Industri

Saat Afrika Tersendat, Kakao RI Tancap Gas

ist

DUNIA kakao sempat batuk panjang pada 2024. Pasokan dari Afrika Barat wilayah yang selama ini dijuluki “pantai emas” kakao global terganggu. Negara-negara pengolah kakao kelimpungan. Pabrik grinding di berbagai belahan dunia menahan laju produksi karena bahan baku tersendat.

Di tengah situasi itu, Indonesia tidak ikut limbung. Indonesia justru mengencangkan mesin.

Data 2025 menunjukkan industri pengolahan nasional tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,11 persen. Sektor agro menjadi tulang punggungnya. Industri agro menyumbang 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas per Desember 2025. Angka itu bukan sekadar statistik. Angka itu mencerminkan arah baru struktur industri nasional.

Pemerintah membaca momentum global dengan cepat. Saat pasokan kakao dari Afrika Barat terganggu pada 2024, pelaku industri dunia mencari alternatif. Indonesia memanfaatkan ruang itu.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa disrupsi global tersebut berdampak signifikan terhadap penurunan aktivitas grinding di banyak negara. Namun memasuki 2025, pasokan biji kakao domestik mulai pulih dan meningkat. Industri pengolahan kakao nasional langsung bergerak.

Indonesia mencatat pertumbuhan grinding sebesar 4,43 persen dengan volume mencapai 422.176 ton. Industri ini menghasilkan devisa hingga USD 3,42 miliar. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Indonesia kini menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global mulai dari cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake hingga cocoa powder.

Saat Ghana dan Pantai Gading menghadapi tekanan produksi, Indonesia pelan tapi pasti mengisi celah pasar. Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor biji mentah. Indonesia menjual nilai tambah. Indonesia mengolah, menggiling, dan mengirimkan produk setengah jadi ke pasar dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan industri agro, termasuk kakao, menjadi prioritas strategis. Pemerintah terus memperkuat daya saing industri pengolahan melalui kebijakan hulu-hilir yang terintegrasi.

Pemerintah memasukkan komoditas kakao ke dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program ini mendorong revitalisasi kebun, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan riset dan inovasi.

Kementerian juga mengalokasikan anggaran restrukturisasi mesin untuk industri pengolahan kakao dan cokelat. Industri membutuhkan efisiensi agar mampu bersaing dalam pasar global yang semakin ketat. Modernisasi mesin menjadi langkah konkret, bukan sekadar wacana.

Di sisi eksternal, angin global ikut berubah arah. Penundaan implementasi European Union Deforestation Regulation memberi ruang bernapas bagi eksportir komoditas berbasis lahan, termasuk kakao. Amerika Serikat juga menetapkan tarif 0 persen untuk produk kakao dan cokelat Indonesia. Kebijakan itu membuka jalur ekspor lebih lebar ke pasar bernilai tinggi.

Kombinasi momentum global dan konsolidasi domestik membentuk narasi baru Indonesia tidak lagi berdiri di pinggir rantai pasok dunia. Indonesia masuk ke tengah panggung.

Narasi tersebut akan semakin ditegaskan saat Indonesia menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference pada 22-24 Juli 2026 di Yogyakarta. Konferensi bertema “The Rise of Indonesian Cocoa, The Pearl of Asia for the World” itu bukan sekadar seremoni tahunan. Forum tersebut menjadi simbol positioning global.

Indonesia ingin menegaskan diri sebagai “Pearl of Asia” dalam industri kakao. Istilah itu bukan klaim kosong. Indonesia sudah memiliki kapasitas grinding signifikan, basis bahan baku yang terus diperbaiki, serta dukungan kebijakan yang terstruktur.

Tantangan tetap ada. Produktivitas kebun rakyat masih perlu ditingkatkan. Ketergantungan pada fluktuasi harga global belum sepenuhnya hilang. Namun arah kebijakan kini terlihat lebih fokus: memperkuat hulu, memodernisasi hilir, dan memperluas pasar ekspor.

Industri kakao menawarkan gambaran lebih luas tentang transformasi industri Indonesia. Ketika dunia menghadapi disrupsi, negara yang siap akan mengambil peluang. Indonesia menunjukkan kesiapan itu pada 2025.

Pasar global selalu bergerak dinamis. Krisis pasokan di satu wilayah bisa menjadi peluang di wilayah lain. Indonesia memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkuat grinding, meningkatkan efisiensi, dan memperluas penetrasi pasar.

Jika tren ini berlanjut, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai produsen kakao tropis. Indonesia akan dikenal sebagai pusat pengolahan kakao Asia sebuah simpul penting dalam rantai pasok dunia.

Dunia kakao mungkin sempat terguncang. Namun di tengah guncangan itu, Indonesia justru menemukan pijakan baru. Dari kebun rakyat hingga ruang konferensi Internasional, Indonesia sedang menulis bab berikutnya dalam peta industri kakao global. (***)

To Top