Rabu, 21 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Hiburan » “Cerita Dagelan Wak Bek & Mang Zenal: Renungan Suci 17 Agustus yang Nyasar di Pohon Akasia”

“Cerita Dagelan Wak Bek & Mang Zenal: Renungan Suci 17 Agustus yang Nyasar di Pohon Akasia”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
  • visibility 786
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SORE sabtu, angin sawah di kampung pinggiran Palembang terasa lembut macam kipasan emak-emak pas lagi main gaplek. Pos ronda di tepi sawah yang cuma beralas papan kayu reot jadi saksi dua sosok sepuh Wak Bek dan Mang Zenal. Dua tokoh tua yang tiap sore nongkrong di sana sambil nyeruput kopi pahit, kopi yang rasanya kayak hidup lebih banyak getirnya daripada manisnya.

“Zen, kau tau dak? Malem ini ado renungan suci di Taman Makam Pahlawan, semua pejabat hadir. Gubernur, Kapolda, Pangdam… wah, megah nian,” ucap Wak Bek pakai logat Palembang sambil ngepulkan asap rokok lintingan yang lebih mirip dupa.

Mang Zenal, dengan mata sipit setengah merem karena kopi udah bikin ngantuk, nyeletuk,
“Ah, aku jugo galak, nak  melok. Tapi katek motor, nak jalan kaki jauh nian. Paling idak kito renungan dewek bae lah, Bek… di hutan sebelah jalan itu. Pohonnya tinggi, anginnya kencang, pasti suci jugo”.

“Betul! Dak usah jauh-jauh, kalo di TMP renungan dengan pahlawan, di hutan kito renungan dengan akar-akarnya pohon akasia. Sama bae, wong kito jugo nak merenung.” Wak Bek ketawa, giginya tinggal dua kayak senter yang lampunya redup.

Di samping pos ronda itu, nongkrong dua bocah muda OOI dan AAI, generasi penerus kampung yang masih enerjik. Mereka mendengar obrolan dua tetua ini, mengangguk-angguk polos. “Wih, ikut renungan ya Wak…, Mang?. Keren nian! kami jugo pengen besok liat,” kata OOI sambil kagum.

Malam 17 Agustus tiba, di Taman Makam Pahlawan, suasana khidmat luar biasa. Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru bersama Wakil Gubernur H. Cik Ujang, para jenderal, polisi, hingga veteran, semua tegak berdiri hormat. Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis memimpin apel kehormatan renungan suci. Lampu redup, obor menyala, doa berkumandang. Semua mengenang jasa para pahlawan yang gugur, sambil merinding penuh haru.

Tapi di hutan seberang jalan, Wak Bek dan Mang Zenal malah gelar “renungan suci ala kampung”. Caranya? Panjat pohon akasia setinggi belasan meter, duduk di cabang, lalu merenung… sebentar. Karena begitu angin malam semilir, dua tetua itu langsung “merenung dalam mimpi”.

Mereka ketiduran, dari jam 9 malam sampai bablas pagi. Bahkan ayam kampung udah tiga kali berkokok, mereka masih molor di dahan pohon.

Pagi harinya, sekitar jam 10, OOI dan AAI lewat jalan hutan naik motor butut. Helmnya longgar, knalpotnya berisik kayak toa masjid. Tiba-tiba… plak! sandal jepit jatuh dari langit, nyemplak pas di pipi OOI yang nyetir. Motor oleng dikit, AAI di belakang teriak.

“Woiii! Sandal sape nih?!” OOI berhenti, muka merah karena kaget.

Belum sempet mikir, plak! lagi satu sandal mendarat di jidat AAI.
“Sialan bener!. Ini sandal siapa lagi?!” katanya sambil garuk kepala.

Mereka berdua nengok ke atas. Astaga, ternyata Wak Bek dan Mang Zenal lagi tidur pulas di cabang pohon, ngiler ngalir.

“Woiii, Wak! Mang! Turunlah! Apo gawe kalian beduo tedo dipucuk  pohon cak monyet bae” kekenyangan duren?!” teriak OOI.

Wak Bek kebangun, melongo, lalu nyeletuk,
“Oalah, jam berapo kini? Kito masih renungan suci kah?”

Mang Zenal ikut turun, nyeker karena sandalnya udah jadi senjata tumpul. “Iyo, kami semalam abis renungan suci. Lamo nian, sampai mimpi ketemu Jenderal Sudirman ngasih aku rokok gratis”.

