Inspirasi

Kunjungi Museum Kain Cual Pangkal Pinang, Ini Komentar Ketua TP PKK Sumsel

KETUA TP PKK Sumsel, Febrita Lustia Herman Deru menyempatkan diri melihat koleksi kain khas  Pangkal Pinang, tenun cual di Museum Cual Ishadi.

Di Museum Cual yang didirikan keluarga besar Isnawati Hadi sebagai salah satu ikon di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  ia meluangkan waktu selama hampir 1 jam menyaksikan langsung proses pembuatan kain Cual.

Feby Deru menyimak dengan tekun penjelasan dan paparan tentang koleksi kain Cual yang ada di Museum itu. Beberapa motif kain Cual yang dipajang antara lain motif Naga Bertarung, Kecubung, dan Kembang China, ketiganya secara nasional telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda.

“Iya hari ini saya bersama beberapa Ibu dari OPD kita, juga para Ibu dari Bank Sumsel Babel berkunjung ke Museum Kain Cual di kota Pangkal Pinang. Pada dasarnya motif kain songket yang kita punya tidak jauh berbeda dengan kain Cual. Di Palembang ada kain Limar dan kain Blongsong, sedangkan di sini apa pun motifnya baik flora maupun fauna, tetap disebut kain Cual,” kata Feby.

Melihat dan menyaksikan kain khas dari daerah lain, dijelaskan Feby Deru dapat menambah wawasan dan memberi pengalaman tersendiri terutama dalam menghargai dan menjaga kearifan lokal.

Sementara itu  bagi pendiri Museum Kain Cual Isnawati Hadi, kehadiran Ketua TP PKK Sumsel merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi dirinya. “Museum ini berdiri tak lama sejak Bangka Belitung  berpisah dari provinsi Sumatera Selatan. Kain Cual ini adalah identitas kami yang telah menjadi warisan budaya,” ujarnya.

Koleksi kain Cual dapat diperoleh di outlet Ishadi mulai harga Rp 65.000 hingga Rp 18 juta, sedangkan souvenir mulai harga Rp 25.000 hingga Rp 150.000.

Apresiasi dan ucapan bangga juga diungkapkan Ketua TP PKK kota Pangkal Pinang Monica Haprianda atas kunjungan yang dilakukan Feby Deru.

“Terima kasih atas kedatangan Ibu Gubernur ke Museum ini. Kain Cual ini bisa dijadikan oleh-oleh khas dari kota Beribu Senyuman bagi mereka yang berkunjung ke Pangkal Pinang,” tuturnya.ovinsi Bangka Belitung, setibanya di kota Pangkal Pinang, Minggu (8/3/2020).

Di Museum Cual yang didirikan keluarga besar Isnawati Hadi sebagai salah satu ikon di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,  wanita dengan sapaan akrab Feby Deru itu meluangkan waktu selama hampir 1 jam menyaksikan langsung proses pembuatan kain Cual.

Feby Deru menyimak dengan tekun penjelasan dan paparan tentang koleksi kain Cual yang ada di Museum itu. Beberapa motif kain Cual yang dipajang antara lain motif Naga Bertarung, Kecubung, dan Kembang China, ketiganya secara nasional telah terdaftar sebagai warisan budaya tak benda.

“Iya hari ini saya bersama beberapa Ibu dari OPD kita, juga para Ibu dari Bank Sumsel Babel berkunjung ke Museum Kain Cual di kota Pangkal Pinang. Pada dasarnya motif kain songket yang kita punya tidak jauh berbeda dengan kain Cual. Di Palembang ada kain Limar dan kain Blongsong, sedangkan di sini apa pun motifnya baik flora maupun fauna, tetap disebut kain Cual,” kata Feby.

Melihat dan menyaksikan kain khas dari daerah lain, dijelaskan Feby Deru dapat menambah wawasan dan memberi pengalaman tersendiri terutama dalam menghargai dan menjaga kearifan lokal.

Pendiri Museum Kain Cual Isnawati Hadi, kehadiran Ketua TP PKK Sumsel merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi dirinya. “Museum ini berdiri tak lama sejak Bangka Belitung  berpisah dari provinsi Sumatera Selatan. Kain Cual ini adalah identitas kami yang telah menjadi warisan budaya,” ujarnya. [***]

Ril

Comments

Terpopuler

To Top