Kesehatan

Sekayu Panas… Tapi Gizi Warganya Lebih Panas!

ist

SEKAYU panas, tapi panasnya berbeda kali ini. Bukan sekadar terik matahari yang bikin kulit merah, melainkan gizi warga yang makin prima dan bergizi.

Semua ini berkat kehadiran Badan Dapur Nasional (BDN) Kabupaten Muba yang bekerja sama dengan Pemkab Muba, menjadikan dapur kecamatan sebagai pusat pengolahan makanan bergizi, edukasi, dan distribusi ke masyarakat.

Audiensi BDN dengan Pemkab Muba di Ruang Rapat Sekda, Kamis kemarin membahas kolaborasi nyata untuk mempercepat program nasional gizi masyarakat.

Ketua BDN Muba, Iwan Aldes, menekankan  dapur-dapur yang dibangun bukan sekadar tempat memasak. “Kami menyiapkan dapur sebagai pusat edukasi gizi, pengolahan makanan, dan distribusi. Setiap makanan yang keluar dari sini memiliki nilai gizi seimbang untuk masyarakat,” jelasnya.

Pemkab Muba menyambut program ini dengan antusias. Penjabat Sekda, Drs. Syafaruddin MSi, menegaskan  pemerintah daerah siap menjadi mitra aktif.

“Kami tidak hanya mendukung, tapi ikut memastikan dapur-dapur ini berjalan lancar. Makanan bergizi harus sampai ke seluruh warga, agar kesehatan dan kualitas hidup meningkat,” ujarnya.

Program ini menekankan pendidikan gizi di setiap dapur kecamatan. Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan masyarakat umum mendapatkan edukasi sederhana soal cara memasak sehat, memilih bahan bergizi, dan menata porsi agar seimbang.

Warga pun belajar bahwa gizi bukan sekadar soal kenyang, tapi soal kesehatan jangka panjang dan kesiapan generasi masa depan.

Yang membuat program ini menarik adalah konsep dapur sebagai pusat gerakan sosial. Setiap dapur melibatkan warga setempat dalam proses pengolahan, distribusi, hingga edukasi.

Aktivitas ini membangun gotong-royong, memperkuat solidaritas, sekaligus menghadirkan interaksi sosial positif. Bahkan spatula dan wajan menjadi senjata rahasia melawan gizi buruk.

Selain itu, efek program ini terasa hingga keseharian masyarakat. Warga lebih berenergi, anak-anak lebih siap belajar di sekolah, ibu-ibu lebih tangkas mengurus rumah tangga, dan lansia lebih kuat menjalani aktivitas harian. Dapur BDN membuktikan bahwa investasi dalam gizi adalah investasi untuk produktivitas masyarakat secara menyeluruh.

Keunggulan lain dari kolaborasi ini adalah pola distribusi makanan bergizi yang terencana. Dapur-dapur kecamatan bukan hanya memasak, tapi memastikan makanan sehat sampai ke setiap rumah. Ini mengurangi risiko kekurangan gizi dan mempercepat tercapainya target nasional dalam peningkatan kesehatan masyarakat.

Kehadiran BDN dan dukungan Pemkab Muba membuktikan bahwa dapur bisa menjadi pusat perubahan. Edukasi gizi, distribusi makanan sehat, dan gotong-royong masyarakat membuat Sekayu bukan sekadar panas matahari, tapi panas penuh energi positif dari gizi warga.

Panas Sekayu tetap terasa, tapi gizi warganya lebih panas, lebih kuat, dan lebih bermanfaat. Dapur-dapur BDN telah menjadi pusat inovasi sosial dan gizi, membuktikan bahwa makanan sehat bisa mengubah kehidupan masyarakat, satu piring sehat pada satu waktu. (***)

To Top