RUMAH di Jalan Merdeka itu tak lagi sekadar alamat. Sejak pagi hingga prosesi pelepasan berlangsung, orang-orang terus berdatangan. Pejabat, aparat, ASN, sahabat lama, hingga warga biasa berdiri dalam suasana hening, kamis (26/2).
Di dalam ruangan, jenazah mantan Gubernur Sumatera Selatan periode 2008–2018, Alex Noerdin, terbaring tenang. Sumsel tidak sekadar menggelar upacara, ia sedang melepas satu bagian dari sejarahnya.
Karangan bunga berjejer di halaman, mengirim pesan singkat penuh empati. Di teras rumah, pelayat berdiri berdesakan. Sebagian duduk bersila di dalam ruangan, menengadahkan tangan. Doa-doa dilafalkan lirih, bergantian, tanpa komando.
Di sudut ruang utama, keluarga duduk paling dekat. Wajah-wajah yang selama ini akrab di panggung publik kini terlihat lebih sunyi. Tidak ada jarak antara jabatan dan perasaan. Di momen seperti itu, semua gelar terasa kecil.
Putra sulung almarhum, Dodi Reza Alex Noerdin, berdiri mewakili keluarga. Ucapannya singkat, tanpa retorika.
“Kami sekeluarga ikhlas dan memohon maaf atas segala khilaf beliau semasa hidup.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di tengah keheningan yang padat, ia terasa berat. Sebab di hadapan mereka bukan hanya seorang mantan gubernur, melainkan seorang ayah yang pergi meninggalkan keluarga.
Dari luar hingga ke dalam rumah, barisan seragam terlihat rapi. ASN mengenakan batik Korpri biru berdiri berdampingan. Aparat TNI dan Polri hadir dengan pakaian dinas lengkap. Tidak ada percakapan keras. Hanya instruksi pelan dan langkah-langkah tertata.
Di halaman, dua petugas membawa bingkai besar berisi foto resmi almarhum dalam pakaian dinas putih lengkap dengan tanda jasa. Senyum dalam bingkai itu tampak tegas. Sebuah kontras dengan wajah-wajah sendu di sekitarnya.
Papan bertuliskan “Sumsel Berduka” berdiri sebagai penanda suasana. Kehilangan itu bukan hanya milik keluarga, tetapi juga milik daerah yang pernah dipimpinnya selama dua periode.
Tak jauh dari jenazah, Gubernur Sumatera Selatan yang kini menjabat, Herman Deru, hadir memimpin upacara pelepasan secara kedinasan. Ia berdiri sebagai inspektur upacara, memberi penghormatan terakhir kepada pendahulunya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Hari ini kita berkumpul sebagai bentuk penghargaan atas kinerja dan sumbangsih jasa beliau kepada Provinsi Sumatera Selatan,” ujarnya.
Kata-kata itu tidak panjang. Namun cukup untuk menggambarkan prosesi ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah penghormatan resmi dari pemerintah daerah.
Wakil Gubernur Cik Ujang, unsur Forkopimda, serta para kepala daerah kabupaten/kota turut hadir. Prosesi berjalan tertib. Setelah doa bersama, keluarga menyerahkan jenazah kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk dilepas secara resmi dan diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.
Di sanalah momen itu terasa utuh satu gubernur memimpin pelepasan, satu gubernur dikenang. Tanpa panggung politik. Tanpa debat. Hanya penghormatan.
Politik yang Sunyi
Selama dua periode kepemimpinan (2008–2018), Alex Noerdin menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Sumatera Selatan. Kini, namanya disebut dalam doa-doa yang terangkat pelan.
Di rumah duka itu, orang-orang yang mungkin berbeda pandangan politik duduk berdampingan. Tidak ada perbedaan barisan. Semua berada dalam satu suasana yang sama.
Sejarah memang tidak selalu ditulis di ruang sidang atau podium besar. Kadang ia hadir di ruang sederhana, di antara kain kafan putih dan doa yang tak putus.
Di Jalan Merdeka, Sumatera Selatan seperti berhenti sejenak. Bukan untuk mengenang jabatan semata, tetapi untuk menghormati perjalanan hidup seorang pemimpin daerahnya.
Manusia datang dan pergi. Jabatan berganti. Namun jejak pengabdian akan tetap dicatat oleh waktu.
Dan di tengah kerumunan yang hening itu, Sumsel melepas Alex Noerdin—dengan doa, dengan rasa hormat, dan dengan kesadaran bahwa setiap kepemimpinan pada akhirnya akan menjadi kenangan. (***)