Sumselterkini.co.id, – “Pak, itu kapal bendera Tiongkok lagi ngambang di selatan Bali, mancing atau nyolong, Pak?”
“Kalau dia mancing, kenapa kita yang boncos?”
“Lha iya, saya mancing di empang belakang rumah aja disuruh bayar karcis, itu di laut lepas kok gratisan!”
Begitulah kira-kira obrolan warung kopi di pinggir dermaga yang belakangan makin panas, bukan karena pemilu atau isu bintang sinetron pindah haluan jadi ustazah, tapi karena laut kita yang katanya zamrud khatulistiwa, malah dijadikan kolam pancing bersama oleh kapal-kapal asing tanpa tiket masuk.
Untunglah, di tengah ombak pencurian ikan yang kadang bikin kita, seperti pemilik rumah yang kecolongan di ruang tamu sendiri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan taringnya. Bukan taring buaya, tapi lebih mirip taring sersan mayor yang baru diganti posisi jadi komandan patroli laut.
Coba kita bayangkan Rp774,3 miliar yang berhasil diselamatkan KKP karena menggulung kapal-kapal maling laut itu, kalau dijadikan bantuan untuk mengatasi stunting di Indonesia, bisa jadi gizi nasional naik kelas.
Kalau satu anak butuh sekitar Rp1 juta per tahun buat tambahan gizi (bisa makan telur, sayur, dan susu UHT seminggu dua kali), duit itu bisa menyelamatkan 774 ribu anak dari perut buncit tapi bukan karena kenyang melainkan kurang gizi.
Sudah lama kita dengar pepatah, “laut adalah masa depan bangsa”, tapi kalau isinya malah dijarah asing, ya masa depan itu tinggal tinggal kenangan. Mirip janji mantan waktu masih sayang-sayangnya.
Dari total 32 kapal pelaku illegal fishing, 9 di antaranya adalah kapal asing. Yang paling banyak, dari Filipina, disusul Vietnam, Malaysia, dan bahkan satu kapal dari Tiongkok. Kita jadi mikir, ini laut kita apa laut milik ASEAN plus-plus?
Kalau ini dunia silat, maka mereka ini seperti pendekar dari perguruan sebelah yang diam-diam nyusup ke padepokan kita, ngambil jurus, bawa kabur kitab, dan nyuri pisang goreng di dapur.
Untunglah tim dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) seperti pendekar penjaga gapura laut, siap membabat siapa pun yang coba-coba nyuri ikan kita.
Satu lagi modus nyebelin rumpon ilegal. Rumpon itu semacam jebakan betmen buat ikan. Biasanya digunakan untuk menarik ikan berkumpul, biar gampang ditangkap.
Tapi kalau dipasang oleh nelayan asing secara sembarangan dan masif, itu seperti bangun pagar listrik di tengah jalan umum. Akibatnya? Ikan-ikan takut lewat ke laut kita. Nelayan lokal pun harus melaut makin jauh, makin boros solar, dan makin tipis tabungan.
Kata Pak Ipunk (Direktur Jenderal PSDKP), nelayan-nelayan dari Sulawesi Utara, Biak, dan Maluku Utara sampai ngeluh karena lokasi tangkap makin jauh.
Bayangkan, ini seperti kita punya pohon mangga di halaman, tapi nggak bisa metik karena tetangga sudah pasang jaring dari malam.
Kita mesti ngaku, KKP kali ini seperti emak-emak yang pasang CCTV dan sapu lidi di gerbang rumah. Siapa maling lewat, langsung disapu tanpa ampun. Tapi bukan cuma urusan penangkapan, yang penting juga adalah bagaimana kita memanusiakan ikan dan nelayan.
Nelayan lokal harus jadi tuan rumah di laut sendiri, bukan jadi penonton dari kapal asing yang senyum-senyum sambil nyolong.
Menteri Sakti Wahyu Trenggono sendiri sudah menegaskan bahwa illegal fishing ini tak hanya merugikan secara ekonomi, tapi juga menggerus harga diri bangsa.
Lha iya, kalau sumber daya laut kita dikeruk terus, kita ini lama-lama bukan negara maritim, tapi negara mantan maritim.
Laut Indonesia itu ibarat kulkas nasional. Kalau kulkasnya terus-menerus dibobol maling, anak-anak kita besok makan apa?
Kedaulatan laut bukan cuma urusan armada dan bendera, tapi juga urusan isi piring rumah tangga.
Karena itu, langkah KKP patut kita dukung sambil kita teriak bersama
“Jangan kasih kendor, Pak! Laut ini bukan pasar loak!”
Dan kepada kapal-kapal asing yang suka nyelonong seenaknya, kami cuma ingin bilang.“Kalau niatnya nyolong, pulang sana, Bang. Kami di sini sudah cukup banyak utang, jangan ditambah luka ikan kami.”
“Bang, laut kita dijaga siapa sekarang?”
“Dijaga KKP, dan semoga kita semua ikut jaga juga. Biar anak cucu nanti bisa mancing, bukan mancing keributan.”
“Lebih baik jaring putus daripada kedaulatan bocor.”– Petuah nelayan senior, sambil ngopi di pinggir perahu. Aamiin.[***]