OOI dan AAI saling pandang, lalu geleng-geleng. “Astagfirullah… Wak, Mang… itu bukan renungan suci. Itu namonyo nyari wangsit! Biaso dipake orang cari nomor buntut!”

AAI, yang paling cerewet, nyeplos “Wak, Mang… renungan suci tu ado tujuannyo. Itu bukan sekadar duduk bengong. Di Taman Makam Pahlawan, pejabat dan rakyat berkumpul untuk hormati jasa pahlawan.

Mereka itu yang ngorbankan nyawo, supaya kito bisa merdeka, bisa minum kopi di pos ronda, bisa tidur di atas pohon tanpa ditendang Belanda”

OOI menimpali sambil senyum, “Kalo kalian tidur di pohon, itu bukannyo renungan, tapi kayak maling ayam kesiangan. itu katek hikmahnyo, malah sandal melayang”

Mang Zenal garuk kepala, “Lah, kami pikir asal merenung bae, di mano bae jugo suci”

Wak Bek nambahin, “Iyo… kalo renungan suci TMP ado doa-doanya, kami renungan di pohon ado dengkurannyo”

OOI ngakak. “Betul nian! Bedo tipis, tapi hasilnyo jauh. Renungan di TMP bikin hati tentram, renungan di pohon bikin orang kaget kena sandal!”

AAI ngasih wejangan, “Pepatah bilang kalau tak pandai berenang, jangan coba-coba nyebur di laut dalam. Begitu pula  dengan renungan, kalo niat nak hormati pahlawan, ya dateng ke TMP, ikut doa, ambil hikmah. Bukan malah nginep di pohon akasia kayak burung gagak.”

Akhirnya Wak Bek dan Mang Zenal minta maaf, mereka sadar kalau merenung sembarangan itu bukan renungan suci, tapi malah dagelan.

“Betul jugo, generasi muda kito ini pinter. Kami dak bakal ngulang lagi. Lain kali, kalo nak renungan, kito ikut resmi bae. Biar dak salah arti,” kata Wak Bek sambil ngembalikan sandal ke kakinya.

Mang Zenal menambahkan, “Iyo lah. Mulai besok kalo nak tidur, di rumah bae. Biar suci mimpi ketemu mantan bae, bukan jatoh dari pohon”

OOI dan AAI ketawa lepas. Mereka lega karena dua tetua kampung ini akhirnya paham. “Yang penting, Wak, Mang… merdeka bukan cuma dari penjajahan, tapi jugo dari kebodohan sendiri. Jangan sampe salah kaprah antara renungan dan wangsit,” kata OOI sambil naik motor lagi.

Dan begitulah, di kampung “tak bernama” pinggiran Palembang, renungan 17 Agustus tahun itu jadi bahan cerita seumur hidup bahwa kadang, renungan suci bisa meleset jadi renungan lucu. Tapi hikmah tetap ada hormati pahlawan dengan doa, bukan dengan sandal jepit jatoh dari pohon.

Renungan suci adalah bentuk penghormatan pada para pahlawan yang telah berkorban. Jangan sampai kesakralan itu kita campur adukkan dengan hal-hal sepele.

Hidup memang butuh humor, tapi hormat pada pahlawan adalah serius “Kalau tak tahu arah, tanyalah pada kompas, kalau tak tahu makna, belajarlah pada sejarah”.[***]

Catatan redaksi : tulisan ini adalah cerita fiksi dagelan. Tokoh, peristiwa, dan dialog disajikan dalam bentuk humor untuk hiburan sekaligus renungan. Jika ada kesamaan nama atau kejadian dengan tokoh/kejadian nyata, hal itu semata-mata kebetulan belaka, dan isinya bukan laporan fakta, melainkan hiburan yang menyelipkan pesan moral. Nama pejabat, tempat, dan peristiwa hanya dipakai sebagai latar cerita tanpa maksud menyinggung pihak mana pun.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Personil Polda Sumsel Peroleh Penghargaan, Ini Pesan Kapolda

    Personil Polda Sumsel Peroleh Penghargaan, Ini Pesan Kapolda

    • calendar_month Selasa, 25 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.369
    • 0Komentar

