Lingkungan

Kejar 1.000 Ton, Armada Sampah Palembang Minus 60

ist,

PALEMBANG  memacu proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebagai mesin baru pengurai krisis sampah kota. Fasilitas itu menargetkan pasokan 1.000 ton sampah per hari agar turbin bisa berputar stabil dan listrik mengalir ke jaringan.

Namun di lapangan, rantai pasoknya belum sepenuhnya siap. Pemerintah Kota Palembang masih kekurangan 60 armada pengangkut untuk mengejar ritme distribusi yang konsisten dari 18 kecamatan.

Kota ini memproduksi 1.200-1.500 ton sampah setiap hari. Truk-truk mengumpulkan sampah dari ratusan TPS, lalu mengirimkannya ke lokasi pengolahan di kawasan Keramasan.

Di atas kertas, angka produksi itu cukup untuk memberi makan PLTSa.

Di jalanan, persoalannya berbeda waktu tempuh, usia kendaraan, hingga jadwal angkut menentukan apakah 1.000 ton benar-benar tiba tepat waktu.

Dinas terkait mencatat Palembang saat ini mengoperasikan sekitar 160 armada.

Untuk menopang operasi PLTSa yang dirancang bekerja 20–24 jam per hari dengan laju 40-50 ton per jam, kota ini membutuhkan sedikitnya 220 unit.

Kekurangan 60 truk membuat manajemen harus memutar otak mempercepat ritase, meremajakan kendaraan tua, dan menyusun ulang rute agar tidak terjadi bottleneck di TPS.

PLTSa Keramasan tidak sekadar membakar sampah. Sistem menampung material di bunker hingga tujuh hari sebelum memprosesnya melalui pembakaran suhu tinggi.

Uap dari proses itu memutar turbin dan menghasilkan listrik. Proyek ini memproyeksikan daya 20 megawatt (MW), dengan sekitar 17,7 MW disalurkan ke jaringan Perusahaan Listrik Negara.

Artinya, setiap gangguan pasokan bahan baku dalam hal ini sampah berpotensi mengganggu kontinuitas produksi energi.

Kota menargetkan pengurangan timbunan hingga 30 persen melalui skema ini.

Operator fasilitas menyebut volume sampah yang masuk dapat menyusut hingga 80 persen setelah diproses.

Tetapi target itu mensyaratkan pasokan stabil, spesifikasi sesuai, dan pengiriman tepat waktu. Tanpa armada yang cukup, truk bisa antre, sampah bisa menumpuk di TPS, dan jadwal bakar bisa meleset.

Di sisi lain, Palembang sudah membangun 96 bank sampah dari total 107 kelurahan.

Setiap unit mampu mengurangi 0,5-1 ton per hari.

Kontribusi itu membantu, namun PLTSa tetap memerlukan aliran material dalam skala besar.

Kota kini menyiapkan langkah peremajaan kendaraan dan pengadaan unit baru untuk menutup selisih 60 armada.

Pejabat teknis juga menyiapkan skema berbasis data untuk memetakan produksi sampah per kecamatan agar distribusi lebih presisi.

Proyek ini muncul saat tekanan terhadap TPA terus meningkat. Dengan produksi harian menembus 1.200 ton, ruang tampung cepat menyempit.

PLTSa diharapkan menekan beban tersebut sekaligus menambah pasokan listrik kota.

Tantangannya jelas membangun teknologi saja tidak cukup kota harus memastikan logistik bergerak secepat mesin.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan PLTSa akan menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah kota dan berperan besar menekan volume timbunan.

Ia mengakui kekurangan armada menjadi pekerjaan rumah yang segera dituntaskan melalui peremajaan dan pengadaan baru agar distribusi efektif.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Palembang, Dr Akhmad Mustain, menyatakan fasilitas akan beroperasi hampir penuh waktu dengan kontrol emisi berlapis, dan listrik yang dihasilkan akan memperkuat pasokan kota melalui jaringan PLN. (***)

To Top