Pramuka Jabar Masuk Dapur Pengolahan Sampah KLH, Lihat Maggot hingga Minyak Jelantah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenlh.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Puluhan anggota Pramuka Kontingen Jawa Barat tidak hanya berkemah saat mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) XII. Sabtu (15/8/2026), mereka keluar dari arena perkemahan dan mendatangi Kantor Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta Timur untuk melihat langsung bagaimana sampah diolah.
Di lokasi, peserta tidak sekadar menerima materi. Mereka diajak berkeliling melihat fasilitas pengelolaan sampah yang selama ini jarang ditemui dalam kegiatan Pramuka.
Perjalanan dimulai dari bank sampah, lubang biopori, dan komposter komunal. Dari sana, peserta melihat pengolahan sampah organik menggunakan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Maggot menjadi salah satu bagian dari sistem pengolahan yang menarik perhatian peserta. Sampah organik dimanfaatkan dalam siklus yang terhubung dengan budidaya ayam dan lele.
Peserta kemudian melihat proses pengolahan minyak jelantah, pembuatan eco-enzyme, hingga penggunaan bioreaktor. Rangkaian kunjungan berlanjut ke Media Center KLH/BPLH dan dapur siar.
Bagi KLH/BPLH, kunjungan seperti ini penting agar edukasi lingkungan tidak berhenti pada teori.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup KLH/BPLH Lulu Agustina mengatakan, kebiasaan menjaga lingkungan bisa dimulai dari tindakan yang paling sederhana.
“Kalau kita ingin berkontribusi ketika kita peduli dengan lingkungan, tidak perlu mulai dari hal besar yang tidak bisa kita jangkau. Kita sebenarnya bisa mulai dari hal-hal kecil,” kata Lulu.
Salah satunya dengan memilah sampah dari rumah.
Menurut Lulu, kebiasaan tersebut menjadi langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja. Sampah yang sudah dipilah sejak sumbernya akan lebih mudah dikelola dan tidak seluruhnya berakhir sebagai beban di tempat pembuangan.
“Dengan aku mulai memilah sampah, aku sudah bisa mulai berkontribusi untuk lingkungan,” ujarnya.
Bagi Kontingen Jawa Barat, pengalaman melihat langsung pengelolaan sampah menjadi bagian dari pendidikan karakter peserta.
Pimpinan Kontingen Jawa Barat Alfi Hidayati mengatakan, peserta perlu mendapatkan pengalaman di luar kegiatan perkemahan agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai materi.
“Kami ingin membentuk karakter adik-adik kami, kemudian menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan, disertai pengalaman nyata dan belajar nyata guna menambah wawasan edukasi kepada peserta didik kami,” kata Alfi.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari dukungan KLH/BPLH di arena Jamnas XII. Dua kendaraan roda tiga disiapkan untuk mengangkut sampah, sedangkan waste station digunakan untuk mendorong pemilahan sampah anorganik.
Untuk sampah organik, pengolahan dilakukan dari sumber dengan memanfaatkan lubang biopori.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pengelolaan sampah yang tidak hanya mengandalkan pengangkutan. Sampah dipilah, diolah, dan sebisa mungkin diselesaikan sejak dari titik asalnya.
Kolaborasi dengan Pramuka juga diarahkan berlanjut setelah Jamnas XII selesai. Sekitar 350 anggota Saka Kalpataru DKI Jakarta dipersiapkan untuk dikukuhkan sebagai Satgas Pramuka Peduli Lingkungan.
Satgas ini nantinya diarahkan untuk memperkuat edukasi lingkungan sekaligus mendorong aksi nyata di tengah masyarakat.
Bagi para peserta yang mengikuti kunjungan tersebut, pelajaran utamanya tidak rumit sampah yang biasanya dianggap sebagai barang buangan ternyata masih bisa diolah dan dimanfaatkan.
Persoalannya tinggal satu apakah kebiasaan memilah dan mengolah sampah itu dibawa pulang dari lokasi kunjungan dan benar-benar dilakukan setiap hari. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
