SUMATERA Selatan memiliki ribuan sungai dan lahan pertanian luas, tetapi pertanyaannya kini, apakah potensi air yang melimpah cukup menjamin ketahanan pangan masyarakatnya? Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, H. Edward Candra, membuka Rapat Teknis Koordinasi dan Sinkronisasi Program Kegiatan Tahun Anggaran 2027 bidang sumber daya air, Rabu (4/2/2026), di Ruang Rapat Musi, Lantai 3, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumsel, untuk membahas hal itu secara serius.
Edward memimpin rapat yang dihadiri Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari kabupaten/kota seluruh Sumsel. Ia mewakili Gubernur H. Herman Deru, yang memberi perhatian besar terhadap pengelolaan sumber daya air.
Forum ini bertujuan menyusun perencanaan program dan kegiatan yang selaras, terkoordinasi, dan berkelanjutan, memastikan setiap tetes air digunakan secara optimal.
“Air bukan sekadar mengalir. Air harus dikelola agar membawa kesejahteraan bagi semua,” tegas Edward. Ia menekankan bahwa pengelolaan air harus berkualitas, adil, dan bisa dimanfaatkan semua pihak, mulai dari petani hingga rumah tangga.
Sumsel memiliki lebih dari 200 sungai besar dan ratusan anak sungai, yang membentang dari Pegunungan Barisan hingga muara Sungai Musi. Potensi ini mampu mengairi lebih dari 500 ribu hektar lahan pertanian, menjadikannya salah satu lumbung beras nasional. Namun, Edward menegaskan, potensi besar ini tetap harus dikelola agar tidak mubazir dan tidak memicu bencana saat musim hujan.
Ketahanan air langsung terkait ketahanan pangan. Jika air tersalurkan baik, produksi beras tetap stabil, harga pangan aman, dan petani bisa produktif sepanjang tahun. Untuk itu, provinsi dan kabupaten/kota mengkoordinasikan pembangunan irigasi, distribusi air bersih, dan pengembangan waduk baru. Dinas PSDA juga menyiapkan sistem pemantauan kualitas air agar seluruh air yang digunakan tetap aman dan sehat.
Misalnya sungai-sungai Sumsel yang mengalir deras, sawah hijau yang menunggu air terkontrol, dan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada keputusan rapat ini. Air kini menjadi “tokoh utama” pembangunan di Sumsel, bukan sekadar angka atau dokumen resmi.
Rapat teknis ini menjadi langkah awal Sumsel memastikan ketahanan air dan pangan berjalan seiring menjelang tahun anggaran 2027. Kegiatan ini juga mendukung target pemerintah menuju Indonesia Emas 2045, di mana ketahanan air menjadi fondasi pembangunan nasional.
Apakah strategi ini berhasil? Warga Sumsel menunggu hasil nyata dari setiap tetes air. Jika pengelolaan tepat, bukan hanya pangan yang aman, tetapi kesejahteraan masyarakat dan stabilitas lingkungan juga terjaga. Sumsel menghadapi tantangan sekaligus peluang mengubah potensi air menjadi kekuatan nyata untuk ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.
Simak terus perkembangan ketahanan air Sumsel dan dampaknya pada pangan lokal, karena setiap tetes air menentukan masa depan petani dan warga.(***)