Perbankan & Keuangan

BI Gelontorkan Rp185,6 T Sambut Ramadan 2026

foto : BI/Ilustrasi

Sumselterkini.co.id, – Bank Indonesia menyiapkan Rp185,6 triliun uang tunai untuk mengantisipasi lonjakan transaksi selama Ramadan dan Idulfitri 2026.

Bank sentral meningkatkan pasokan kas karena konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat, dan aktivitas ritel diperkirakan menguat pada kuartal pertama tahun ini.

Dari total tersebut, Rp177 triliun dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan perbankan nasional, termasuk pengisian ATM dan layanan kantor cabang. Ramadan dan Idulfitri secara historis menjadi periode dengan peredaran uang tertinggi dalam setahun, dipicu pembayaran tunjangan hari raya, belanja musiman, serta tradisi berbagi uang baru.

Tahun lalu, permintaan tunai tercatat naik lebih dari 10 persen dibanding periode serupa, dan tren tersebut diperkirakan berlanjut pada 2026.

Bank sentral memperkirakan permintaan uang tunai tahun ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan itu sejalan dengan proyeksi penguatan ekonomi domestik pada awal 2026, terutama dari sisi konsumsi. Aktivitas perdagangan, transportasi, dan layanan keuangan diperkirakan meningkat tajam, menuntut distribusi kas yang cepat dan efisien.

Untuk menjaga distribusi tetap merata, BI membuka 2.883 titik penukaran dengan total 8.755 layanan di seluruh Indonesia.

Layanan tersedia melalui kas keliling, kantor bank umum, dan titik penukaran terpadu di lokasi strategis.

Di Jakarta, layanan terpadu akan dipusatkan pada 12-15 Maret 2026 di GBK Basketball Hall, Senayan, sehingga masyarakat dapat menukar uang baru dalam satu lokasi dengan pengaturan antrean yang lebih tertib.

BI juga menyiapkan Rp8,6 triliun khusus untuk penukaran uang baru dengan batas maksimal Rp5,3 juta per orang.

Pemesanan dilakukan melalui aplikasi PINTAR untuk mengatur jadwal dan lokasi penukaran serta menghindari antrean panjang. Kuota dibuka dalam dua tahap: tahap pertama untuk wilayah Jawa dimulai 13 Februari 2026 pukul 14.00 WIB, sementara luar Jawa pada 14 Februari pukul 08.00 WIB.

Tahap kedua dibuka 26 Februari untuk Jawa dan 27 Februari untuk luar Jawa. Skema ini dirancang untuk memastikan distribusi merata dan menekan potensi penumpukan pemesanan.

Di saat yang sama, bank sentral tetap mendorong penggunaan pembayaran digital.

Transfer melalui BI-FAST, QRIS, serta layanan mobile dan internet banking diposisikan sebagai alternatif cepat, murah, dan aman.

Strategi ini menjaga kelancaran sistem pembayaran tanpa sepenuhnya bergantung pada uang tunai, sekaligus mendorong masyarakat beradaptasi dengan transaksi digital.

Peningkatan likuiditas juga bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Lonjakan permintaan uang tunai tanpa antisipasi dapat menekan distribusi kas di daerah, khususnya wilayah terpencil.

Dengan alokasi yang lebih besar dan koordinasi bersama perbankan, risiko tersebut ditekan sejak awal. Layanan yang merata di seluruh Indonesia juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap ketersediaan rupiah.

Bank sentral mengingatkan masyarakat untuk memastikan keaslian rupiah melalui metode 3D dilihat, diraba, dan diterawang  serta menjaga kualitas fisik uang dengan prinsip 5J agar tetap layak edar.

Edukasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik terhadap mata uang nasional sekaligus mencegah peredaran uang palsu.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, dalam keterangan resmi yang dipublikasikan dilaman resmi Bank Indonesia, menyatakan peningkatan pasokan tunai tahun ini sejalan dengan proyeksi aktivitas ekonomi yang menguat selama Ramadan dan Idulfitri.

Ia menekankan kombinasi distribusi kas yang memadai dan akselerasi transaksi digital diharapkan mampu menjaga kelancaran sistem pembayaran sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional 2026. (***)

To Top