Uncategorized

Duh, Ronaldinho Batal Merumput di Palembang, Ada Apa ?

foto : istimewa

Sumselterkini.co.id, Palembang – Sayang seribu kali sayang, kesempatan masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan untuk melihat dari dekat gocekan bintang sepak bola dunia asal Brasil di era 2000- an, Ronaldinho batal merumput dan memberi ilmu kepada  7.000 anak usia dini dari berbagai Sekolah Sepak Bola [SSB] se -Sumsel.

Khabarnya, Panitia Ronaldinho Tour 2019 mengaku tidak mendapat izin  Pemerintah Provinsi Sumsel, untuk merumput di Stadion Gelora Sriwijaja, Jakabaring Sport City [JSC] Palembang, sehingga terpaksa tour mantan bintang Barcalona itu rencananya dialihkan ke Gelora Bung Karno [GBK], Jakarta.

Kedatangan Ronaldinho Ronaldinho ke Palembang sebenarnya memenuhi undangan dari Panitia Turnamen Alex Noerdin Cup 2019 yang telah berjalan beberapa bulan lalu dengan melaksanakan tur Sumsel.

Selain menampilkan Timnas All Star plus pemain asing. Panitia juga mencari bibit-bibit muda di Sekolah Sepak Bola [SSB] yang ada di daerah Sumsel.

Hasilnya memang sudah 7.000 bibit muda penerus sepak bola di Sumsel yang terseleksi, dan diikut sertakan dalam coaching clinic bersama Ronaldinho yang rencananya diselenggarakan di Stadion Jakabaring, pada 30-31 Maret 2019 mendatang. Panitia juga akan memberikan sertifikat yang telah ditandangani Ronaldiho.

‘Kami sangat kecewa, karena kami berniat membawa mega bintang sepak bola dari Brazil, Ronaldindo ke Palembang sekaligus memberikan coaching clinic kepada 7.000 anak-anak dari sekolah sepak bola, ternyata tidak mendapat izin dengan alasan tak jelas dari Pemda Tingkat I, Sumsel,” ujar Eddy Sofyan, Ketua Panitia Ronaldinho Tour to Palembang dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Ronaldinho Tour to Palembang tersebut sekaligus, sebenarnya untuk memuncaki kejuaraan sepakbola se-Sumatera Selatan AN Cup 2019 yang telah digulir selama 3 bulan.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dengan mengirim surat resmi jauh-jauh hari, mencoba sowan ke Gubernur Sumsel, langsung menemui pengelola stadion Jakabaring, tapi bener-bener dicuekin. Bahkan kami seperti di ping- pong,” lanjut Eddy yang saat preskon didampingi panitia lainnya, seperti Yesayas Octavianus, Herry Kriswanto, Nasir Salasa, Luciano Leandro dan Riduan Tumenggung.

Stadion Gelora  Sriwijaya Jakabaring, memiliki luas lahan sekitar 40 hektare dengan kapasitas penonton hingga 38.000 – 45.000 orang serta memiliki 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Pembangunannya saat itu atas gagasan Mantan Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad, ketika Palembang ditetapkan menjadi tuan rumah PON XVI pada 2004.

Di era Gubernur Syarial Oesman, Provinsi Sumsel membeli klub sepak bola Persijatim dan berganti nama Sriwijaya FC. Salah satu alasan pembelian klub itu, yakni agar Stadion Gelora Jakabaring dapat dimaksimalkan. Stadion itu akhirnya menjadi markas Sriwijaya FC, guna mengarungi kompetisi di Liga bergengsi di Tanah Air hingga menorehkan beberapa prestasi dipuncak Liga di Tanah Air sampai akhir mewakili kejuaraan Asia.

Di era Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumsel selama dua periode, areal Jakabaring dimana Stadion itu berdiri. Hanya lah sebuah areal rawa. Namun berkas visioner seorang Alex Jakabaring disulap menjadi komplek Olahraga bertaraf Internasional. Berbagai venue yang lengkap ikut berdiri.