    KEPALA Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Kapolda Sumsel), Irjen Pol.Prof.Dr.Eko Indra Heri S.M.M., memberikan penghargaan kepada personel Polda Sumsel atas prestasi yang diraih dalam kedinasan sebagai Polisi. Penghargaan tersebut diberikan saat Polda Sumsel melaksanakan apel di lapangan Apel Mapolda Sumsel, Senin (24/5/21). Selain memberikan penghargaan Kapolda Sumsel juga melaksanakan penyerahan daftar email personel Polri guna aktifasi […]

  • Polda Lampung Imbau Tempat Hiburan  Tutup Selama Libur Nataru

    Polda Lampung Imbau Tempat Hiburan Tutup Selama Libur Nataru

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 900
    • 0Komentar

    POLDA Lampung memgimbau kepada pengusaha hiburan dan tempat keramaian untuk ditutup di masa libur Natal dan Tahun Baru 2022. Penutupan ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di masa liburan akhir tahun. Pada pengamanan akhir tahun, jajaran Polda Lampung mengerahkan sebanyak 2.900 personel gabungan dari berbagai instansi yang terlibat. Selain itu, Polda Lampung juga membuka 81 posko […]

  • 3 Titik di Kota Palembang Bakal di Pasang Box Culvert

    3 Titik di Kota Palembang Bakal di Pasang Box Culvert

    • calendar_month Kamis, 19 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.402
    • 0Komentar

    KOTA Palembang bakal dipasang saluran air yang terbuat dari beton [Box Culvert] yang merupakan salah satu proyek percontohan dari Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Provinsi Sumsel. Pemasangan saluran air yang terbuat dari beton berbentuk kubus ini akan dipasang ditiga titik,antara lain di Jalan Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara, Jalan Hulu Balang, serta di Jalan […]

  • FKIP Unsri Seminar-kan “Re-Desain Pembelajaran IPA yang Adaptif di Masa Pandemi Covid-19”, Prof Ini Sebut Penggunaan Teknologi Informasi Tidak Dapat Sepenuhnya Mengganti Proses Tatap Muka

    FKIP Unsri Seminar-kan “Re-Desain Pembelajaran IPA yang Adaptif di Masa Pandemi Covid-19”, Prof Ini Sebut Penggunaan Teknologi Informasi Tidak Dapat Sepenuhnya Mengganti Proses Tatap Muka

    • calendar_month Minggu, 17 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.275
    • 0Komentar

    PELAKSANAAN sistem pembelajaran secara Online (daring) menggantikan sistem pembelajaran secara tatap muka (luring) dimasa Pandemi Covid-19 telah membuat berbagai perubahan disektor pendidikan membutuhkan kepedulian dan pemahaman para pemangku kepentingan (stake-holder) dibidang pendidikan terhadap ide dan masukan yang cemerlang tentang pembelajaran di masa maupun pasca pandemi di antaranya sistem pembelajaran IPA di sekolah. Namun sejauh mana […]

  • Inflasi Turun, Tapi Dapur Warga Palembang Masih Panas

    Inflasi Turun, Tapi Dapur Warga Palembang Masih Panas

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    ANGKA inflasi Kota Palembang pada Maret 2026 memang turun ke 3,10 persen, tapi kondisi di dapur warga belum ikut adem lantaran harga ayam, telur, hingga ongkos transportasi masih terasa ‘menggigit’ di kantong. Data resmi menunjukkan perbaikan, namun realitas di lapangan memberi cerita lain, penurunan ini lebih banyak dipengaruhi faktor seperti melandainya harga emas, sementara kebutuhan […]

  • Hari Terakhir Pelunasan, Seluruh Kuota Haji Khusus 1446 H/2025 M Sudah Terisi

    Hari Terakhir Pelunasan, Seluruh Kuota Haji Khusus 1446 H/2025 M Sudah Terisi

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 882
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief memastikan seluruh kuota jemaah haji khusus sudah terisi. Tahap perpanjangan pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) 1446 H/2025 M untuk jemaah haji khusus berakhir hari ini. Pengisian kuota jemaah haji khusus tahap pertama dibuka pada 24 Januari – 7 Februari 2025. Saat itu, ada […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Contactless Delivery WooCommerce Cost of Goods WooCommerce Countdown Timer – Flash Sales & Price Discount Plugin WooCommerce Coupon Campaigns WooCommerce Courier Center Voucher & Label WooCommerce Create A Drawer – Composite Product Builder Plugin WooCommerce Currency Converter Widget WooCommerce Custom Fields Woocommerce Custom Order Statuses and Order Page Manager WooCommerce Custom Payment Label