TUTUP buku produksi itu biasanya bikin kepala pusing, tapi bagi PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, menutup tahun 2025 ternyata bisa jadi acara yang serius, tapi tetap bikin senyum. Tengok saja, para komisaris dan direksi hadir langsung di pabrik, bukan cuma untuk menandatangani dokumen, tapi juga menyaksikan demo pengantongan pupuk. Ya, benar, demo pengantongan pupuk, bukan demo band atau stand-up comedy, namun tetap bisa bikin orang tersenyum.
Coba, kalau pupuk itu hanyalah butiran bosan yang dilempar ke tanah, mungkin Pusri akan menunjukkan setiap butir itu punya cerita. Pada 2025 bukan tahun yang mudah, pasalnya dunia pupuk penuh dinamika, seperti harga naik turun, pasar global kadang ngambek, dan petani tetap berharap sawahnya subur. Namun, Pusri tetap tangkas, efisien, dan inovatif, layaknya chef yang mengaduk masakan, agar tidak gosong tapi tetap enak.
Di antara ratusan kantong pupuk yang diantong, Pusri tidak hanya fokus pada urea, produk andalan yang biasanya jadi primadona di sawah, tapi juga NPK dan produk inovatif lain. Pupuk semacam ini, seperti superhero versi pertanian, sebab, setiap butir punya kekuatan khusus untuk membuat tanaman tetap sehat dan produktif. Jadi, saat petani menabur benih, bukan cuma tanah yang subur, tapi semacam “superpower” ikut tersebar.
Bahkan, selain produksi, Pusri juga rajin main peran sosial. TJSL mereka lengkap, mulai dari pendidikan, beasiswa, kesehatan, sampai pembangunan rumah ramah difabel. Ada juga program PROKLIM, MUSI Competition, dan penguatan UMKM. Jadi, kalau ada yang bilang BUMN itu dingin dan kaku.
Pusri membuktikan pabrik besar pun bisa punya hati. Pabrik pupuk yang biasanya bau dan panas, ternyata bisa juga bikin senyum dan harapan masyarakat meletup-letup, bak kembang api tahun baru.
Yang paling penting, menyeimbangkan pupuk subsidi dan target komersial. Ini seperti menjaga, agar nasi goreng tidak terlalu asin tapi tetap gurih, susah, tapi Pusri bisa. Pupuk subsidi sampai ke petani tepat waktu, penjualan komersial juga oke. Artinya, mereka bisa bikin pemerintah senang tanpa membuat kantong perusahaan bolong, elegan, kan?
Acara pengantongan ini juga punya filosofi lucu, tapi dalam karena menutup produksi 2025 dan membuka operasional 2026 itu, seperti menutup lembaran buku harian dan menyiapkan halaman baru.
Hanya saja, halaman baru ini bukan sekadar catatan biasa, tapi strategi, inovasi, dan komitmen lingkungan. Di era perubahan iklim, ketahanan pangan, dan pertanian modern, simbol pengantongan ini ibarat tombol start bagi mesin besar yang siap bergerak lebih cerdas.
Direktur Utama Pusri, Maryono, juga sempat menekankan pentingnya semangat, integritas, dan kolaborasi. Kalau diterjemahkan, semua orang di pabrik harus kompak, nggak ada drama kayak sinetron, dan jangan sampai pupuknya ngambek alias gagal sampai ke tangan petani. Jika pupuknya melayang ke udara seperti balon tahun baru, wah, bisa bikin petani garuk kepala.
Jadi, dari acara pengantongan ini? tetap sederhana tapi penting, sebab di balik itu semua, setiap butir pupuk, ada kerja keras, inovasi, dan tanggung jawab sosial. Pusri membuktikan BUMN industri strategis bisa relevan, adaptif, dan sekaligus manusiawi, artinya tidak hanya mengejar angka, tapi juga senyum masyarakat.
Saat 2026 berjalan, Pusri siap menghadapi tantangan baru, yaitu dari produksi massal ke produksi cerdas, dari pupuk biasa ke pupuk inovatif yang ramah lingkungan, mereka membuktikan ketahanan pangan nasional bukan sekadar slogan, tapi hasil kerja sistematis yang kadang lucu tapi tetap serius. Jadi, saat petani menabur benih tahun depan, jangan kaget kalau sawahnya subur dan senyum ikut tumbuh. (***)