Tekno

“Ketika AI Turun ke Sawah & Kuliah di Tiongkok: Cerita dari Masa Depan yang Sudah Kepeleset ke Masa Kini”

foto : komdigi

JANGAN salah, kawan, kalau dulu nenek moyang kita menjinakkan kerbau buat bajak sawah, sekarang cucu-cucunya sedang menjinakkan AI buat bajak data, dan bukan sembarang data, tapi data sawah, data empang, data cuaca, data jumlah ikan mujair yang lagi males kawin karena suhu kolam naik setengah derajat.

Dunia sudah makin canggih, bahkan hama wereng pun kayaknya sebentar lagi bisa jadi influencer TikTok kalau tidak segera diimbangi sama kecerdasan buatan.

Jumat lalu, suasana Gedung Sapta Pesona mendadak seperti setting film “Transformers Petani Bangkit”. Bukan karena ada Optimus Prime masuk bawa cangkul, tapi karena Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, ketemu langsung dengan Duta Besar Tiongkok, Wang Lutong belum lama ini. Pertemuan itu bukan sekadar jabat tangan lalu makan pastel, mereka sepakat kerja bareng buat meng-update ladang-ladang kita biar nggak ketinggalan zaman. Katanya, AI bakal diturunkan langsung ke sawah dan empang.

Jadi begini, Bung…

AI yang biasanya dipakai buat prediksi saham, cari filter Instagram, atau nulis caption aesthetic, kini disuruh ngebantu petani cari waktu tanam yang pas, sampai mengukur mood ikan gurame buat bertelur. Canggih, ‘kan? Kalau dulu petani lihat langit dan embun, sekarang lihat dashboard dan grafik. Yang penting jangan lihat mantan, itu bikin gagal panen perasaan…hahay..

Namun nggak cuma soal teknologi doang, lho… Meutya Hafid juga bilang kalau kerja sama ini bakal nambah “darah segar digital” lewat talenta muda Indonesia.

Sekarang sudah banyak anak-anak muda kita kuliah di Universitas Tsinghua di Beijing, Universitas yang katanya kalau pintunya dibuka ke Indonesia, IQ kolektif kita bisa naik dua digit.

Saking semangatnya, Pak Sekjen Komdigi, Pak Ismail, usul supaya Universitas Tsinghua buka cabang langsung di Indonesia. Gokil, nanti kita bisa bilang ke orang, “Lulusan Tsinghua, bro, kampusnya di sebelah pasar, deket tukang bakso”. Kan prestisnya tetap naik meski parkirnya becek.

Nah, ini yang diam-diam jadi penting, Indonesia ngajak kerja sama Tiongkok asal satu syarat penting, semua harus taat sama hukum dan aturan main di sini. Jangan nanti data kita dipanen lebih dulu daripada padi.

Dalam perumpamaan lama, kita ini kayak punya ladang emas, tapi jangan sampai kita cuma disuruh jagain portal parkirnya doang.

Kerja sama ini bisa jadi jembatan antara lumpur sawah dan kilau semikonduktor. Tapi ingat!, teknologi tanpa petani ya seperti WiFi tanpa password, banyak yang nyambung, tapi nggak ada arah. Maka, penting banget buat semua pihak dari petani, pemerintah daerah, kampus, sampai dukun hujan buat gotong royong menyukseskan digitalisasi ini.

Biar AI yang bekerja, tapi tetap tangan manusia yang menanam harapan, kalau dulunya pepatah bilang, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian,” sekarang bisa di-update jadi “Belajar-belajar ke Beijing, bertani-bertani di Bandung”

Atau ini “Kalau bisa pakai drone, ngapain pakai galah?”

Oleh sebab itu, dunia sudah tidak seperti dulu, Bung, bukan cuma anak Jaksel yang bisa ngebut naik skuter listrik sambil ngopi, tapi petani di Subang juga bisa prediksi hasil panen lewat AI. Kalau kerja sama ini berjalan mulus, maka masa depan kita bukan lagi soal rebutan cangkul, tapi rebutan sinyal satelit buat nanem cabai.

Ingat!, Indonesia ini ibarat lumbung raksasa yang sedang mengatur ulang isi kepalanya, dari tradisional jadi digital. Maka, mari  kawal kerja sama ini, bukan cuma biar jadi headline doang, tapi biar nasi di piring makin bergizi, dan AI-nya gak cuma pinter, tapi juga gak sombong, gak pelit data, dan gak suka ngaduin kita ke algoritma luar negeri.

Klik bait bonus “AI Ngubek Sawah, Tsinghua Ngubek Kampus, Indonesia Ngubek Masa Depan: Gak Nyangka Ternyata Ini yang Terjadi!”

He..he… masa depan udah di depan mata, tinggal jangan salah pintu masuk.[***]

Terpopuler

To Top