TAK semua orang kebagian tempat di dalam masjid. Tapi pagi itu, tak ada yang merasa kekurangan ruang.
Arus jemaah terus datang ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sejak subuh. Langkah mereka satu arah, membawa sajadah, mengajak keluarga, dan menyatu dalam tujuan yang sama menunaikan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Namun, halaman masjid yang luas itu pun perlahan tak lagi cukup menampung.
Saf demi saf terbentuk rapi. Dari pelataran, melebar ke halaman, lalu menjalar ke jalan sekitar. Dalam waktu singkat, lanskap kota ikut berubah. Kawasan yang biasanya dipenuhi kendaraan, pagi itu berganti jadi ruang ibadah terbuka.
Di titik inilah pemandangan berbeda muncul. Jemaah tak lagi berhenti di batas masjid. Mereka terus mengalir hingga mendekati kawasan Jembatan Ampera. Ikon kota itu seolah ikut menjadi bagian dari hamparan sajadah panjang menghubungkan satu saf dengan saf lainnya.
Tak ada komando khusus, tapi semua bergerak tertib. Jemaah menyesuaikan posisi, merapatkan barisan, saling memberi ruang. Yang datang belakangan tak memilih pulang. Mereka justru mencari celah, berdiri di sisi jalan, lalu ikut larut dalam kekhusyukan.
Perkiraan jumlah jemaah yang mencapai sekitar 20 ribu orang bukan lagi sekadar angka. Ia terasa nyata dari padatnya barisan yang nyaris tak terputus. Bahkan dari kejauhan, yang terlihat bukan lagi individu, melainkan gelombang manusia yang bergerak dalam ritme yang sama.
Momen ini juga memperlihatkan sisi lain dari Lebaran di Palembang. Tak ada sekat yang terasa. Pejabat dan masyarakat berada dalam satu saf yang sama. Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, dijadwalkan hadir bersama masyarakat. Begitu pula Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang setiap tahun memilih melaksanakan salat Id di masjid ini.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Masjid Agung SMB II memang sudah lama menjadi titik temu warga saat hari besar keagamaan. Bukan hanya karena kapasitasnya, tapi karena posisinya yang berada di jantung kota mudah dijangkau, sekaligus punya nilai historis bagi masyarakat.
Sekretaris Umum Masjid Agung SMB II, Kemas Iqbal Hasan Zainal, membenarkan bahwa kehadiran tokoh-tokoh daerah sudah terjadwal. Namun, yang lebih menarik justru bagaimana semua yang hadir tetap menyatu tanpa pembeda.
Di tengah padatnya jemaah, suasana tetap terjaga. Tak ada dorongan, tak ada kepanikan. Justru yang terlihat adalah saling pengertian. Orang-orang saling mengingatkan untuk merapatkan saf, memberi jalan bagi yang masih mencari tempat, hingga memastikan barisan tetap lurus.
Di sisi lain, suasana kota ikut menyesuaikan. Lalu lintas di sekitar kawasan masjid dan Ampera melambat, bahkan berhenti di beberapa titik. Namun, tak ada keluhan berarti. Warga tampak memahami bahwa pagi itu adalah milik bersama.
Fenomena “Ampera jadi sajadah panjang” bukan sekadar gambaran puitis. Ia benar-benar terjadi terlihat, terasa, dan dialami langsung oleh ribuan orang yang hadir. Sebuah momen ketika ruang kota berubah fungsi, dari jalur kendaraan menjadi tempat sujud berjamaah.
Lebaran kali ini pun menghadirkan pesan sederhana, tapi kuat. Ketika jumlah jemaah melampaui kapasitas ruang, yang meluas bukan hanya barisan, tapi juga rasa kebersamaan.
Tak semua kebersamaan bisa direncanakan. Ada yang tumbuh begitu saja, seperti pagi itu ketika orang-orang berdiri berdampingan, tanpa saling kenal, tapi tetap merasa dekat.
Dan di antara saf yang memanjang hingga Ampera, kota ini seolah mengingatkan satu hal dalam momen tertentu, semua perbedaan bisa luruh, menyisakan satu arah yang sama bersujud bersama.(***)