MALAM takbiran biasanya diiringi dengan gema beduk dan takbir yang bersahutan. Tapi di balik suasana religius itu, ada satu ‘rapat sunyi’ justru menentukan apakah mudik berjalan mulus atau penuh drama.
Lewat video conference nasional, Listyo Sigit Prabowo tak sekadar memberi arahan normatif. Ia justru menyoroti persoalan krusial yang sempat muncul di lapangan mulai dari kendala di ruas tol hingga kesiapan pos pelayanan yang belum optimal di beberapa daerah.
Nada pesannya jelas jangan sampai masalah yang sama terulang.
Bagi sebagian wilayah, catatan ini mungkin terasa seperti alarm keras. Namun bagaimana dengan Sumatera Selatan?
Gubernur Herman Deru memastikan arus mudik di wilayahnya terpantau relatif lancar. Tidak ada riak besar, tidak ada cerita macet panjang yang viral. Sekilas, semuanya terlihat “baik-baik saja”.
Tapi justru di sinilah letak pertanyaannya, apakah kelancaran itu benar-benar hasil kesiapan matang, atau sekadar karena volume kendaraan yang belum setinggi daerah lain?
Pernyataan Kapolri soal tol dan pos pelayanan sebenarnya bisa dibaca sebagai “PR nasional” yang berlaku untuk semua daerah, termasuk Sumsel.
Infrastruktur jalan lintas, jalur alternatif, hingga kesiapan pos pengamanan menjadi titik yang tak bisa dianggap remeh.
Apalagi Sumsel bukan hanya daerah tujuan, tapi juga jalur lintasan penting bagi pemudik dari dan menuju berbagai provinsi di Sumatera.
Jika satu titik bermasalah, efeknya bisa seperti domino merembet ke mana-mana.
Di sisi lain, apresiasi yang disampaikan Kapolri terhadap kinerja Korlantas Polri menunjukkan adanya perbaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Rekayasa lalu lintas dan pola pengamanan dinilai lebih rapi dan terukur.
Namun apresiasi itu bukan berarti tanpa catatan.
Justru sebaliknya, evaluasi yang disampaikan menjadi sinyal bahwa pengamanan mudik bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia adalah pekerjaan berulang yang selalu punya celah untuk diperbaiki.
Bagi Sumsel, momentum ini bisa jadi lebih dari sekadar laporan situasi kondusif. Ini adalah kesempatan untuk menguji kesiapan bukan saat masalah datang, tapi sebelum itu benar-benar terjadi.
Karena dalam urusan mudik, yang paling berbahaya bukanlah kemacetan yang sudah terlihat.
Melainkan yang datang tanpa aba-aba.
Dan di situlah, pesan Kapolri menjadi relevan: jangan tunggu masalah muncul baru bergerak.(***)