PASAR Randik, Sekayu, akhir pekan lalu suasananya terasa kental dengan Ramadan, pedagang menata dagangan, aroma bawang, cabai, dan minyak goreng mengisi udara.
Bahkan pembeli bergerak cepat memilih kebutuhan pokok, sambil sesekali menawar harga. Di tengah keramaian itu, Wakil Bupati Musi Banyuasin, Abdur Rohman Husen, muncul lengkap dengan rombongan OPD, istri, dan perwakilan Kodim. Kamera berseliweran, sidak resmi pun dimulai.
Pemkab Muba menyatakan tujuan sidak ini jelas, menjaga harga sembako tetap stabil dan memastikan ketersediaan stok hingga Idulfitri.
Di atas kertas, laporan resmi memang menunjukkan harga relatif stabil. Telur naik tipis untuk kue Lebaran, cabai justru turun, bawang standar, dan stok dianggap cukup. Semua terdengar ideal.
Namun kenyataan di lapangan menceritakan hal lain. Beberapa pedagang mengeluhkan atap bocor dan area parkir yang berantakan. Pembeli kadang enggan masuk lebih dalam karena kendaraan saling berserakan.
Kenyamanan berbelanja yang menurun ini bisa berdampak langsung pada omzet pedagang dan stabilitas ekonomi mikro di pasar.
Inilah dilema sidak, simbol kehadiran pemerintah penting, tapi jika tidak diikuti aksi nyata, efeknya bisa sebatas seremoni. Inflasi tidak hanya soal harga naik-turun satu hari. Ia berkaitan erat dengan distribusi barang, kenyamanan pasar, dan kemampuan pedagang bertahan di tengah permintaan tinggi.
Wabup Rohman mendengar keluhan pedagang dan berjanji menyiapkan solusi, renovasi atap, penataan parkir, dan pembenahan fasilitas secara bertahap.
Ini langkah positif namun, janji tanpa tenggat jelas berpotensi menjadi retorika biasa. Publik butuh bukti, bukan sekadar komitmen di atas podium sidak.
Pemkab Muba harus bergerak lebih jauh daripada sekadar monitoring harian. Stabilitas harga harus dibarengi stabilitas ekosistem pasar. Perbaikan fasilitas, pengawasan distribusi, dan transparansi harga perlu menjadi program berkelanjutan, bukan insiden sesaat saat Ramadan tiba.
Setidaknya yang harus dijalankan Pemkab Muba antara lain, renovasi dan penataan pasar, atap bocor segera diperbaiki, area parkir diatur rapi, jalur pejalan kaki dibersihkan. Kenyamanan pengunjung adalah kunci daya beli dan kelangsungan usaha pedagang.
Pemantauan Harga Rutin dan Publik, data harga sembako diperbarui setiap minggu dan dipublikasikan secara transparan agar pedagang dan pembeli tahu kondisi sebenarnya.
Koordinasi Distribusi Sampai Pinggiran, maksudnya jangan hanya pusat kota, distribusi sembako ke desa dan kecamatan harus dipantau untuk mencegah kelangkaan dan lonjakan harga lokal.
Dialog rutin dengan pedagang, bukan hanya saat sidak, agar kebijakan pemerintah lebih tepat sasaran.
Sidak Pasar Randik memang penting. Kehadiran pemimpin memberi pesan, ‘Kami mengawasi, kami peduli,’ tapi pesan itu hanya efektif jika diikuti dengan tindakan nyata. Inflasi dan kenyamanan pasar adalah tanggung jawab sepanjang tahun, bukan hanya ritual Ramadan.
Masyarakat Muba ingin lebih dari sekadar laporan harga stabil.
Mereka ingin pasar yang nyaman, stok yang cukup, dan kebijakan yang konsisten.
Jika Pemkab mampu mengeksekusi janji sidak menjadi aksi nyata, sidak Ramadan bukan sekadar seremoni, tapi bukti konkret bahwa pemerintah hadir di tengah warga.
Dan sidak seperti inilah yang benar-benar meninggalkan jejak, bukan hanya foto di media atau headline sementara. (***)