Jasa & Niaga

Di Balik Label Gratis Ongkir

komdigi

Sumselterkini.co.id- Mari kita luruskan jalur paket yang nyasar di kepala gratis ongkir itu tidak dilarang! Yang dilarang itu diskon ngawur dari kurir yang bikin mereka harus ngojek sambilan demi beli minyak goreng. Nah, beda kan? Jadi sebelum demo depan kantor pos sambil bawa spanduk bertulisan “Hidup Gratis Ongkir”, mending kita simak dulu arah mata angin dari Peraturan Menteri Komdigi Nomor 8 Tahun 2025.

Kementerian Komunikasi dan Digital alias Komdigi, lewat Pak Edwin Hidayat Abdullah, bilang bahwa yang diatur itu adalah potongan ongkir dari pihak kurir, bukan promosi dari e-commerce. Kalau Shopee, Tokped, atau Mangduha.com mau traktir ongkir pakai dana promosi, itu mah sah-sah saja. Asal jangan sampai si kurir cuma dibayar pakai emotikon senyum.

Ibarat jualan gorengan, e-commerce itu bebas kasih bonus tahu isi lima biji asal modalnya dari kantong sendiri. Tapi kalau tukang gorengnya disuruh nanggung dan cuma dikasih tepung sisa, lama-lama gorengannya hambar dan tukangnya mogok. Nah, itu yang mau dicegah oleh pemerintah.

Kita ini kadang suka lupa. Pesan barang malam ini, besok pagi udah di depan pintu. Berasa punya jin pengantar paket. Padahal itu kurir, bang. Manusia. Berdarah. Berotot betis. Punya anak istri. Dan mereka bisa letih juga, apalagi kalau bayaran mereka terus ditekan gara-gara ongkir diobral lebih parah dari cuci gudang akhir tahun.

Kata Pak Edwin, diskon yang terlalu sering dari pihak kurir bisa bikin layanan rusak. Kurir jadi males, motor mogok terus, dan alamat rumah disingkat jadi “Jl. Mawar 3 RT 0X, pokoknya dekat tukang bakso.” Lalu kita komplen, “Kok lama, Bang?” Padahal si Bang udah makan nasi bungkus dingin di pinggir jalan sejak Subuh.

Nah, ini penting. Kalau si toko online mau kasih ongkir gratis tiap hari, monggo! Itu promosi, bukan subsidi yang numpang kurir. Tapi kalau pihak ekspedisi yang disuruh banting harga sampai gaji kurir lebih tipis dari kerupuk udang yang dijemur seminggu, ya jelas negara harus turun tangan. Bukan mau rese, tapi demi keseimbangan semesta logistik.

Ini bukan masalah “kok pemerintah ikut campur?”. Lah, kalau kurir semua mogok dan logistik bubar, yang rugi siapa? Kita juga, bro. Bayangin, beli paket parfum seharga Rp12.000, ongkirnya Rp80.000 karena nggak ada lagi ekspedisi yang kuat jalan. Mau?

Pepatah baru berbunyi “Barang siapa senang belanja online, jangan lupa berdoa untuk kurir yang kepanasan sepanjang jalan.” Karena di balik paket yang mendarat mulus, ada peluh abang kurir yang kadang ditanya “Mana helmnya, Bang?” padahal dia lagi duduk sebentar ngelurusin punggung.

Jadi, regulasi ini bukan mau ngerecokin bisnis. Justru mau jadi rem angin agar kurir nggak nabrak dinding ekonomi. Gratis ongkir? Jalan terus! Tapi pastikan ada yang bayar ongkirnya, jangan sampai si kurir yang tekor demi kebahagiaan konsumen yang belanja jam 2 pagi karena nggak bisa tidur.Karena logistik bukan sihir, dan kurir bukan jin. Mari jaga mereka, agar paket tetap sampai dan senyum tetap mengembang.[***]

Terpopuler

To Top