AKHIR -akhir ini, kalau lagi jalan ke pasar di Palembang, mata kita otomatis melirik ke etalase daging sapi atau ayam. Namun harganya masih naik turun kayak naik roller coaster! Jangan-jangan, harga daging nggak cuma ikut musim Natal atau Tahun Baru, tapi ada faktor lain yang lebih tersembunyi, katanya pakan ternak. Tapi kok, bisa!
Sekretaris Daerah Palembang, Aprizal Hasyim saat saat inspeksi mendadak ke Pasar Sekip, kemarin. Ia sempat bilang salah satu faktor yang bisa bikin harga daging naik signifikan adalah harga pakan ternak.
Eits, jangan sepelekan ini, sebab kalau pakan ayam naik, otomatis harga ayam ikut mendaki, itu logikanya, sama kayak kopi mahal, dompet pun mendadak kurus.
Di sinilah masuk ilmunya, yang agak serius tapi menarik yaitu hukum Penawaran dan Permintaan (Law of Supply and Demand). Intinya, kalau biaya produksi naik (dalam hal ini pakan ternak), produsen otomatis akan menaikkan harga jual, agar keuntungan tetap aman.
Mau tahu nggak, teori klasik ini dijelaskan dalam buku “Principles of Economics” – N. Gregory Mankiw, salah satu buku ekonomi paling dipakai di dunia.
Gampangnya, ya….harga pakan naik kemudian biaya ternak naik, lantar harga daging naik, logis, kan? Namun yang bikin kita geleng-geleng kepala, terkadang memang harga pakan bisa stabil, tapi harga daging tetap saja naik.
Nah itu dia yang anehnya dan benang merahnya, di sinilah spekulan dan oknum pedagang kadang muncul, mengaduk-aduk pasar, seperti chef bikin sup panas.
Oleh sebab itu, kalau pemerintah bilang harga masih terkendali, jangan-jangan yang dimaksud cuma angka yang ada di kertas. Sementara kenyataaannya warga tetap geleng-geleng kepala melihat harga cabai, telur, dan daging yang mendadak naik. Pemerintah, nih, perlu lebih transparan, apakah memang biaya pakan naik atau cuma ada pihak yang main curang?
Jadi, kalau mau serius, Pemkot Palembang bisa mulai dengan memetakan rantai pasok pakan ternak, misalnya dari petani jagung, produsen pakan, distributor, hingga pedagang pasar.
Dengan demikian, setidaknya akan tahu di titik dimana biaya melonjak, siapa yang bikin harga daging naik, dan apa yang bisa dicegah. Jangan sampai rakyat kebingungan karena alasan harga pakan naik misterius, padahal yang terjadi cuma mark up sepihak.
Kalau akar masalah soal pakan ternak naik setidaknya saat ini lakukan subsidi pakan ternak tepat sasaran, hal itu penting. Pemerintah bisa menyalurkan subsidi pakan untuk peternak kecil. Nggak usah semua, cukup yang butuh, biar biaya produksi tetap stabil.
Lalu, bentuk sertidaknya Koperasi Peternak, dengan koperasi, peternak bisa beli pakan secara bulk, lebih murah, dan tidak tergantung harga pasar eceran yang fluktuatif.
Serta, transparansi harga harian, misalnya sistem monitoring harga pakan dan daging di pasar bisa diakses publik, seperti dashboard online. Biar semua tahu, harga naik karena apa, bukan cuma klaim dan alasan.
Coba juga dengan mengedukasi warga, misalnya dengan kampanye “Harga daging naik? Cek dulu pakan ternak naik apa nggak!”, biar masyarakat nggak gampang panik.
Butuh kontrol
Nah, di sinilah letak pelajaran penting, harga pangan nggak cuma masalah uang di pasar, tapi sistem produksi yang kompleks. Kalau satu mata rantai terganggu, efeknya domino ke seluruh pasar. Jadi, wajar kalau Aprizal bilang, “Kita perlu kontrol pakan ternak untuk stabilkan harga daging.”
Jadi, kalau ingin harga daging tetap bersahabat dengan dompet warga, kuncinya ada di pakan ternak, oleh sebab itu, Pemerintah juga bisa lebih proaktif, dan melakukan kontrol distribusi pakan, beri subsidi tepat sasaran, edukasi masyarakat, dan pantau pasar secara transparan. Kalau semua ini jalan, Insya Allah, warga bisa menikmati momen akhir tahun tanpa deg-deg an buka dompet.
Intinya, jangan cuma lihat harga di pasar, tapi pahami faktor di baliknya, sebab pakan ternak adalah kunci rahasia yang selama ini sering terlupakan.
Kalau biaya pakan stabil, harga daging pun tidak akan bikin kantong bolong. Lagipula, siapa sih yang nggak mau makan daging tanpa rasa takut saldo ATM ikut meledak?.(***)