Sumselterkini.co.id, – Di Asrama Haji Pondok Gede, suasana penuh antusiasme mewarnai Bimbingan Teknis Terintegrasi Tenaga Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Namun, tiba-tiba, ada pengumuman yang membuat para calon jemaah haji berhenti sejenak dari obrolan mereka yang seru. Ini bukan soal keberangkatan yang mundur, atau harga kabin yang tiba-tiba naik, tapi soal vaksinasi baru yang harus mereka lakukan.
“Assalamualaikum, Pak Budi… Sudah vaksin polio belum?”
“Polio? Saya pikir itu penyakit anak-anak. Saya udah uzur gini masih kena juga?”
“Nah lho, justru karena belum vaksin, bisa aja ke Saudi-nya ditunda. Mau?”
Begitulah kira-kira percakapannya saat Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Pak Liliek Marhaendro Susilo, mengumumkan aturan baru. Mulai musim haji 2025 ini, selain vaksin meningitis yang udah jadi langganan suntikan jemaah sejak zaman unta belum kenal jetlag, kini ditambah satu lagi vaksin polio di Asrama Haji Pondok Gede, kemarin.
Liliek Marhaendro Susilo pun, berdiri dengan serius, tapi tetap dengan senyum ramah. “Jadi, tahun ini ada syarat baru, selain vaksin meningitis yang wajib, mulai tahun ini kita juga wajib vaksin polio!” katanya.
“Polio? Itu penyakit apa, Bu?” tanya Pak Budi, sambil melirik kertas panduan haji yang ia pegang. “Gue sih sehat-sehat aja, nggak butuh lah, masa gitu.”
Liliek tersenyum sambil menjelaskan, “Polio itu penyakit yang bisa bikin kamu lumpuh, Pak. Bisa menyerang siapa saja, tanpa gejala yang jelas. Kalau kena, bisa langsung ganggu sistem saraf dan akibatnya fatal, bahkan sampai kematian. Itu virus nggak keliatan, lho! Kayak ninja yang datang diam-diam tanpa bunyi!”
“Ah, jadi polio itu kayak maling malam yang nyerang rumah tanpa permisi, gitu ya?” kata Pak Budi, mulai paham.
“Betul sekali! Nah, biar nggak kena maling virus polio ini, kita butuh vaksin,” jawab Liliek. “Sama seperti negara-negara lain yang juga harus memenuhi syarat vaksin polio buat jemaah haji mereka, terutama negara-negara yang punya riwayat kasus polio.”
Pak Budi berpikir sejenak, “Berarti, kalau negara lain bisa, kita juga bisa, dong?”
Seperti contoh negara, seperti India dan Afghanistan yang sebelumnya sempat memiliki kasus polio, sekarang sudah diwajibkan untuk memberikan vaksin polio kepada jemaah haji mereka. Ini bagian dari upaya global untuk menghindari penyebaran polio ke negara lain. India, misalnya, meski pernah memiliki banyak kasus polio, kini sudah bebas dari polio berkat program vaksinasi yang ketat, termasuk untuk jemaah haji mereka.
Begitu pula Afghanistan, yang meski masih punya tantangan besar, mereka juga mengikuti aturan vaksinasi polio untuk jemaah haji mereka demi mencegah penyebaran virus.
Pak Hadi yang mendengarkan, ikut menimpali. “Jadi, kalau kita nggak vaksin, bisa jadi kayak negara yang belum bebas polio dan malah nularin penyakit ke yang lain?”
“Yup, betul! Vaksinasi ini bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain. Kalau kita nggak vaksin, bisa jadi kita malah jadi sumber masalah, kayak virus yang tanpa izin menyerang.”
“Wah, jadi, kita harus vaksin juga ya biar nggak ketularan polio?!” ujar Bu Rini dengan semangat.
“Betul, Bu! Kita nggak mau jadi ‘jemaah yang tertunda keberangkatannya’ cuma gara-gara lupa vaksin. Vaksin polio ini mudah banget, cuma satu dosis, dan bisa diberikan bersamaan dengan vaksin meningitis atau influenza. Jadi, nggak ribet!”
Semua jemaah pun mulai menyadari pentingnya vaksinasi polio. Mereka mulai melihat bahwa dengan vaksin ini, mereka bisa terhindar dari bahaya yang nggak kelihatan, dan bisa melaksanakan ibadah haji dengan tenang.
Pak Budi yang tadi sempat ragu, kini mengangguk sambil tertawa. “Kayaknya gue juga harus vaksin, nih. Jangan sampai jadi jemaah yang malah nambahin beban gara-gara polio!”
Liliek tersenyum lebar. “Betul, Pak! Lebih baik vaksin dulu, biar nggak nyesel nanti! Seperti yang dilakukan negara-negara lain yang sudah berhasil mengurangi polio dengan vaksinasi. Kita pun bisa kok, kalau kita mulai dari diri sendiri.”
Akhirnya, semua jemaah setuju untuk melakukan vaksinasi polio, bahkan dengan semangat lebih tinggi daripada saat mereka mengatur barang-barang di koper. “Vaksin polio? Siap! Kalau perlu, packing vaksin juga, deh!” Pak Budi berkelakar, disambut tawa riuh.
Dan begitulah, perjalanan menuju ibadah haji pun semakin ringan. Seperti negara-negara yang berhasil mengatasi polio dengan vaksinasi, jemaah haji Indonesia pun siap untuk berangkat dengan perlindungan penuh, tanpa takut ada ‘maling virus’ yang mengganggu. Vaksin dulu, baru berangkat!.
Jadi vaksinasi polio kini bukan sekadar formalitas atau “tambahan-tambahan” di daftar persiapan haji. Ia sudah naik kasta menjadi syarat wajib demi keamanan dan kelancaran ibadah. Arab Saudi nggak main-main negara mana pun yang pernah kena kasus polio dalam setahun terakhir (termasuk Indonesia), wajib kirim jemaah yang sudah divaksin.
India dan Afghanistan sudah duluan kasih contoh. Meski mereka juga negara padat jemaah dan padat masalah, urusan vaksin tetap jadi prioritas. Jadi kalau mereka bisa disiplin, masa kita enggak?.[***]