Palembang Terkini

MC Kampung Melawan Statistik, Kisah Petualangan Dolah Belut & BPS

ist

BAGI orang Palembang, nama Dolah Belut bukan asing lagi, lelaki kurus ini sudah langganan jadi MC kampung di acara hajatan, lomba 17-an, sampai pengajian ibu-ibu.

Suaranya lantang, gaya bicaranya nyeleneh, dan setiap kali pegang mic, pasti ada pantun dadakan yang kadang nggak nyambung tapi bikin orang ketawa. Julukan “Belut” ia dapat bukan karena licin dalam menari, tapi karena dulu sering nyari belut di rawa dan licinnya minta ampun kalau diajak ngomong soal utang. Kalau Dolah sudah bilang “nanti”, itu artinya bisa besok, bulan depan, atau lebaran haji tahun depan.

Nah, minggu kemarin, Dolah lagi nyiapin sound system buat acara lomba joget emak-emak, eh tiba-tiba datanglah segerombolan orang pakai rompi oranye, bawa map, tablet, dan muka serius. Rupanya mereka dari Badan Pusat Statistik (BPS). Misinya ngumpulin data rumah tangga di kampung.

Masalahnya, sebagian warga sini punya penyakit “was-was kalau ditanya”. Belum sempat dijelaskan maksud survei, udah pasang jurus pintu rapat, tirai tertutup. Alasannya macam-macam takut dibilang miskin, takut dianggap kaya, takut namanya masuk daftar penerima sumbangan sapi kurban, atau takut nanti disuruh bayar pajak panci.

BPS sampe curhat ke Dolah, katanya “Pak Dolah, kalau satu rumah tangga nolak, itu sama saja kami kehilangan informasi yang mewakili 60.000 orang. Bayangin, kayak ilang satu keping puzzle yang bikin gambarnya bolong”.

Dolah langsung nyamber, “Oalah, jadi data ini kayak lirik lagu, ya? Hilang satu kata aja, nyanyinya jadi fals.”

Dolah akhirnya didapuk jadi “jembatan” antara BPS dan warga. Dengan modal toa dan gaya MC kawinannya, dia keliling kampung sambil teriak “Ayo ibu-ibu, bapak-bapak… jangan takut sama orang bawa tablet ini! Mereka bukan mau jualan asuransi, ini demi masa depan kampung kita. Kata pepatah, ‘Kalau mau enak di masa depan, kasih data yang bener di masa sekarang’.”

Eh, bener saja. Warga yang awalnya ngumpet mulai keluar, apalagi setelah Dolah janji setiap yang mau diwawancara akan dapat “bonus” segelas teh manis di rumahnya (modal gulanya nyicil dari warung).

Tapi Dolah juga nyelipin sindiran halus “Kalau kita bohongin BPS, jangan kaget kalau kebijakan nanti meleset. Ibarat pesan nasi uduk tapi yang datang malah nasi kuning gara-gara alamatnya salah tulis.”

Hasilnya? Survei BPS lancar, warga malah senang karena merasa dilibatkan. Dolah pun bangga, katanya dia sekarang sudah naik jabatan dari MC kawinan jadi “MC pembangunan”.

Menurutnya data itu bukan cuma angka di kertas, tapi peta jalan masa depan. Kalau petanya salah, yang nyasar bukan cuma pemerintah, tapi kita semua. Jadi, kata Dolah, “Kalau negara ini mau maju, jangan cuma gotong royong pas hajatan, tapi juga pas ngumpulin data.”

Wali Kota Palembang, Drs. Ratu Dewa, menegaskan komitmen Pemkot untuk mendampingi BPS dalam proses pengambilan data di lapangan. “Selain bersilaturahmi, juga membahas pelaksanaan survei sosial ekonomi yang akan dilakukan dalam waktu dekat.

Harapannya, pemerintah kota bisa memberikan pendampingan agar petugas BPS di lapangan dapat bekerja lancar, sekaligus memastikan data kemiskinan dan inflasi daerah terintegrasi,” ujarnya.

Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, menambahkan pentingnya partisipasi masyarakat.“Tidak semua rumah tangga mau menerima petugas BPS. Padahal, data yang kami kumpulkan, seperti Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), sangat penting untuk mengukur tingkat pengangguran. Satu rumah tangga yang menolak bisa mewakili hilangnya informasi untuk sekitar 60.000 orang. Kalau datanya bagus, kebijakan pemerintah akan lebih tepat,” jelasnya.[***]

Catatan redaksi : tulisan ini disusun berdasarkan rilis resmi yang telah dikembangkan oleh redaksi dengan tambahan unsur fiksi, dialog, dan penggambaran naratif. Beberapa tokoh, percakapan, atau situasi yang muncul dalam naskah mungkin bersifat imajinatif untuk memperkuat alur cerita, namun inti informasi dan data tetap mengacu pada sumber resmi.

Terpopuler

To Top