Pintu itu sekarang mulai ditutup pelan-pelan.
PLATFORM digital, seperti X dan Bigo Live mulai merapikan ‘gerbang masuknya’
Yang dulu longgar, sekarang dijaga.
Misalnya X menetapkan usia minimal 16 tahun, sementara Bigo Live langsung tegas di angka 18+.
Kalau ini warung kopi, mungkin sudah ada tulisan “yang belum cukup umur, jangan nongkrong di sini.”
Tapi, masalahnya, ini bukan warung, ini dunia digital yang pintunya banyak, bahkan kadang tanpa penjaga.
Dan seperti biasa, anak-anak selalu punya cara sendiri.
Selama ini, mereka sudah terlanjur nyaman. Scroll, komen, live, ketawa, kadang galau semuanya terjadi di satu layar.
Ketika tiba-tiba ada batas umur, yang terjadi bukan “ya sudah berhenti”, tapi lebih ke “ya sudah, cari tempat lain.”
Ibarat dilarang main di halaman depan, mereka pindah ke halaman samping.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap ada aturan, selalu ada akal-akalan.
Mulai dari umur yang “tiba-tiba lebih tua” saat daftar akun, sampai pakai akun punya kakak, sepupu, bahkan orang tua.
Coba tanya anak SMP hari ini, hampir pasti mereka sudah punya akun, bahkan lebih dari satu.
Memang perlu diakui dunia digital itu unik sebab identitas bisa diatur, umur bisa disesuaikan, dan batas kadang terasa seperti formalitas.
Di sinilah letak dilemanya.
Pemerintah sebenarnya tidak salah, lewat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, mereka ingin memastikan ruang digital jadi lebih aman untuk anak.
Niatnya jelas guna melindungi, bukan membatasi tanpa alasan.
Tapi seperti pagar di lapangan luas, seberapa tinggi pun dibuat, tetap saja ada yang mencoba melompati.
Platform seperti X dan Bigo Live juga tidak tinggal diam.
Mereka mulai memperketat sistem, memasang filter, bahkan menggabungkan kecerdasan buatan dengan pengawasan manusia.
Secara teknis, semuanya terlihat meyakinkan.
Tapi di lapangan, ceritanya sering berbeda.
Anak-anak hari ini bukan generasi yang gagap teknologi. Mereka justru lahir di dalamnya.
Mereka tahu cara membuat akun baru lebih cepat dari orang dewasa memahami aturan baru.
Mereka juga tahu, satu akun hilang bukan berarti permainan selesai.
Masalah klasiknya tetap sama yaitu verifikasi usia.
Peran ortu
Selama sistem masih bertanya “tanggal lahir kamu berapa?” tanpa benar-benar bisa memastikan, selama itu pula celah akan tetap ada.
Dan selama celah itu terbuka, aturan akan terus diuji.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan platform.
Mereka bisa membuat sistem, tapi tidak bisa mengawasi setiap layar di rumah.
Oleh sebab itu peran orang tua sering jadi “fitur tambahan” yang justru paling menentukan meski sering tidak disadari.
Kadang, yang lebih tahu aplikasi apa yang dipakai anak bukan orang tua, tapi teman sebayanya.
Meutya Hafid kemarin menegaskan pemerintah tidak akan memberi ruang kompromi bagi platform digital.
Semua wajib patuh pada aturan perlindungan anak, dan pengawasan akan terus dilakukan agar komitmen itu benar-benar dijalankan, bukan sekadar tulisan di atas kertas.
Di satu sisi, ini langkah maju. Ada batas, ada aturan, ada upaya melindungi.
Tapi di sisi lain, dunia digital bukan ruang dengan satu pintu.
Jadi ketika pintu utama mulai dijaga ketat, jangan kaget kalau lorong-lorong kecil justru jadi ramai.
Pada akhirnya, ini bukan cuma soal siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak.
Pasalnya, ini soal bagaimana kita memahami kebiasaan baru yang sudah terlanjur tumbuh.
Karena membatasi akses itu mungkin.
Tapi membatasi rasa ingin tahu anak-anak? Nah, itu cerita lain. (***)