Pendidikan

Anak-anak Palembang Ubah Sampah Jadi Amal di Desa Qur’an

ist

ANAK-anak SD dan SMP di Sekolah Qur’anpreneur Indonesia (SQI) memulai Ramadhan dengan cara yang tidak biasa: mengubah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk dan kompos. Kegiatan ini menjadi bagian dari Opening Desa Qur’an Festival II, yang menghadirkan 100 tokoh inspiratif dari Sumatera Selatan.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Lebak Jaya III, Sungai Selayur, menawarkan pendidikan gratis tanpa iuran bulanan. Sebagai gantinya, setiap siswa wajib membawa sampah organik tiga kilogram per bulan. Sampah itu diolah menjadi kompos, pupuk cair, dan nutrisi tanaman, yang kemudian dijual untuk mendukung operasional sekolah.

“Ini cara kami mendidik anak agar peduli lingkungan sekaligus belajar nilai ekonomi,” ujar Isnaini Madani, Asisten II Setda Kota Palembang.

Anak-anak juga belajar menanam sayur, buah, dan budidaya tanaman lain, sambil mempraktikkan kewirausahaan secara langsung.

Festival ini memadukan hafalan Al-Qur’an, pendidikan formal, dan keterampilan berbasis lingkungan. Anak-anak tidak hanya duduk di kelas, tetapi aktif menanam, mengolah, dan memasarkan hasil kerja mereka. Metode ini melatih mereka memahami proses produksi, nilai jual, dan manfaat lingkungan sekaligus.

“SQI bukan sekadar menghafal kitab suci, tapi menanam karakter, kemandirian, dan kepedulian sosial,” jelas Muhammad Syafi’i, Kepala Destinasi Wisata (Desa) Qur’an.

Ia menambahkan bahwa pendekatan terpadu ini menyiapkan generasi yang unggul secara spiritual, intelektual, dan praktis.

Rangkaian festival berlangsung hingga 13 Maret 2026. Puncaknya berupa khataman 30 juz Al-Qur’an dan doa bersama yang melibatkan 389 anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pendidikan agama bisa digabungkan dengan praktik nyata yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Pendaftaran di SQI tetap sederhana anak-anak cukup membawa Kartu Keluarga, KTP orang tua, dan surat keterangan tidak mampu dari pejabat berwenang. Dengan sistem ini, akses pendidikan berkualitas terbuka untuk semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Festival ini menarik perhatian karena cara penyampaian dan metode pembelajaran yang berbeda dari sekolah pada umumnya. Anak-anak belajar dengan cara langsung, mengalami proses, dan melihat dampak dari usaha mereka sendiri.

Hasilnya, mereka tidak hanya paham Al-Qur’an, tapi juga paham bagaimana menciptakan manfaat bagi lingkungan dan ekonomi lokal.

Menutup acara, Isnaini Madani memberi apresiasi hangat.

Ia menilai inovasi SQI sebagai langkah kreatif yang memadukan pendidikan, kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan. Anak-anak bisa belajar tanpa beban biaya, sekaligus mendapatkan pengalaman nyata yang membentuk karakter dan kemandirian.

Di Desa Qur’an, Ramadhan bukan hanya soal puasa dan doa, tetapi juga tentang kreativitas, amal, dan pembelajaran nyata. Dari sampah rumah tangga, anak-anak belajar nilai usaha, peduli lingkungan, dan memberi manfaat yang terus berkelanjutan. Sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan bisa menyenangkan, bermanfaat, dan inspiratif sekaligus. (***)

To Top