Industri Kreatif & UKM

Naik Kelas Jangan Berhenti di Meja Izin, Bro!

ist

FESTIVAL kemudahan dan Perlindungan Usaha Mikro di Palembang kemarin itu rasanya kayak hajatan kampung ketemu kondangan selebriti. Spanduk besar kayak mau ambil Instagram award, lampu menyala terang, pejabat lengkap, UMKM antre panjang kayak mau bagi-bagi ketupat. Foto rame, tepuk tangan gausah ditanya, mantap bro…pasalnya bergemuruh sampai tetangga yang di seberang jalan ikut kepo.

Namun, seperti pesta pada umumnya, setelah kursi dilipat, lampu dipadamkan, tinggal pertanyaan tersisa di kepala pelaku UMKM “Besok jualan ke siapa, nih?” mikir!!

Gubernur Herman Deru pesan jelas patut diacungi jempol, karena tegas, lugas, kayak tukang sate yang bilang “Bumbunya pas, jangan kurang!” Legalitas disebut sebagai pondasi. Negara hadir lewat kemudahan NIB, sertifikat halal, PIRT, HaKI sampai SNI. PTSP diminta bikin jalur khusus kayak jalur VIP tapi buat kemplang dan kerupuk.

Nah, sebenarnya secara konsep, program itu mantap, apalagi bisa dibilang langkah maju Pemprov. Sumsel, pemerintah bergerak. tapi, bro… masalah UMKM itu, sejak dulu, bukan cuma urusan kertas dan stempel. Ibaratnya, dapur ngebul tapi belum tentu nasi sampai ke meja makan.

Misanya kita ambil contoh sederhana,  seorang ibu pembuat kemplang rumahan, selama ini jualan ke warung depan rumah. Dapurnya panas, anaknya senyum, tapi omzetnya standar.

Setelah ikut festival, pulang bawa NIB, halal, PIRT, HaKI, Senang?  yang jelas siapa pun pasti bangga, ya.. jelas dong!, namun begitu euforia reda, pertanyaan klasik muncul lagi “terus aku jual ke siapa? marketplace gimana? reseller mana?” Nah, ini bukan salah ibu itu. Ini soal ekosistem yang belum lengkap, panggungnya mewah, tapi jalan menuju pasar masih kayak jalan tikus di sawah.

Di sinilah pentingnya istilah hulu dan hilir. Hulu itu awal izin, sertifikasi, pendataan. Nah, di bagian ini pemerintah udah kerja keras, bikin UMKM sah di atas kertas. Tapi hilir… oh hilir. Itu tempat duit bener-bener ada, tempat produk ketemu pembeli, tempat omzet ngebul, di sini banyak UMKM masih jalan sendiri, kayak naik sepeda tanpa rantai.

Oleh sebab itu, keseimbangan hulu-hilir kunci legalitas tanpa pasar, itu kayak bikin rumah tapi lupa bikin pintu, cantik di luar, tapi siapa yang masuk?.

Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2024 bilang, usaha mikro itu paling rentan, pertumbuhan kredit lambat, pemasaran masih jadi tantangan. Jadi jangan cuma senyum-senyum di panggung, bro, tapi cek dapur omzetnya naik apa nggak.

Makanya, naik kelas itu jangan disalahartikan, bukan cuma naik status, bukan cuma pasang sertifikat di dinding, naik kelas itu naik omzet, naik keberlanjutan, naik percaya diri. UMKM baru bisa naik kelas kalau penjualan stabil, pembeli bertambah, dan usahanya nggak cuma hidup di festival doang.

Solusinya? enggak ribet, cuma butuh konsistensi. Pendampingan pemasaran harus berkelanjutan, nggak cukup satu hari seminar plus foto bareng.

UMKM perlu ditemani sampai bisa, foto produk kece, tentuin harga masuk akal, masuk marketplace, cari reseller, paham untung-rugi. Ibarat belajar naik motor nggak cukup baca buku, harus coba gas, rem, jatuh sedikit baru bisa lihai.

Tak sekadar loket izin

PTSP juga harus lebih dari sekadar loket izin, jadikan dia posko penyelamat UMKM. Tempat bertanya tanpa takut dimarahin. Kalau perlu, ada sesi curhat bisnis sambil ngopi. Mental pelayanan harus berubah, jangan cuma meja baru tapi mental kayak wartel tahun 90-an “Silakan tunggu, berkas kurang satu!”

Oleh sebab itu, Pemerintah daerah pun bisa ambil peran di hilir, contohnya gampang belanja pemerintah, event resmi, kegiatan BUMD bisa wajibkan beli produk UMKM lokal. Jadi, legalitas yang diurus nggak cuma jadi pajangan, tapi benar-benar ada efeknya ke dapur rakyat.

Sehingga ke depannya  UMKM itu bukan angka di laporan atau properti panggung seremonial, pasalnya mereka manusia nyata, dengan dapur, cicilan, anak sekolah, dan harapan.

Kalau negara serius bantu, jangan cuma kasih payung, tapi ajari cara jalan di tengah hujan. Jangan cuma bikin festival seru, tapi pulang UMKM tetap bingung besok jualan ke siapa.

Jadi, festival UMKM di Palembang itu langkah baik, tapi jangan berhenti di panggung. Kalau pemerintah ingin UMKM benar-benar naik kelas, perhatian harus sampai ujung, legalitas sampai omzet, sertifikat sampai pasar.

Biar kata pepatah Sumsel bilang “Lampu terang tak cukup, kalau dapur tetap gelap”

Percayalah, program yang berhasil itu bukan yang paling rame acaranya, tapi yang bikin UMKM bisa ketawa senyum sambil dapur ngebul terus, anak-anak bisa sekolah dengan tenang fan fokus belajar. [***]

Terpopuler

To Top