DUA pasangan lanjut usia berusia 70-an berjalan pelan sambil saling berpegangan tangan. Langkah mereka hati-hati, seperti sedang membawa barang paling berharga yang masih mereka miliki, yaitu badan sendiri. Sesekali berhenti, bukan untuk istirahat lama, melainkan memastikan pasangan di sampingnya masih aman. Di usia segitu, jatuh bukan lagi soal malu, tapi urusan serius.
Tujuan mereka pagi itu jelas, tenda layanan kesehatan di kampung. Bukan jalan santai, bukan pula sekadar ikut-ikutan. Mereka datang karena badan sudah terlalu sering memberi sinyal, dan perut tak lagi bisa diajak kompromi seperti dulu.
Pemandangan semacam itu terlihat di beberapa sudut Palembang, Januari lalu. Sejak pagi, warga berdatangan membawa keluhan masing-masing. Ada yang pusing, ada yang pegal, ada yang perutnya sensitif, telat makan sedikit langsung memberontak. Ada juga yang tampak sehat, tapi tetap ikut antre karena filosofi hidupnya sederhana kalau bisa dicek gratis, ngapain sok kuat?
Jumlahnya bikin panitia kerja ekstra sebanyak 2.766 orang. Wow.. pasti teriak salut untuk semua warga!
Dari angka itu, hampir tak ada yang datang dengan cerita tubuh yang benar-benar bersih. Kalau bukan darah tinggi, ya asam urat. Kalau bukan maag, ya kolesterol. Lengkap, seperti daftar menu warung.Hehehe.
Seorang bapak tertawa kecil saat tensinya diperiksa. Angkanya bikin matanya melotot dan jidatnya berkerut mikir.
“Pak, tensinyo tinggi nian,” kata petugas medis.
Bapak itu mengangguk santai. “Wajar, Dok..biasolah efek ngopi kuat samo ikan asin pedo, lum sempat stop kebiasoan duo ikot itu, dari 1998.”
Petugas tersenyum, lalu jawab kalem, “Berarti sekarang saatnya mulai pensiun, Pak.”
Si bapak tertawa lagi. “Kopinyo yang pensiun dulu, Dok. aku ni masih nak hidup lamo, olehnyo anak aku ni siko lagi yang belum kawin.”
Tak jauh dari situ, dua ibu saling menyikut pelan.
“Kolesterol aku tinggi?”
“Iyo. Tapi genetik itu,” jawab temannya cepat, sambil menunjuk pipinya sendiri, seolah lemak adalah warisan keluarga yang tak bisa ditolak.
Obrolan semacam itu membuat ruang tunggu terasa seperti arisan bedanya, yang dibahas bukan cicilan, tapi isi badan.
Bakti sosial
Dokter dan perawatnya ikut menyesuaikan irama kampung. Mereka lebih banyak mendengar cerita ketimbang memotong pembicaraan. Kadang yang diperiksa bukan cuma tekanan darah, tapi juga kebiasaan hidup yang sudah bertahun-tahun dijalani tanpa banyak direnungkan.
Dari begadang, malas bergerak, sampai makan pedas tengah malam semuanya dibedah pelan-pelan, tanpa nada menggurui.
Karena banyak kena penyakit pasaran ini, akhirnya banyak warga baru sadar sebab sakit jarang datang tiba-tiba. Ia dikumpulkan pelan-pelan, seperti menabung bedanya, hasilnya bikin kaget dan sedikit menyesal.
Dan seperti biasa, tensimeter jadi alat paling jujur. Ia tak bisa dibujuk dengan senyum atau alasan klasik.
Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis tersebut sudah rutin dilakukan dan merupakan Bakti Sosial Kesehatan Klinik Sehati Batch 1 Tahun 2026, digelar PT Pusri Palembang, anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero).
Program ini dilaksanakan di Kelurahan Sungai Selayur dan Sungai Buah pada 19-20 Januari 2026, serta Kelurahan Satu Ilir dan Tiga Ilir Kota Palembang pada 21–22 Januari 2026. Layanan ini sengaja mendekatkan pemeriksaan kesehatan langsung ke kampung-kampung, tanpa ribet dan tanpa biaya.
VP TJSL PT Pusri Palembang, Alde Dyanrini, menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan agar masyarakat di sekitar wilayah operasional tetap memiliki akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan bermanfaat nyata.
Kesehatan, menurutnya, adalah fondasi utama kualitas hidup masyarakat.
2.766 orang yang datang hari itu, tentu tak semuanya langsung pulang seperti atlet. Tapi setidaknya mereka membawa pulang tiga hal hasil pemeriksaan, obat di tangan, dan kesadaran baru bahwa badan bukan mesin yang bisa dipaksa terus-terusan.
Karena di kampung, urusan badan dan perut memang sering dibungkus canda.
Tapi justru dari tawa itulah muncul pengingat paling jujur sehat bukan soal kuat-kuatan, melainkan soal peduli sebelum tubuh benar-benar menyerah. (***)