Seni & Budaya

Sunting Kartini, Ketika Surat Cinta Jadi Amunisi Peradaban & Emak-Emak Matic Naik Daun

Sumselterkini.co.id, – Museum Nasional Jakarta tampak berdandan, bukan dengan kebaya, bukan pula dengan sanggul, tapi dengan sorot lampu pameran yang menyala syahdu, seperti senyum ibu guru saat muridnya hafal Pancasila.Terlihat pada 21 April 2025 kemarin, museum yang biasanya dingin dan sunyi, tiba-tiba mendadak ramai dan hangat ibarat dapur rumah mertua saat Lebaran.

Datanglah para tamu penting, mulai dari Wamenekraf Irene Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, sampai artis-artis papan atas yang biasa kita lihat di layar kaca tapi kini hadir membaca surat Kartini dengan khidmat, bukan endorse skincare.

Irene Umar datang dengan semangat yang tak kalah, dari ibu-ibu arisan bawa panci hadiah. “Hari ini kita buka pameran ‘Sunting  Jejak Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan’. Dan bukan cuma soal Kartini doang, ini tentang perempuan yang tiap hari nyetrika, kerja, ngurus anak, tapi tetap bisa merubah dunia,” katanya sembari tersenyum, mungkin sudah membayangkan emak-emak zaman now bawa laptop dan termos di tangan yang sama.

Surat Kartini  Bukan Baper, Tapi Bikin Baper Di tengah suasana museum yang adem itu, panggung kecil disulap jadi tempat pertunjukan teatrikal pembacaan surat Kartini. Tapi jangan bayangkan ini macam pembacaan puisi di hajatan. Ini lebih dari itu.

Christine Hakim membacakan surat seperti seorang ibu bangsa menasehati cucu-cucunya, sementara Happy Salma dan Lutesha tampil kayak duta sastra yang baru turun dari langit.

Ketika Cinta Laura bacain surat “Toehan jang moelia, soenggoeh akoe ingin menjoebahkan menoelis kepada Toean…”, banyak yang nahan air mata bukan karena sedih, tapi karena enggak nyangka surat tahun 1899 bisa bikin dada tahun 2025 sesak juga.

“Saya baru tahu Kartini itu bukan cuma ikon kebaya nasional, tapi juga tokoh feminis level platinum,” bisik seorang ibu-ibu berkerudung bunga-bunga di sebelah saya. “Lah iya, Bu. Dulu Kartini tuh kalau punya akun X (dulu Twitter), udah verified centang emas tuh,” saya balas sambil senyum.

Emak-Emak Matic dan Perempuan Teknologi di antara aura sejarah yang kental, Wamenekraf Irene nggak mau kalah. Ia membawa kabar baik ala Kartini versi 5G.

“Kami  ada program ‘Emak-Emak Matic’, yaitu membuat anak teknologi Indonesia cakap, bukan motor matic ya, tapi emak-emak yang kita ajari coding, jualan online, sampai digital marketing,” jelas Irene dengan penuh semangat sambil sesekali lempar jokes.

“Kalau dulu Kartini nulis surat pakai tinta, sekarang emak-emak nulis caption jualan pakai AI.”

Bayangkan, emak-emak yang dulu cuma main Candy Crush, sekarang bisa buka toko online dan ngiklan pakai SEO. Betul-betul dari dapur ke digital dalam satu sentuhan jempol.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pidato yang cukup berapi-api, tapi tetap puitis. “Kartini bukan hanya pejuang perempuan, tapi pejuang bangsa. Maka kita hormati bukan hanya simbolnya, tapi juga semangatnya,” ujarnya.

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Jumario ikut hadir, mungkin karena merasa jadi bagian dari generasi yang perlu ‘menyunting’ sejarah dengan nada yang lebih pop. Ada juga Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana yang sempat selfie di depan lukisan Kartini. “Biar feed Instagram-nya berbudaya,” kata salah satu staf sambil nyengir.

Pameran “Sunting” bukan cuma pameran. Ia adalah panggung kecil tempat sejarah dan masa kini berdansa. Dari surat cinta Kartini ke modernitas emak-emak matic, semua nyambung kayak sambungan Wi-Fi di rumah kadang lemot, tapi tetap nyambung kalau sabar.

Jadi, kalau dulu Kartini bisa mengubah zaman hanya dengan pena dan surat, masa sekarang kita yang punya HP, Google, dan TikTok nggak bisa juga? Kalau dulu surat Kartini sampai ke Belanda, masa status WA kita enggak bisa sampai hati suami?

Yuk, mari jadi Kartini masa kini. Bukan cuma pakai kebaya setahun sekali, tapi juga mikir, bergerak, dan berkarya tiap hari. Karena seperti kata Wamenekraf Irene: “Kalau dulu Kartini bisa, masa kita enggak bisa?”
Setuju, Bu. Tapi boleh nanya dulu  emak-emak matic itu udah bisa pake Canva belum?.[***]

Terpopuler

To Top