Keselamatan Pasien Bukan Hanya Soal Obat, Ini Titik Rawan di Tiap Alur
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Keselamatan pasien sering kali baru dibicarakan ketika terjadi kesalahan dalam pelayanan kesehatan. Padahal, risikonya bisa muncul jauh sebelum obat diberikan dan belum tentu berakhir ketika pasien meninggalkan rumah sakit.
Apalagi perjalanan seorang pasien dengan penyakit tidak menular (PTM). Ia mungkin memulai dari pemeriksaan kesehatan, menjalani diagnosis, menerima obat, dirujuk ke fasilitas kesehatan lain, menjalani perawatan, kemudian pulang dan melanjutkan pengobatan di rumah.
Di sepanjang perjalanan itu, keselamatan pasien harus tetap dijaga.
Sebab, pengobatan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga kanker umumnya bukan perjalanan singkat. Pasien dapat berulang kali berpindah layanan dan menjalani pengobatan dalam waktu panjang.
Di situlah muncul sejumlah titik rawan yang sering tidak terlihat oleh pasien maupun keluarga.
1. Keselamatan pasien dimulai sebelum pengobatan
Keselamatan pasien bukan hanya urusan ketika seseorang sudah berada di ruang perawatan. Pencegahan dan deteksi dini juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Semakin cepat kondisi kesehatan diketahui, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Pada tahap ini, informasi mengenai kondisi pasien menjadi penting. Riwayat penyakit, keluhan, hasil pemeriksaan, hingga faktor risiko perlu diketahui secara tepat agar tahapan berikutnya tidak dibangun di atas informasi yang keliru atau tidak lengkap.
2. Diagnosis menjadi salah satu titik paling krusial
Setelah pemeriksaan, pasien masuk ke tahap diagnosis. Di sinilah perjalanan pengobatan bisa berubah arah. Keterlambatan diagnosis atau kesalahan diagnosis dapat membuat pasien tidak segera mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Oleh sebab itu, keselamatan pasien tidak cukup hanya dilihat dari apakah penyakit akhirnya berhasil ditangani. Cara diagnosis dilakukan dan ketepatan informasi yang digunakan juga menjadi bagian penting dari pelayanan yang aman.
3. Obat bukan hanya soal “sudah diberikan”
Banyak orang mengira keselamatan pasien terutama berkaitan dengan obat. Padahal persoalannya jauh lebih luas.
Pasien perlu mendapatkan obat yang tepat dengan informasi penggunaan yang jelas. Riwayat pengobatan dan kondisi pasien juga perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat.
Termasuk pasien PTM yang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang, hal ini menjadi semakin penting. Pengobatan dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kesalahan kecil yang berulang dapat menjadi persoalan besar jika tidak segera dikenali.
4. Saat pasien berpindah layanan, informasi jangan ikut “hilang”
Hal ini tentu merupakan salah satu bagian penting dalam perjalanan keselamatan pasien. Pasien PTM tidak selalu ditangani di satu tempat. Mereka bisa berpindah dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke rumah sakit, kemudian ke dokter spesialis atau layanan rehabilitasi.
Masalahnya, perpindahan pasien juga berarti perpindahan informasi. Jika riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, alergi, maupun obat yang sedang digunakan tidak tersampaikan dengan baik, risiko kesalahan pelayanan dapat meningkat.
Kementerian Kesehatan karena itu terus mendorong pemanfaatan teknologi digital. Platform SATUSEHAT antara lain digunakan untuk membantu mendokumentasikan riwayat penyakit, hasil pemeriksaan laboratorium, dan pengobatan, sehingga informasi kesehatan dapat tersedia secara lebih berkesinambungan ketika pasien berpindah layanan.
5. Pasien jatuh, salah identitas, hingga komunikasi juga masuk dalam keselamatan pasien
Keselamatan pasien ternyata tidak selalu berkaitan langsung dengan penyakit yang sedang diderita. Ada risiko lain yang bisa muncul selama pelayanan, seperti pasien jatuh, kesalahan identifikasi pasien, hingga masalah komunikasi dalam proses perawatan.
Artinya, pelayanan yang aman membutuhkan sistem yang bekerja di banyak sisi sekaligus. Bukan hanya dokter yang menentukan apakah pasien aman. Perawat, tenaga kesehatan lain, fasilitas pelayanan kesehatan, sistem informasi, pasien, dan keluarga semuanya memiliki peran.
6. Pasien pulang bukan berarti perjalanan selesai
Ada satu bagian yang kerap dianggap sebagai akhir pengobatan: pasien meninggalkan rumah sakit.
