BANK Sumsel Babel mencatat laba bersih Rp504,9 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, Rp302,9 miliar atau 60 persen dibayarkan sebagai dividen kepada pemegang saham.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Palembang pada 12 Februari 2026 lalu menyetujui pembagian laba tersebut. Laba tahun ini meningkat dari Rp475,8 miliar pada 2024, meski industri perbankan domestik menghadapi tekanan biaya dana dan persaingan likuiditas yang ketat.
Mayoritas saham bank dimiliki pemerintah daerah di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Dividen ini akan dicatat sebagai pendapatan daerah pada tahun anggaran 2026.
Pertumbuhan ekonomi regional di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung pada 2025 relatif stabil, mendukung permintaan kredit di sektor usaha kecil dan menengah. Hal ini memungkinkan bank tetap membagikan sebagian besar laba tanpa mengurangi cadangan modal.
Bank Sumsel Babel mencatat rasio kecukupan modal (KPMM) 23,68 persen pada akhir tahun. Rasio kredit bermasalah (NPL) net tercatat 0,72 persen, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 84,32 persen.
Net Interest Margin (NIM) tercatat 6,38 persen, dan Return on Equity (ROE) 10,55 persen. Sekitar 40 persen laba ditahan untuk mendukung ekspansi kredit pada 2026 dan memperkuat struktur permodalan.
PT Pemeringkat Efek Indonesia mempertahankan peringkat idA+ dengan prospek stabil hingga Oktober 2026. Peringkat ini menunjukkan kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka panjang dengan risiko terkendali.
Sepanjang 2025, bank menjalankan program pasar murah dan rehabilitasi rumah tidak layak huni di wilayah operasionalnya. Kegiatan tersebut dicatat sebagai bagian dari operasional bank, tanpa evaluasi efek atau opini.
Dengan pembagian dividen 60 persen dan retensi laba 40 persen, Bank Sumsel Babel memasuki 2026 dengan struktur keuangan yang terukur, sambil mempertahankan kapasitas penyaluran kredit dan pengelolaan risiko.(***)