BAGAIMANA ritual haji dan umrah bisa bertransformasi menjadi industri hijau yang efisien secara ekonomi? Inilah fokus terbaru Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) yang sedang diuji coba melalui optimalisasi penerbangan kosong, integrasi logistik, dan promosi pariwisata terintegrasi.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, dilaman resmi kementerian haji menegaskan pengelolaan haji kini tidak hanya diukur dari lancarnya ibadah, tetapi juga dari dampak ekonominya terhadap nasional dan keberlanjutan lingkungan.
“Haji modern bukan sekadar ritual, tapi juga efisiensi ekonomi yang berdampak nyata bagi bangsa,” ujar Dahnil saat pertemuan strategis dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto belum lama ini.
Salah satu inovasi yang sedang dijalankan adalah pemanfaatan penerbangan kosong (empty flight) dari Arab Saudi ke Indonesia untuk mengirim logistik jemaah, sekaligus membuka peluang ekspor produk lokal.
Langkah ini tidak hanya mengurangi biaya transportasi, tapi juga menurunkan jejak karbon perjalanan udara. Di sisi lain, asrama haji di berbagai daerah diproyeksikan menjadi pusat distribusi, pelatihan UMKM, dan inkubasi usaha yang mendukung kebutuhan jemaah.
Produk-produk lokal seperti makanan siap saji, bumbu pasta, hingga beras premium kini dipersiapkan untuk masuk ke rantai logistik haji, membawa manfaat ekonomi langsung bagi pelaku usaha nasional.
Proyek ini melibatkan Kemenhaj, Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Perum Bulog, dan pelaku usaha lokal. Kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar strategi ini berjalan terintegrasi. Menko Perekonomian menekankan pentingnya pemetaan importir di Arab Saudi, agar produk Indonesia lebih mudah diterima pasar lokal, sekaligus mendorong pengusaha Saudi membeli produk jemaah.
Fokus implementasi ada di Indonesia dan Arab Saudi, dengan pusat kegiatan di asrama haji dan warehouse di Arab Saudi. Promosi destinasi wisata Indonesia juga ditargetkan bagi wisatawan Timur Tengah, memanfaatkan penerbangan kosong sekaligus paket promo tiket untuk menarik minat.
Strategi ini telah mulai dijalankan sejak awal 2026 dan akan terus dikembangkan seiring musim haji dan umrah. Menko Perekonomian menekankan langkah teknis, mulai dari ekspor produk hingga integrasi logistik, harus dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan agar manfaat ekonomi hijau maksimal.
Alasan utama pengembangan industri hijau haji adalah untuk mengurangi arus devisa keluar, mendukung pelaku usaha lokal, dan mengintegrasikan efisiensi logistik. Dari sekitar Rp40 triliun perputaran uang haji per tahun, sekitar 80 persen masih keluar negeri. Dengan strategi ini, sebagian besar potensi ekonomi bisa kembali ke Indonesia.
Cara implementasinya cukup konkret. Penerbangan kosong dioptimalkan untuk mengirim logistik sekaligus produk ekspor, sementara integrasi logistik dan e-commerce mempermudah distribusi barang kebutuhan jemaah.
Asrama haji menjadi hub ekonomi yang mendukung pelatihan dan inkubasi UMKM, sekaligus menjadi etalase produk nasional. Promosi pariwisata terintegrasi pun dihadirkan dengan paket tiket promo dan destinasi unggulan bagi wisatawan Arab Saudi.
Dengan strategi ini, ritual ibadah haji dan umrah tidak hanya menjadi pengalaman spiritual, tapi juga kontributor nyata bagi ekonomi nasional dan keberlanjutan lingkungan.
“Ini langkah awal transformasi haji menjadi industri hijau yang menguntungkan semua pihak,” tutup Dahnil. (***)