MENGAPA BI ubah cara main cadangan devisa?, kalau pertanyaan ini diajukan lima tahun lalu, jawabannya mungkin pendek, demi stabilitas dan imbal hasil. Namun sekarang ceritanya tentu sudah beda.
Sebab, dunia sudah keburu ribut, ekonomi global makin gampang kaget, dan Bank Indonesia tampaknya sadar satu hal penting, yaitu kalau masih pakai cara lama, bisa-bisa bukan untung yang didapat, tapi pusing tujuh keliling.
Hari-hari ini, ekonomi global rasanya seperti grup di media sosial keluarga besar, rame, penuh kabar mendadak, dan kadang bikin deg-degan.
Apalagi dengan suku bunga global kondisinya naik-turun tanpa pamit, dolar AS masih galak, dan geopolitik hobi bikin kejutan. Dalam kondisi seperti ini, cadangan devisa jelas bukan mainan, devisa bukan aset buat gaya-gayaan, tapi alat bertahan hidup ekonomi nasional.
Gampangnya begini, cadangan devisa itu mirip tabungan keluarga. Saat kondisi aman, kerjaan lancar, dan masa depan kelihatan cerah, wajar kalau tabungan diputar biar berkembang.
Tapi kalau hidup mulai penuh tanda tanya, harga naik, dan masa depan agak buram, memutar tabungan terlalu agresif malah kedengaran nekat. Bukan berani, tapi jadinya sembrono.
Selama ini, publik sering melihat cadangan devisa seperti melihat skor pertandingan, besar berarti menang, kecil berarti kalah. Padahal dalam dunia bank sentral, cadangan devisa itu bukan pajangan lemari.
Fungsinya seperti peredam kejut. Ketika pasar global mendadak panik, modal asing kabur, dan nilai tukar tertekan, cadangan devisa inilah yang dipakai untuk menenangkan keadaan supaya ekonomi domestik tidak ikut terjungkal.
Nah, di bagian ini ceritanya mulai berubah. Bank Indonesia tak lagi menaruh fokus utama pada mengejar imbal hasil. Urutan klasik pengelolaan cadangan devisa safety, liquidity, return sekarang dijalankan dengan disiplin lebih ketat. Keamanan dan likuiditas didahulukan, urusan untung menyusul. Ini bukan tanda BI takut risiko, tapi tanda BI paham risiko.
Kalau ditarik ke buku teks ekonomi, langkah ini masuk akal. Banyak studi pascakrisis global menunjukkan bahwa negara yang paling tahan banting bukan yang paling agresif mengejar cuan, melainkan yang punya bantalan cukup saat krisis datang tanpa undangan.
Cadangan devisa yang aman dan likuid memberi ruang bagi bank sentral untuk menjaga nilai tukar, menahan inflasi impor, dan mencegah kepanikan menyebar ke mana-mana.
Sinyal perubahan ini terasa jelas, dalam Forum Investasi Tahunan (FIT) Bank Indonesia 2026 bertema “Beyond the Old Playbook” : Embracing a New Paradigm in Global Investment” di Bali diselenggarakan pada 29-30 Januari 2026.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan pentingnya paradigma baru dalam pengelolaan cadangan devisa yang adaptif dan berhati-hati demi menjaga stabilitas makro dan ketahanan eksternal. Terjemahan bebasnya cara lama sudah tidak cukup.
FIT 2026 sendiri bukan sekadar ajang seminar sambil ngopi. Ini panggung pesan ke dunia bahwa Indonesia paham permainan baru. Stabilitas makro, hilirisasi, UMKM, pembiayaan, sampai digitalisasi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Pelaku global
Semua disatukan dalam orkestrasi kebijakan supaya ekonomi nasional tidak gampang limbung ketika dunia mendadak oleng. Menariknya, pendekatan yang lebih kalem ini justru disambut positif oleh pelaku global. Global Head of Asset Allocation Invesco, Paul Jackson, menilai Indonesia relatif tangguh di tengah volatilitas global.
Investor hari ini tidak lagi sekadar cari negara dengan pertumbuhan tinggi, tapi negara yang tidak gampang panik saat keadaan memburuk. Dalam bahasa pasarnya tahan banting lebih seksi daripada sekadar cepat lari.
Namun ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian. Fokus publik lebih banyak tertuju pada optimisme dan prospek cerah, padahal perubahan cara main cadangan devisa justru lahir dari pembacaan BI bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
BI tampaknya membaca ketidakpastian global bisa panjang. Maka cadangan devisa diposisikan sebagai jangkar, bukan mesin balap.
Dampaknya memang tidak selalu kelihatan di permukaan. Tapi stabilitas nilai tukar membantu menahan harga barang impor. Sistem keuangan yang tenang menjaga kredit tetap mengalir.
Oleh sebab itu, kepercayaan investor memastikan pembangunan tidak tersendat. Semua bekerja senyap, tidak heboh, tapi menentukan. Seperti rem mobil yang jarang dipuji, tapi dicari saat darurat.
Ujung-ujungnya, mengapa BI ubah cara main cadangan devisa? Karena dunia sudah berubah dan pura-pura santai justru berbahaya. Di tengah ketidakpastian, kehati-hatian bukan tanda pengecut, tapi tanda kematangan kebijakan. Lebih baik siap menghadapi hujan daripada sibuk berharap cuaca cerah terus.
Orang tua dulu punya pepatah sederhana, katanya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.”
Oleh karena itu, Bank Indonesia tampaknya sedang memilih berakit lebih dulu, capek sedikit di awal agar ekonomi Indonesia tetap bisa berenang dengan aman ketika arus global makin deras. (***)