Padahal bagi pasien PTM, pulang justru bisa menjadi awal dari fase perawatan berikutnya. Di rumah, pasien harus melanjutkan obat, menjalani kontrol, memperhatikan kondisi tubuh, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, dan mengetahui kapan harus kembali mencari pertolongan.
Keluarga juga memiliki peran penting. Mereka dapat membantu mengingatkan jadwal obat dan kontrol, memantau kondisi pasien, serta mengenali tanda bahaya yang membutuhkan perhatian medis. Instruksi setelah pasien pulang juga merupakan bagian dari keselamatan pasien.
7. Keselamatan pasien harus bertahan sepanjang perjalanan hidup
Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa keselamatan pasien harus hadir di setiap tahapan pelayanan, terutama pada penyakit tidak menular yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang.
“Keselamatan pasien harus hadir sepanjang perjalanan hidup pasien,” ujar Prof. Dante dalam peringatan World Patient Safety Day (WPSD) 2026 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Mahar Mardjono Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Menurut Dante, mutu dan keselamatan perlu dijaga mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, hingga rehabilitasi dan perawatan jangka panjang.
Dengan kata lain, keselamatan pasien bukan satu titik.
Ia adalah sebuah alur.
Pasien masuk dengan keluhan, menjalani pemeriksaan, mendapatkan diagnosis, menerima pengobatan, mungkin berpindah fasilitas kesehatan, lalu pulang untuk melanjutkan perawatan. Pada setiap perpindahan itu terdapat titik yang harus dijaga.
Pasien dan keluarga bukan sekadar penerima layanan
Menjaga keselamatan pasien juga tidak hanya menjadi tugas fasilitas kesehatan. Pasien perlu memahami kondisi kesehatannya, mengetahui pilihan terapi yang tersedia, berani bertanya ketika ada sesuatu yang belum jelas, menyampaikan kekhawatiran, mengenali tanda bahaya, dan ikut terlibat dalam keputusan terkait pelayanan kesehatannya.
Keluarga pun memiliki peran yang tidak kalah penting, terutama dalam membantu kepatuhan pengobatan dan memantau kondisi pasien.
Deputy Head of WHO Indonesia, Tara Kessaram, menyebut keselamatan pasien sebagai fondasi pelayanan kesehatan berkualitas.
Secara global, sekitar satu dari 10 pasien mengalami bahaya atau cedera selama menerima pelayanan kesehatan. Sekitar setengah dari insiden tersebut dinilai dapat dicegah.
Keselamatan perlu dilindungi sepanjang continuum of care, mulai dari pencegahan, diagnosis, pengobatan dan manajemen obat, rujukan, perpindahan perawatan, pemantauan jangka panjang, hingga perawatan mandiri.
Rumah sakit terakreditasi, sistem digital diperkuat
Sementara sisi sistem, Kemenkes terus mendorong penerapan standar pelayanan dan akreditasi fasilitas kesehatan.
Saat ini, lebih dari 96 persen rumah sakit telah terakreditasi oleh lembaga penyelenggara akreditasi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Penguatan juga dilakukan melalui digitalisasi layanan kesehatan. Dokumentasi informasi kesehatan yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi risiko kesalahan akibat informasi yang tidak lengkap ketika pasien berpindah layanan.
Namun, sistem tetap membutuhkan keterlibatan manusia. Pasien yang aktif bertanya, keluarga yang memahami perawatan, dan tenaga kesehatan yang berkomunikasi dengan baik menjadi bagian dari rantai keselamatan yang sama.
Jangan menunggu kesalahan terjadi
Peringatan World Patient Safety Day 2026 di Indonesia menjadi momentum untuk memperkuat budaya keselamatan pasien melalui edukasi, peningkatan kesadaran, pembelajaran, dan inovasi.
Rangkaian kegiatan Kemenkes sepanjang September 2026 antara lain mencakup kompetisi inovasi keselamatan pasien yang diikuti 192 peserta dari seluruh Indonesia, edukasi dan pemeriksaan kesehatan masyarakat, podcast keselamatan pasien, serta seminar bertema “Stroke Patient Safety Journey” bersama RS PON Mahar Mardjono Jakarta.
Pada akhirnya, keselamatan pasien bukan hanya tentang apa yang terjadi di ruang dokter atau ruang rawat.
Keselamatan pasien adalah perjalanan panjang—dari mencegah penyakit, menemukan diagnosis, memilih pengobatan, berpindah layanan, sampai pasien kembali menjalani hidupnya di rumah. Dan di setiap tahap itu, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan sudahkah pasien mendapatkan pelayanan dengan aman? (***) /diolah dari sumber resmi kemkes.
- Penulis: Irwan Wahyudi
