Jumat, 2 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Drama Bawang, Beras & Cabai – Inflasi Rasa Dapur Nusantara”

“Drama Bawang, Beras & Cabai – Inflasi Rasa Dapur Nusantara”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
  • visibility 1.407
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INFLASI itu bagi akademisi bisa jadi bahan seminar serius, tapi bagi emak-emak di pasar cukup dilihat dari harga cabai, kalau cabai merah meroket, nada suara ikut meninggi, kalau bawang turun, senyumnya bisa selebar kipas angin.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini mewanti-wanti para kepala daerah untuk serius mengendalikan inflasi. Soalnya, meski inflasi nasional relatif aman di angka 2,31 & (Agustus 2025), ternyata masih ada daerah yang “panas” di atas 3,5%. Nah, panasnya bukan cuma karena cuaca, tapi juga karena cabai merah dan beras yang bikin dapur mendidih.

Biasanya bawang merah bikin kita meneteskan air mata waktu ngupas, tapi bulan September ini justru bikin senyum. Dari 309 kabupaten/kota yang sempat menjerit karena harga naik di Agustus, kini hanya tersisa 31 daerah yang masih berderai air mata. Sisanya malah hepi karena harganya turun.

Pertanyaannya, kenapa bisa turun? Apakah konsumsi masyarakat tiba-tiba berubah, atau distribusi bawang merah akhirnya lebih merata?. Kalau kata pepatah, “air mengalir ke tempat rendah, harga pun turun bila distribusi lancar”. Artinya, ketika logistik lancar, petani di Brebes atau Enrekang bisa kirim pasokan tanpa drama macet di jalan atau tertahan di gudang.

Beras ini kan ibarat aktor utama di sinetron dapur Indonesia. nggak ada beras, nggak jalan ceritanya. Untungnya, operasi pasar Bulog bareng Bapanas berhasil jadi cameo yang menyelamatkan alur cerita. Dari 214 daerah yang sempat mengalami kenaikan harga beras di Agustus, kini tinggal 106 daerah di September, lumayan turun separuh lebih.

Namun, jangan buru-buru tepuk tangan, operasi pasar itu sifatnya sementara, ibarat obat sakit kepala, yakni gejala hilang, tapi penyakit bisa kambuh lagi kalau stok dan distribusi tidak beres.

Solusinya tentu bukan cuma jual beras murah di pasar, tapi juga memperkuat cadangan, memperbaiki irigasi, dan memastikan petani nggak rugi. Kalau petani tekor, bisa-bisa musim depan mereka malas tanam.

Ini  episode klimaks sebenarnya karena, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras, tiga komoditas ini memang bandel. Cabai merah naik sedikit saja, langsung trending topic. Orang bilang, “Hidup tanpa cabai hambar, tapi kalau harga cabai naik, dompet terasa terbakar”.

Sementara ayam dan telur pun sama, kalau harga ayam mahal, lauk jadi terbatas, kalau telur naik, anak-anak kos bisa demo karena menu andalan mereka telur ceplok ikut kena imbas.

Oleh sebab itu, dari drama ini, jelas bahwa inflasi di Indonesia bukan sekadar angka di papan statistik, tapi cerita nyata di dapur masyarakat, bawang merah turun karena distribusi lancar, beras agak terkendali karena intervensi pemerintah lewat operasi pasar. Tapi cabai, ayam, dan telur masih menantang karena sifatnya musiman dan tergantung pasokan pakan maupun cuaca.

Artinya, ada solusi jangka pendek oke, seperti operasi pasar, tapi solusi jangka panjang jauh lebih penting, misalnya perkuat sistem distribusi pangan (jalan, transportasi, gudang dingin), dorong produksi dalam negeri lewat dukungan ke petani dan peternak dan buka data harga secara transparan biar masyarakat tahu kondisi real, dan spekulan nggak gampang bermain.

Mendagri sudah benar mengingatkan kepala daerah agar duduk bersama dengan BPS, Bulog, BI, Kadin, hingga asosiasi pengusaha. Namun jangan sampai duduk bersama ini hanya jadi agenda rapat rutin dengan kopi dan snack. Pepatah Jawa bilang, “Ojo kebacut rembugan, ning ora ana tumindak”, artinya, jangan kebanyakan ngomong tanpa aksi nyata.

Jika, seringkali rapat koordinasi di daerah sudah megah, tapi pasarnya tetap gaduh, oleh karena itu, kepala daerah mesti lebih rajin blusukan ke pasar, dengar langsung suara pedagang dan pembeli, bukan hanya laporan angka di kertas. Ingat, angka inflasi yang manis bisa terasa pahit kalau harga cabai tetap bikin ibu-ibu menjerit.

Pada akhirnya, inflasi ideal bukan hanya sekadar sesuai target pemerintah (2,5% ± 1%), tapi juga terasa ramah di dapur rakyat. Kalau harga bawang, beras, cabai, ayam, dan telur bisa stabil, masyarakat akan lebih tenang.

