untuk masyarakat. (***)