Gagasan Alex pada periode pertamanya menjadi gubernur, yakni membawa event besar, Sea Games, setelah Jakarta. Sebelum Sea Games beberapa kejuraan baik tingkat Nasional, maupun Internasional pun diselenggarakan di Palembang.

Berkat even -even besar itu, suka tidak suka,  dampaknya sangat terasa terhadap galiat Palembang.Pertumbuhan ekonomi Sumsel tumbuh positif, bahkan sebelum Sea Games hotel-hotel berbintang tumbuh mak jamur dimusim hujan di Palembang.

Di periode ke dua menjadi Gubernur, Sumsel juga sukses menyelenggarakan hajat besar Negara-negara di Asia, yakni Asian Games.

Bahkan, pembangunan infratruktur penunjang pun diperoleh Palembang, seperti Monorel /LRT, Jembatan Musi dan sebagainya. Ironisnya, andil menjadikan Jakabaring sebuah kawasan yang bergengsi itu, tak berbuah manis. Even besar mendatangkan Ronaldinho tak berjalan mulus atas penolakan penggunaan Stadion Gelora Jakabaring.

“Semestinya, sebagai venue olahraga untuk umum, dan bisa disewakan secara profesional, tidak ada alasan pelarangan Jakabaring untuk kegiatan olahraga.

Harusnya disewakan

Apalagi ini terkait dengan pembibitan dan pembinaan sepakbola usia dini, yang secara Undang Undang baru disahkan oleh Presiden Jokowi,” imbuh Yeyasas Octavianus yang mantan Wartawan Kompas.

Karena hingga deadline yang ditentukan manajemen Ronaldinho di Brazil hingga Selasa (19/3/2019) kemarin persoalan perizinan venue belum turun, Eddy yang juga Ketua Badan Sepak Boka Rakyat Indonesia (BASRI) mereschedule kehadiran Ronaldindo.

“Setelah berkonsultasi dengan Pak Alex Noerdin selaku kreator dan inisiator acara, diputuskan Ronaldindo Tour akan dilangsungkan di GBK Senayan Jakarta, secepatnya. Sembari menunggu jadwal baru dari pihak Ronaldindo,” tegas Eddy Sofyan.

Kejadian ini sebenarnya sangat disesalkan, dan seharusnya semua berfikir positif untuk kemajuan Sumsel. pasalnya tanpa disadari, jika memang acara Ronaldinho jadi selenggarakan di Gelora Sriwijaya. Palembang sendiri akan ramai dikunjungi masyarakat yang hendak melihat gocekan bola dari bintang brazil itu.

Bukan saja dari Palembang, namun daerah yang ada di Sumsel, bahkan mungkin pengagum Ronaldinho dari penjuru Indonesia akan datang ke Palembang untuk melihat idolanya.

Dampaknya sangat besar untuk Palembang, sebab dengan kedatangan figur seperti Ronaldinho itu, setidaknya berpengaruh besar pada bisnis perhotelan, karena tingkat akupansi bakal meningkat. LRT yang khabarnya sepi dan minim pendapatan setidak akan meraih berlipat ganda dari kehadiran Ronaldinho di Palembang, dan seat pesawat akan ramai.

Selain itu peluang dan kesempatan untuk mempromosikan wisata Olahraga di Palembang sangat besar pula. Apalagi komiditi kopi Sumsel sangat gencar dipromosikan Sumsel beberapa bulan terakhir ini.

“Jadi ada hikmahnya, yang luar biasa, dengan diselenggarakan di GBK penggemar Ronaldinho yang tersebar dari seluruh Indonesia, dari Bandung, Jogja, Surabaya, Makassar hingga Kalimantan lebih mudah aksesnya dengan di Senayan,” pungkas Eddy.

Namun kita juga harus menerima dan menghargai kebijakan pemerintah provinsi Sumsel, karena mereka yang lebih tahun alasannya, mungkin juga ada pertimbangan lain, yang penting Sumsel dimasa mendatang tetap kompak, lupakan perbedaan untuk ‘Bersatu Sumsel Maju’.[**]

 

Penulis  : One

 

 

 

Comments

Terpopuler

To Top