Perbankan & Keuangan

Dari Kredit ke Kopi, dari Gorengan ke Gedung, BSB Muaradua Jadi ATM Impian Warga OKU Selatan

bsb

Sumselterkini.co.id, – Kalau ada lomba “Bank Daerah Paling Membumi”, Bank Sumsel Babel [BSB] Cabang Muaradua Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan, boleh maju duluan sambil senyum lebar dan bawa berkas kredit. Soalnya, bank ini bukan cuma pinter ngitung bunga, tapi juga jago bikin rakyat kecil berbunga-bunga.

Di Kabupaten itu sekarang, ekonomi bukan lagi sekadar kata rumit di seminar kantor, tapi sudah jadi kenyataan yang bisa dipegang. Dan kalau ekonomi itu ibarat motor, maka Bank Sumsel Babel adalah bensinnya yang ngasih dorongan supaya petani bisa panen, tukang gorengan bisa ngaduk adonan tanpa deg-degan, dan kontraktor bisa bangun jalan tanpa harus pinjam ke rentenir bermuka tiga.

Contohnya? Hajmi Asrul, petani kopi dengan jam terbang tinggi, sudah empat kali dapat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bukan karena dia jago sulap, tapi karena syaratnya lengkap dan niatnya kuat.

“Saya pikir pertama kali bakal ribet, ternyata cepat kok. Petugasnya bahkan sampe ke kebun saya. Lihat sendiri, bukan cuma dari Google Maps,” katanya sambil nyengir, nyeruput kopi hasil panen sendiri belum lama ini.

Lalu ada Rumiyana, diva gorengan pasar yang jualan risol, donat, sampai pastel yang renyahnya ngalahin drama sinetron. Ia juga dapat KUR. Prosesnya? Cepat, ramah, dan nggak pakai istilah keuangan yang bikin kepala puyeng.

“Saya belum sempet nyuci blender, udah disurvei sama petugas bank,” katanya sambil melipat plastik gorengan.

Tak cuma urus perut, Bank Sumsel Babel juga urus atap. Lewat program Kredit Griya Sejahtera FLPP, udah 157 warga punya rumah sendiri. Salah satunya Antoni, pegawai outsourcing yang juga petani kopi paruh waktu.

“Dulu saya pikir rumah cuma buat orang yang punya dasi. Eh ternyata Bank Sumsel Babel bikin saya punya rumah pakai celana training juga bisa,” ujarnya sambil ngelap cangkul.

Ternyata, semangat Bank Sumsel Babel ini mirip-mirip sama Grameen Bank di Bangladesh didirikan oleh Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, ia bilang“Credit is a human right”. Artinya akses keuangan bukan cuma hak orang berdasi dan bertitel sarjana ekonomi, tapi juga buat emak-emak penggiling cabe, petani kopi, bahkan pengamen yang sedang naik daun.

Di Amerika Serikat, bank sosial seperti Kiva bahkan menyalurkan pinjaman mikro ke warga negara berkembang lewat sistem daring. Tapi bedanya, Bank Sumsel Babel nggak pakai layar monitor, cukup pakai sepatu boots dan jalan kaki ke ladang buat survei langsung. Lebih akrab dan tak kenal sinyal lemot.

John Maynard Keynes pernah bilang“If enterprise is afoot, wealth accumulates. If enterprise is asleep, wealth decays.”
Maknanya selama usaha jalan, rezeki lancar. Tapi kalau pengusaha tidur-tiduran, ya kekayaan juga ikut rebahan.

Dan Bank Sumsel Babel tampaknya tahu benar bahwa rakyat kecil butuh bukan hanya uang, tapi juga keberanian buat melangkah. Maka dari itu, mereka hadir bukan dengan janji manis, tapi kredit yang realistis.

Ekonomi daerah bukan dibangun dari rencana lima halaman, tapi dari formulir dua lembar yang diisi penuh harapan.

Dari hajatan petani sampai kontrakan pegawai swasta, semua bisa hidup kalau ada satu hal, yakni kata kuncinya ‘kepercayaan’, dan Bank Sumsel Babel membuktikan itu,  dengan segala keramahan dan kredibilitasnya, sudah jadi simbol bahwa mimpi itu bisa dicicil dan dicapai selama kita berani mencoba.

Jadi, buat warga OKU Selatan yang masih bingung cari modal, jangan cari pinjaman dari chat WhatsApp yang fotonya anime, carilah dari bank berseragam yang beneran datang ke kebunmu.

Bank Sumsel Babel hadir bukan untuk memberi beban, tapi memberi dorongan. Bukan jadi penonton, tapi jadi mitra setia pembangunan ekonomi dari bawah ke atas, karena, seperti kata Warren Buffett “The best investment you can make is in yourself.”  . Dan… kalau kata Bank Sumsel Babel. “Investasi terbaik kami? Ya warga OKU Selatan sendiri!”.[***]

 

To Top