Pesta pora investor emas resmi berakhir tragis pada penghujung Januari 2026. Setelah sempat terbang tinggi mencetak rekor sejarah, harga sang logam mulia justru “dibanting” habis-habisan oleh pasar. Tak tanggung-tanggung, emas mencatatkan penurunan harian terdalam dalam 43 tahun terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot ditutup merosot tajam 9,8% ke level US$4.864,35 per troy ounce pada Jumat (30/1/2026). Padahal, hanya sehari sebelumnya, emas masih berada di puncak kejayaannya pada level US$5.594,82.
Terburuk Sejak 4 Dekade Silam
Penurunan ekstrem ini menjadi yang terparah sejak Februari 1983. Saat itu, emas pernah ambruk hingga 12,09% dalam sehari. Pada perdagangan Jumat kemarin, volatilitas benar-benar gila-gilaan; harga sempat menyentuh US4.695,23 pada dini hari WIB.
Koreksi ini mengejutkan banyak pihak, mengingat sepanjang Januari emas sebenarnya sudah menguat lebih dari 13%. Namun, reli yang terlalu agresif ini justru membuat pasar rapuh dan mudah “panik” saat ada sentimen baru yang kontradiktif.
Efek “Kevin Warsh” dan Gebrakan Trump
Biang kerok utama di balik aksi jual massal ini adalah langkah politik Presiden AS, Donald Trump. Ia secara resmi menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Federal Reserve (The Fed) untuk menggantikan Jerome Powell mulai Mei mendatang.
Warsh dikenal sebagai sosok yang kerap mengkritik kebijakan bank sentral dan dianggap lebih “hawkish” atau berpotensi mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat.
“Kombinasi antara penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi imbal hasil riil menjadi pemicu utama aksi ambil untung (profit taking),” jelas Suki Cooper, Global Head of Commodities Research di Standard Chartered Bank.
Apakah Tren Bullish Emas Sudah Habis?
Meski hancur lebur di akhir pekan, secara akumulasi bulanan, emas sebenarnya masih menguat 12,75% selama Januari 2026. Analis dari MKS PAMP SA, Nicky Shiels, menilai koreksi ini diperlukan agar tren kenaikan jangka menengah menjadi lebih “sehat” secara teknikal.
Target penurunan realistis diprediksi bisa menyentuh angka US$4.600. Namun, secara fundamental, emas dinilai belum kehilangan taji sepenuhnya. Faktor-faktor berikut masih menjadi pendukung kuat:
-
Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah yang masih memanas.
-
Kebijakan Tarif: Ancaman tarif AS terhadap negara-negara pemasok minyak.
-
Cadangan Bank Sentral: Bank sentral global diprediksi masih akan terus menambah cadangan emas mereka meski lajunya mulai melambat.
Bagi para investor domestik, anjloknya harga emas dunia ini tentu menjadi alarm waspada untuk memperhatikan pergerakan harga emas Antam dan Pegadaian dalam beberapa hari ke depan.