Pendidikan

Uang Saku Magang Naik, Anak Muda Belajar Mandiri Finansial

ist

UANG saku magang naik, sehingga anak muda bisa belajar mandiri secara finansial.

Dalam Peserta Program Pemagangan Nasional kini tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja nyata, tetapi juga kesempatan mengasah kemampuan mengelola keuangan. Kementerian Ketenagakerjaan menyesuaikan uang saku peserta dengan kenaikan Upah Minimum Tahun 2026, memberikan ruang bagi generasi muda belajar hidup mandiri dan produktif.

Selama menjalani program magang, peserta menerima uang saku yang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Banyak dari mereka memanfaatkannya untuk menabung, membeli buku, atau membantu keluarga.

Fenomena ini menunjukkan  magang bukan sekadar praktik kerja, tetapi juga ajang belajar literasi keuangan sejak dini.

Di berbagai wilayah, kenaikan uang saku mengikuti Upah Minimum Provinsi. Misalnya, di Sumatera Barat, Upah Minimum naik dari Rp2.994.193 pada 2025 menjadi Rp3.182.955 pada 2026. Penyesuaian ini berdampak langsung pada jumlah uang saku peserta, memberi mereka kapasitas lebih besar untuk mengelola kebutuhan dan tabungan pribadi.

Para peserta melaporkan bahwa dengan uang saku yang cukup, mereka mampu membagi pengeluaran secara bijak. Sebagian menyisihkan untuk menabung, sebagian lagi digunakan untuk biaya transportasi, makan, dan perlengkapan magang.

Beberapa bahkan mulai merencanakan proyek pribadi atau investasi kecil-kecilan. Hal ini menegaskan  magang menjadi laboratorium nyata bagi kemandirian finansial.

Selain memberi pengalaman praktis, program ini mendorong peserta mengembangkan disiplin pengelolaan keuangan.

“Kita ingin anak muda memahami nilai uang, belajar membuat anggaran, dan memprioritaskan pengeluaran,” kata pengamat pendidikan vokasi. Pola ini diharapkan membekali mereka menghadapi tantangan dunia kerja sesungguhnya, di mana pengelolaan finansial pribadi menjadi bagian penting dari kesiapan profesional.

Program Pemagangan Nasional juga menekankan adaptasi peserta terhadap kebutuhan industri. Dengan membekali mereka kemampuan finansial sekaligus keterampilan teknis, program ini meningkatkan peluang peserta menjadi tenaga kerja mandiri dan kompeten.

Pengalaman mengatur uang saku sekaligus belajar di tempat kerja menyiapkan generasi muda menghadapi dunia profesional dengan lebih percaya diri.

Para peserta yang ditemui di lokasi magang mengatakan  pengalaman mengelola uang saku memberikan rasa tanggung jawab yang nyata.

“Dulu saya hanya mengandalkan orang tua. Sekarang, saya belajar membagi uang untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung,” kata seorang peserta di RS Universitas Andalas. Pendekatan ini mengubah persepsi peserta tentang uang, dari sekadar konsumsi menjadi alat pembelajaran dan investasi masa depan.

Kementerian Ketenagakerjaan menekankan  tujuan program bukan sekadar memberi uang saku, tetapi membentuk generasi muda yang cerdas secara finansial dan profesional.

Menurut Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, penyesuaian uang saku mengikuti UM 2026 juga sebagai langkah strategis membekali peserta dengan pengalaman hidup mandiri yang relevan dengan dunia kerja. (****)

To Top