MAHASISWA KKN UIN Raden Fatah ajari TPQ baca Qur’an di Desa Manggar Raya, Banyuasin, bukan untuk selfie atau bagi-bagi snack, tapi untuk memastikan santri TPQ Masjid Nurul Iman nggak salah baca huruf kayak Wi-Fi putus-nyambung.
Sejak 15 Januari lalu, mahasiswa yang biasanya lebih akrab dengan laptop dan Wi-Fi, rela turun gunung ke desa, menghadapi santri yang kadang bacaannya ngeselin tapi menggemaskan. Ada yang hurufnya suka loncat-loncat, ada yang tajwidnya salah tempat, tapi semua tetap semangat!
Nanda Damara, salah satu peserta KKN bilang “beberapa santri masih suka ‘ngepotong’ bacaan atau kebalik-balik tajwidnya. Dengan metode Tartil dan Ummi, kami bantu mereka membaca Qur’an fasih. Jadi bukan cuma bisa baca, tapi juga paham dan khusyuk, kalau nggak, bisa-bisa saya yang pusing duluan.”
Mahasiswa juga menyiapkan modul sederhana, agar santri tetap bisa belajar mandiri setelah program selesai. Jadi kalau besok ada santri lancar baca Qur’an, jangan kaget kalau ada mahasiswa yang tersenyum sambil berkata “Itu hasil kerja keras, drama huruf salah, dan sedikit bakat terpendam!.”
Bahkan yang lebih menarik lagi, dari drama huruf-huruf ini, mahasiswa belajar kesabaran tingkat dewa, sementara santri belajar membaca Qur’an dengan lebih benar. Jadi ilmu bukan cuma di buku, tapi langsung praktek di lapangan, plus bumbu humor ringan.
Program KKN ini membuktikan satu hal ilmu tanpa aksi itu seperti mie instan tanpa air panas, cuma bikin lapar mata. Mahasiswa UIN Raden Fatah nggak cuma mengajarkan huruf dan tajwid, tapi juga nilai kesabaran, kolaborasi, dan kebermanfaatan ilmu untuk sesama.
Kalau besok ada santri Desa Manggar Raya membaca Qur’an dengan lancar dan tartil, ingat ada mahasiswa KKN yang diam-diam tersenyum bangga sambil menahan tawa karena drama huruf tadi pagi.
Seperti pepatah Sumsel bilang “Alah bisa karena biasa, sabar bisa karena latihan.”
Artinya, lancar membaca Qur’an bukan cuma bakat, tapi hasil latihan, kesabaran, dan sedikit drama lucu di kelas TPQ. (***)