PELAYANAN haji Indonesia tahun 2026 mulai menuai banyak pujian dari jemaah di Tanah Suci. Setelah bertahun-tahun identik dengan keluhan soal transportasi, pemondokan, hingga layanan kesehatan, musim haji kali ini justru menghadirkan pengalaman berbeda bagi ribuan jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Anggota Amirul Hajj 1447 H/2026 M, H.R. Muhammad Syafi’i, bahkan menyebut ada “wajah baru” dalam sistem pelayanan haji Indonesia. Ia menilai perubahan itu terasa nyata hampir di seluruh lini pelayanan, mulai dari keberangkatan di Tanah Air hingga pendampingan jemaah selama berada di Makkah dan Mina.
Menurut Syafi’i, peningkatan layanan tahun ini tidak hanya terlihat dari fasilitas, tetapi juga dari cara petugas melayani jemaah dengan lebih cepat, ramah, dan sigap menghadapi berbagai situasi di lapangan. Ia melihat ada semangat baru yang membuat pelayanan terasa lebih hidup dan lebih manusiawi dibanding musim haji sebelumnya.
Perubahan tersebut sudah mulai dirasakan sejak fase keberangkatan di Indonesia. Pemerintah memperketat pemeriksaan kesehatan berbasis istitha’ah untuk memastikan jemaah benar-benar siap menjalankan ibadah haji yang membutuhkan kondisi fisik prima. Langkah itu dinilai penting untuk melindungi jemaah, terutama lanjut usia dan mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
Selain pemeriksaan kesehatan, jadwal penerbangan yang lebih tertata juga mendapat apresiasi dari jemaah. Proses keberangkatan berlangsung lebih rapi dan minim kendala sehingga membuat perjalanan menuju Arab Saudi terasa lebih nyaman sejak awal.
Setibanya di Tanah Suci, jemaah langsung merasakan perubahan pelayanan yang lebih terorganisir. Petugas menyambut jemaah sejak turun dari pesawat, mengarahkan mereka menuju bus, lalu mengantar hingga ke hotel tanpa proses berbelit. Banyak jemaah mengaku merasa lebih tenang karena tidak lagi kebingungan mencari transportasi atau lokasi penginapan.
“Banyak jemaah merasa seperti tamu VIP karena semuanya sudah tertata,” kata Syafi’i saat berada di Mina di laman resmi kementrian haji.
Di sektor transportasi, keberadaan bus shalawat yang beroperasi selama 24 jam menjadi salah satu layanan yang paling dirasakan manfaatnya oleh jemaah. Armada bus yang terus siaga memudahkan mobilitas jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram, terutama pada jam-jam sibuk dan saat cuaca panas ekstrem melanda Kota Makkah.
Layanan transportasi yang lebih baik membuat jemaah bisa fokus menjalankan ibadah tanpa terbebani persoalan teknis di lapangan. Kondisi ini berbeda dengan musim haji sebelumnya yang kerap diwarnai antrean panjang dan keterbatasan armada pada waktu tertentu.
Kualitas pemondokan jemaah juga disebut mengalami peningkatan signifikan. Hotel-hotel yang ditempati jemaah dinilai lebih bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas yang lebih baik. Meski sebagian hotel berada agak jauh dari Masjidil Haram, akses transportasi yang tersedia membuat jemaah tetap merasa nyaman.
Fasilitas seperti pendingin ruangan, ketersediaan air, pencahayaan kamar, hingga kebersihan lingkungan hotel menjadi perhatian penting dalam pelayanan tahun ini. Detail kecil tersebut ternyata memberi pengaruh besar terhadap kenyamanan jemaah yang harus menjalani aktivitas ibadah dengan intensitas tinggi.
Dari sisi konsumsi, mayoritas jemaah juga memberikan respons positif terhadap makanan yang disediakan pemerintah. Menu makanan dianggap lebih variatif, distribusinya tepat waktu, dan rasanya lebih sesuai dengan selera jemaah Indonesia. Minimnya keluhan soal konsumsi menjadi salah satu indikator bahwa sistem pelayanan haji tahun ini berjalan lebih baik.
Sementara itu, sektor kesehatan menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam penyelenggaraan haji 2026. Layanan kesehatan diperkuat melalui optimalisasi klinik satelit di berbagai sektor pemondokan jemaah. Klinik tersebut aktif memberikan pelayanan medis cepat bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan ringan hingga kondisi darurat.
Kerja sama dengan Saudi German Hospital juga dinilai memperkuat pelayanan kesehatan jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci. Dukungan rumah sakit mitra membuat proses penanganan medis menjadi lebih cepat dan lebih terkoordinasi bersama KKHI.
Menurut Syafi’i, seluruh peningkatan pelayanan ini menunjukkan bahwa sistem haji Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih modern dan berorientasi pada kenyamanan jemaah. Ia berharap capaian positif tahun ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan pada musim haji mendatang.
“Kalau tahun ini sudah sangat baik dengan waktu persiapan yang relatif singkat, Insya Allah tahun depan bisa lebih baik lagi,” tandasnya.(***)