PONDOK Pesantren At-Tibyan membuka pendaftaran santri baru tahun ajaran 2026-2027 dengan kuota terbatas. Hanya 20 santri per jenjang.
Lembaga ini menegaskan fokus pada kualitas pendidikan tahfidz Al-Qur’an dan pembentukan akhlak, bukan sekadar menambah jumlah peserta didik.
Langkah ini terasa kontras, tapi justru dimemilik daya tarik sendiri pasalnya di usia yang baru dua tahun, pesantren yang berlokasi di Desa Dawas/Tanjung Dalam, Kecamatan Keluang,Kabupaten Musi Banyuasin ini tidak tergoda untuk sekadar ‘ramai’, mereka tetap memilih selektif.
Diasuh langsung KH Syarofi Syarkowi, Ponpes At-Tibyan Li Tahfidzil Qur’an resmi membuka pendaftaran santri dan santriwati baru tahun ajaran 2026–2027.
Fokus utamanya tahfidz Al-Qur’an dan pembentukan akhlak islami. “Kalau terlalu banyak, perhatian ke santri bisa terbagi. Kami ingin setiap anak benar-benar terarah,” kira-kira begitu filosofi yang dipegangnya.
Ibarat menanam, bukan soal seberapa luas lahan, tapi seberapa serius merawat tiap bibit.
Minat masyarakat terhadap pendidikan berbasis Al-Qur’an sendiri terus meningkat di tengah kekhawatiran orang tua terhadap lingkungan dan perkembangan zaman, pesantren dengan pendekatan tahfidz menjadi pilihan yang makin dilirik. At-Tibyan membaca momentum itu, tapi tidak latah.
Kuota yang dibatasi menjadi semacam filter alami, apalagi bukan untuk mempersulit, melainkan memastikan proses pendidikan berjalan optimal.
Bahkan setiap santri diharapkan tidak hanya mengejar hafalan, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam keseharian.
Menariknya lagi, di tengah keterbatasan kuota itu, At-Tibyan tetap membuka ruang luas untuk kepedulian sosial.
Lembaga ini menyediakan beasiswa penuh bagi anak yatim piatu dari berbagai daerah, hal itu tentu sebuah langkah yang bukan hanya soal pendidikan, tapi juga bentuk khidmah kepada umat.
Bukan penghalang
Apalagi pesantren itu tidak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga ruang harapan, keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk dekat dengan Al-Qur’an.
Dari sisi kurikulum, At-Tibyan juga tidak berjalan di satu jalur saja.
Mereka menggabungkan kurikulum Diknas, Kemenag, dan sistem terpadu yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Artinya, santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tapi juga pengetahuan umum yang relevan.
Kombinasi ini menjadi penting lantaran tantangan generasi hari ini bukan hanya soal hafalan, tapi juga kemampuan beradaptasi di dunia yang terus berubah.
At-Tibyan mencoba menjembatani keduanya, yaitu nilai tradisi dan tuntutan modern.
Pilihan untuk membatasi jumlah santri bisa jadi terlihat tidak biasa di tengah persaingan lembaga pendidikan.
Namun justru dari situ muncul pesan yang kuat, berkualitas, tidak lahir dari keramaian, tapi dari keseriusan dalam proses.
Bagi orang tua yang sedang mencari pendidikan berbasis Al-Qur’an dengan pendekatan lebih personal, At-Tibyan menawarkan sesuatu yang berbeda.
Bukan cuma tempat menitipkan anak, tapi ruang untuk membentuk karakter dan masa depan.
Pendaftaran santri baru tahun ajaran 2026–2027 kini telah dibuka. Dengan kuota terbatas, peluang tentu tidak akan datang dua kali.
Selebihnya, tinggal pilihan, ikut arus, atau memilih jalan yang lebih terarah. (***)