Dan  inflasi itu bukan soal angka kering, tapi soal nasi yang bisa tetap ngebul di meja makan. Pemerintah pusat, daerah, dan semua pihak harus kompak menjaga keseimbangan ini, karena, seperti pepatah bilang, “Perut kenyang, hati pun senang, perut lapar, semua bisa jadi lawan”. Maka, jangan anggap enteng drama dapur, pasalnya dari sanalah stabilitas bangsa kadang diuji.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Rupiah Mabuk di Pasar, Investor Senyum atau Garuk Kepala?”

    “Rupiah Mabuk di Pasar, Investor Senyum atau Garuk Kepala?”

    • calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.313
    • 0Komentar

    DI akhir Oktober 2025, rupiah tampak seperti orang habis minum kopi terlalu banyak, hehe…kadang semangat, kadang meringis. Bank Indonesia (BI) dalam laman resminya mencatat, pada Kamis, 30 Oktober 2025, rupiah ditutup di level Rp16.635 per dolar AS (bid). Investor pun tersenyum tipis, sambil garuk-garuk kepala, “Eh…, ini untung atau buntung, ya?” Sementara itu, yield SBN […]

  • Isi Kekosongan, Ratu Dewa Lantik 21 Pejabat Eselon

    Isi Kekosongan, Ratu Dewa Lantik 21 Pejabat Eselon

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 998
    • 0Komentar

    Guna mengisi kekosongan di beberapa Instansi, Sekretaris Daerah (Sekda) kota Palembang, Ratu Dewa lantik 21 pejabat, baik Eselon III maupun Eselon IV lingkungan Pemerintah kota Palembang di Aula BKPSDM. Ratu Dewa menyampaikan, bahwa pelantikan tersebut sengaja dilakukan guna mengisi kekosongan khususnya di Dinas Kesehatan serta para kepala teknis unit Dukcapil. “Sisanya fungsional ada dua orang, […]

  • Siap Sukseskan Pesta Demokrasi 2024,981 PPS di OKI Resmi Dilantik

    Siap Sukseskan Pesta Demokrasi 2024,981 PPS di OKI Resmi Dilantik

    • calendar_month Selasa, 24 Jan 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 637
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, OKI- Sebanyak 981 Orang Panitia Pemungutan Suara (PPS) tingkat Kelurahan/Desa se Kabupaten Ogan Komering Ilir, Selasa (24/1/23) resmi dilantik. Pelantikan tersebut dilaksanakan dengan metode hybrid secara daring dan luring, di Gedung Kesenian Kayuagung dan 2 Kecamatan secara Daring yaitu kecamatan Tulung Selapan & Sungai Menang. Bupati Ogan Komering Ilir H. Iskandar, SE melalui Staf […]

  • OPPO Announces Enhanced AI Strategy to Deliver Next-level Mobile AI Experiences at OPPO AI Tech Summit during MWC25

    OPPO Announces Enhanced AI Strategy to Deliver Next-level Mobile AI Experiences at OPPO AI Tech Summit during MWC25

    • calendar_month Selasa, 4 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 912
    • 0Komentar

    OPPO is one of the first smartphone brands to implement Private Computing Cloud and has further integrated applications with Google Gemini so users can soon take action across OPPO apps in Gemini. During MWC2025, OPPO unveiled new AI features, including AI Call Translator and AI VoiceScribe, and has committed to releasing new AI updates roughly […]

  • Gojek Sumbang Ekonomi Palembang Rp1,5 Triliun

    Gojek Sumbang Ekonomi Palembang Rp1,5 Triliun

    • calendar_month Sabtu, 11 Mei 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.098
    • 0Komentar

    Palembang – Gojek Indonesia pada 2018 berhasil menyumbang ekonomi Palembang sebesar Rp1,5 triliun. Kontribusi ekonomi mitra Gojek terhadap perekonomian Palembang sebesar Rp1,5 triliun itu, terdiri dari mitra pengemudi Go-ride menyumbang Rp690 miliar, mitra pengemudi Go-car berkontribusi senilai Rp236 miliar dan mitra UMKM Go-food bersumbangsih senilai Rp601 miliar. Wakil Kepala LD FEB UI, Paksi C.K Walandouw, saat […]

  • Kampus Berperan Penting Bangun Desa, Mendes Ajak Bersinergi

    Kampus Berperan Penting Bangun Desa, Mendes Ajak Bersinergi

    • calendar_month Senin, 2 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 767
    • 0Komentar

    MENTERI Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar atau yang akrab disapa Gus Halim mengajak perguruan tinggi bersinergi membangun desa, khususnya pada pendidikan luar sekolah. Menteri Halim Iskandar mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki angka anak putus sekolah di desa masih cukup tinggi, pada 2021 ditemukan sebanyak 289.839 anak putus Sekolah Dasar […]

expand_less
WordPress Archive Themify Shoppe WooCommerce Theme Themify Simfo WordPress Theme Themify Split WordPress Theme Themify Stack WordPress Theme Themify Suco WordPress Theme Themify Thememin WordPress Theme Themify Tiles Plugin Themify Tisa WordPress Theme Themify Ultra Premium WordPress Theme Themify WooCommerce Product Filter