BULAN K3 Nasional di PT Pusri Palembang tahun ini tidak diisi dengan teori berat atau ceramah bikin mata berat. Lewat program Safety Goes to Society, Pusri justru mengajak warga sekitar perusahaan belajar menghadapi kebakaran rumah tangga dan cara menjinakkan api secara aman. Iya, api yang biasa nongkrong di dapur, bukan api versi film action.
Biasanya kalau dengar kata K3, kita langsung melayang ke pabrik, helm proyek, sepatu safety, dan wajah serius, di Lapangan Hijau Pusri, Kelurahan 1 Ilir, Palembang, suasananya beda. Warga datang santai, ada yang pakai sandal, ada yang sambil senyum-senyum, mungkin mikir, “Paling dengar sosialisasi, habis itu pulang.” Sampai akhirnya… api muncul.
Tenang, ini api simulasi. Tapi namanya api, walau kecil, tetap bikin refleks manusia keluar semua. Yang tadinya berdiri santai, mendadak agak mundur.
Yang tadinya ngobrol, langsung fokus. Api memang makhluk sederhana, tapi punya bakat bikin semua orang mendadak serius tanpa aba-aba.
Lucunya, kebakaran rumah tangga itu jarang lahir dari adegan panik. Ia lebih sering datang dari kejadian sehari-hari yang kelihatannya sepele. Kompor lupa dimatikan karena keasyikan nonton. Colokan listrik yang sudah minta pensiun tapi tetap dipaksa kerja. Atau api kecil yang awalnya cuma niat bikin teh manis, eh malah bikin satu rumah panik.
Di sinilah Safety Goes to Society jadi relevan. Warga tidak cuma dikasih tahu, tapi diajak mencoba. Dan bintang utama hari itu jelas APAR. Benda merah yang sering kita lihat di mana-mana, tapi jarang kita ajak kenalan serius. APAR itu seperti kenalan lama yang sering ketemu, tapi giliran disuruh kerja bareng, malah grogi.
Saat sesi praktik dimulai, ekspresi warga beragam dan itu menghibur. Ada yang pegang APAR sambil senyum dulu, ada yang nanya pelan, ada juga yang baru sadar, “Oh, ternyata nariknya ke sini.”
Bahkan, begitu api berhasil dipadamkan, ekspresinya langsung berubah. Bukan cuma lega, tapi bangga. Kayak habis menaklukkan level baru dalam hidup.
VP K3 PT Pusri Palembang, Eko Yunianto, menyampaikan keselamatan dan kesehatan kerja adalah tanggung jawab bersama. Kalau diterjemahkan ke bahasa santai, maksudnya begini, jangan berharap jadi penonton kalau kejadian darurat datang. Soalnya sebelum bantuan tiba, yang pertama harus siap ya orang-orang di sekitar.
Yang bikin kegiatan ini terasa ringan adalah caranya. Tidak menegangkan, tidak bikin takut. Semua dilakukan aman dan terukur. Warga diajak belajar sambil tertawa kecil. Salah sedikit, ketawa. Coba lagi. Api padam, tepuk tangan. Ternyata belajar soal kebakaran tidak harus bikin jantung copot.
Yang lebih seru, suasana kebersamaannya terasa banget. Tim K3 Pusri dan warga tidak ada jarak. Ngobrol, bercanda, saling menyemangati. Edukasi berjalan, tapi rasanya seperti latihan bareng. Ilmunya masuk tanpa terasa digurui.
Efeknya tidak berhenti di lapangan. Ilmu seperti ini biasanya punya kebiasaan jalan-jalan. Sampai rumah, cerita ke keluarga. Ketemu tetangga, cerita lagi. Masuk grup media sosial seperti WhatsApp, jadi bahan obrolan. Dari satu orang paham, satu rumah lebih siap. Dari satu rumah siap, satu lingkungan jadi lebih tenang.
Industri besar
Bulan K3 Nasional lewat kegiatan ini terasa lebih hidup. Tidak melulu soal slogan, tapi pengalaman. Tentang bagaimana industri besar mau turun langsung mengajarkan hal kecil yang dampaknya besar. Tentang bagaimana api yang biasanya bikin panik, bisa dihadapi dengan lebih tenang asal tahu caranya.
Jadi kegiatan ini sederhana tapi sangat penting, karena api itu tidak perlu ditakuti berlebihan, tapi juga tidak boleh diremehkan. Dengan pengetahuan dasar dan latihan sederhana, warga bisa lebih siap menghadapi situasi darurat. Tidak panik, tidak bingung, tidak cuma berdiri sambil teriak.
Harapannya, setelah Safety Goes to Society ini, warga sekitar Pusri punya satu bekal penting dengan frase kunci utamanya yaitu rasa siap. Siap menghadapi api kecil, siap bertindak dengan benar, dan siap menjaga lingkungan tetap aman.
Karena keselamatan itu bukan soal siapa paling kuat, tapi siapa paling tahu harus berbuat apa.
Dan kalau api yang biasanya bikin jantung berdebar, akhirnya bisa dijinakkan dengan senyum dan pengetahuan, urusan keselamatan sehari-hari pun rasanya jadi jauh lebih bersahabat. (***)